Kekristenan telah menjadi agama terbesar di Irlandia sejak abad ke-5. Setelah masa lalu pagan di Zaman Kuno, para misionaris (yang paling terkenal termasuk Santo Patrick) mengubah suku-suku Irlandia menjadi Kristen dengan cepat. Hal ini menghasilkan sejumlah besar orang suci di Awal Abad Pertengahan, serta keyakinan yang terjalin dengan identitas Irlandia selama berabad-abad sejak saat itu − meskipun tidak begitu pada masa sekarang.
Sebagian besar gereja Kristen di Irlandia terorganisasi secara "seluruh-Irlandia", mencakup baik Republik Irlandia maupun Irlandia Utara. Dalam sensus tahun 2022, 76,1% penduduk Republik Irlandia mengidentifikasi diri sebagai penganut Kristen: 69,1% sebagai penganut Katolik, 4,2% sebagai penganut Protestan, 2,1% sebagai penganut Kristen Ortodoks, dan 0,7% sebagai penganut Kristen lainnya.[1] Dalam sensus Irlandia Utara tahun 2021, 79,7% penduduk mengidentifikasi diri sebagai penganut Kristen: 42,3% sebagai penganut Katolik, 16,6% sebagai penganut Presbiterian, 11,5% sebagai anggota Gereja Irlandia, 2,4% sebagai penganut Metodis, dan 6,9% sebagai penganut Kristen lainnya.[2] Ortodoksi menjadi cabang agama Kristen yang paling cepat berkembang di Irlandia sejak tahun 1991.[3][4][5]
Selama berabad-abad, Irlandia dikenal sebagai negara dengan iman Kristen yang sangat kuat. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi sebuah "Revolusi Sunyi" yang menyebabkan meningkatnya sekularitas dalam berbagai aspek masyarakat Irlandia.[6] Misalnya, amendemen konstitusi Irlandia tahun 1972 menghapuskan "posisi istimewa" Gereja Katolik sebagai "penjaga Iman" serta pengakuan terhadap denominasi-denominasi agama lainnya yang disebutkan dalam konstitusi.[7] Namun, pada tahun 1983, aborsi dilarang melalui Amendemen Kedelapan konstitusi Irlandia, yang mengakui hak hidup janin setara dengan hak hidup sang ibu, dan didukung oleh perwakilan Gereja Katolik.[8][9] Baru pada tahun 2018 diadakan referendum untuk mencabut Amendemen Kedelapan tersebut, dan pencabutan ini menandai titik penting dalam proses sekularisasi konstitusi yang dimungkinkan oleh meningkatnya sekularisasi di kalangan rakyat.[10][11] Saat ini, sebagian besar umat Kristen di Irlandia dianggap hanya secara nominal, karena alasan yang bervariasi dari budaya hingga sikap apatis. Katolik mengalami penurunan di Republik Irlandia.[12]