Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda PORDASI (biasanya disingkat Kejurnas Series) adalah kejuaraan pacuan kuda tingkat nasional yang rutin digelar tiap tahun di Indonesia. Kejurnas ini dimulai sejak 1966 dan sudah berjalan sebanyak 60 musim. Kejurnas ini dibagi menjadi dua seri utama. Seri pertama diselenggarakan pada akhir Juli atau awal Agustus dengan fokus pacuan untuk kelompok usia, dan seri kedua pada akhir September atau awal Oktober dengan fokus untuk kelompok ketinggian. Setiap peserta mewakili kontingen provinsi. Kontingen yang paling banyak mendapatkan poin di kedua seri berhak meraih "Piala Presiden".
Seluruh rangkaian Kejurnas berada di bawah naungan Komisi Pacuan PORDASI (Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia) bersama dengan Sarga.co.
Sejarah
Pada 12–13 November 1966, Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda pertama diselenggarakan di Bogor.[1] Dalam kesempatan ini, diumumkan pula bahwa pemerintah secara resmi mengakui PORDASI sebagai satu-satunya induk organisasi olahraga berkuda di Indonesia melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Olahraga tertanggal 28 Oktober 1966. Soeharto, yang kelak menjadi presiden RI, bersedia untuk menjadi Pelindung PORDASI dan namanya diabadikan pada piala bergilir kejuaraan nasional. Kuda bernama Diana, milik Soeharto, menjadi pemenang pertama yang meraih "Piala Soeharto". Kejuaraan ini juga dimeriahkan dengan demonstrasi lompat rintangan, sebuah disiplin yang baru pertama kali ditampilkan di Indonesia. Pada 1971, pemerintah dengan bantuan Australia, mendirikan sebuah fasilitas pacuan bernama Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas yang kelak menjadi lokasi rutin diselenggarakannya seri Kejurnas pertama hingga tahun 2015.[2]
Setelah jatuhnya Orde Baru, nama piala bergilir untuk Kejurnas ini diubah menjadi "Piala Bhayangkara,"[3] kemudian berganti nama lagi menjadi "Piala Presiden."[4]
Format
Dalam satu tahun, Komisi Pacuan PORDASI menyelenggarakan dua seri Kejurnas yang terdiri dari berbagai perlombaan. Seri pertama biasanya diadakan pada akhir bulan Juli atau awal Agustus (pengecualian untuk musim tahun 1998 yang dimundurkan hingga bulan Desember) dengan fokus pertandingan untuk kelompok usia. Di seri pertama, pacuan utama yang dipertandingkan ialah Indonesia Derby (2000 m), pacuan klasik untuk kuda berusia tiga tahun.[4] Untuk seri kedua, biasanya diadakan pada akhir bulan September atau awal Oktober dengan fokus pertandingan untuk kelompok ketinggian (kelas A–F). Pada seri kedua, pacuan utama yang dipertandingkan adalah Star of Stars (2200 m, jarak panjang) dan Super Sprint (1300 m, jarak pendek).[5] Seminggu sebelum Kejurnas, akan diadakan pacuan kualifikasi, kuda yang lolos berhak untuk mengikuti final Kejurnas. Bagi yang tidak, akan dilombakan di kelas non-finalis, dengan hadiah yang lebih kecil.
Kejurnas menggunakan sistem handicap yang diberikan kepada setiap kuda bergantung pada usia, jenis kelamin, dan tinggi badannya dalam kelompok tinggi badan. Sebagai regulasi umum, untuk setiap sentimeter di atas tinggi minimum kelas atau usia di atas 2 tahun, kuda diberi tambahan 0,5 kg pada berat badannya, hingga 2 kg untuk usia kuda.[5]
Untuk penentuan juara umum, Kejurnas menggunakan sistem poin. Kontingen yang meraih poin terbanyak akan keluar menjadi juara umum. Setiap kontingen mewakili provinsi sekaligus Pengurus Provinsi (Pengprov) PORDASI-nya masing-masing. Menurut regulasi, pemilik kuda beserta kudanya berhak mewakili suatu kontingen di Kejurnas jika ia sudah bergabung dengan kontingen minimal selama satu tahun.[4][5]
Pacuan
Untuk kuda ras campuran dengan Thoroughbred, berdasarkan sistem pacu yang ditetapkan di Indonesia, akan dikelompokan berdasar tinggi badan. Pengelompokan tersebut ditandai dengan pemberian huruf F (pengelompokan terpendek di Kejurnas) hingga A (tertinggi). Jumlah kelas yang dilombakan umumnya berbeda tiap tahun, menyesuaikan dengan jumlah peserta. Beberapa kelas pacu dapat digabung oleh panitia jika tidak memenuhi minimum jumlah peserta (seperti kelas C dan D menjadi kelas C/D).