Burung ini memiliki panjang tubuh 15,4 cm dengan tiga warna di tubuhnya. Tiga warna tersebut yaitu bulu berwarna hitam, abu-abu, dan putih, dengan warna hitam pada wajah dan dagu, warna abu-abu pada tubuh bagian atas, serta warna putih pada tubuh bagian bawah termasuk ekor bagian bawah.[3]
Perilaku
Kehicap flores memiliki karakteristik unik yaitu mengeluarkan suara dengungan serta suara berupa siulan yang nadanya naik sangat tinggi pada ujung siulannya.[2] Kehicap flores memiliki kebiasaan untuk bersama burung opior jambul (Lophozosterops dohertyi) dan burung opior paruh tebal (Heleia crassirostris).[4]
Habitat dan sebaran
Habitat utama kehicap flores adalah Hutan Hujan Tropis Semi-hijau dan Hutan Monsun Lembap yang memiliki ketinggian sekitar 350 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Populasi burung ini lebih banyak ditemukan di habitat hutan yang belum terganggu oleh aktivitas manusia, hutan-hutan tersebut adalah hutan Mbeliling, Sano-Nggoang, dan Nggorang-Bowosie.[5] Terkait populasi kehicap flores, diperkirakan burung ini berjumlah 2.500 hingga 9.999 ekor, namun hasil perhitungan pada tahun 2002 menunjukkan bahwa burung ini sekarang hanya 1.855 hingga 6.559 ekor.[5] Tingginya resiko kepunahan kehicap flores membuat burung ini masuk pada daftar The IUCN Red List of Threatened Species sejak tahun 1994 sebagai spesies yang terancam punah.[5]
Berkurangnya populasi kehicap flores tidak disebabkan oleh perburuan ilegal atau perdagangan ilegal melainkan karena aktivitas manusia yang merusak hutan habitat burung ini. Menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN), penebangan hutan, pembakaran, dan kemarau adalah penyebab hutan-hutan tersebut rusak.[5]Perubahan iklim, polusi udara, dan pencemaran tanah juga memperparah kondisi hutan-hutan tersebut sehingga kehicap flores yang habitatnya hanya di Hutan Hujan Tropis Semi-hijau dan Hutan Monsun Lembap, tidak bisa berpindah habitat.[5]