Pada tanggal 31 Oktober 2016, sebuah pesawat angkut DHC-4 Caribou versi modifikasi yang dioperasikan oleh Alfa Indonesia jatuh di hutan Papua dalam penerbangan ke Ilaga, Indonesia. Penerbangan ini merupakan penerbangan kargo sewaan dengan empat awak. Tidak ada korban selamat.
Latar belakang
Infrastruktur masih menjadi persoalan besar di Indonesia Timur. Selama beberapa dasawarsa, pemerintah Indonesia memusatkan pembangunan di pulau Jawa dan Sumatra sehingga menciptakan kesenjangan infrastruktur antara wilayah barat dan timur. Harga bahan bakar di timur lebih mahal daripada di Jawa. Pemerintahan Joko Widodo kemudian mengalihkan fokus pembangunannya ke Indonesia timur, terutama Papua, dengan menambah frekuensi transportasi supaya bahan bakar bisa dinikmati di daerah-daerah terpencil di Papua. Pada tanggal 6 September, untuk menurunkan harga bahan bakar di Kabupaten Puncak, pemerintah menerbangkan DHC-4 Caribou ke sana.[1]
Pesawat
Pesawat yang jatuh adalah PEN Turbo DHC-4T Turbo Caribou, de Havilland Canada DHC-4 Caribou dengan mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PT6-67A. Pesawat ini dibuat tahun 1971 dan pertama kali terbang dalam bentuk modifikasi pada September 2014. Bulan Mei 2016, pesawat ini dikirim ke Indonesia dan dioperasikan bulan September.[2][3] Pesawat ini bernomor registrasi PK-SWW.[4] Pesawat ini dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah Kabupaten Puncak. Keempat awak pesawat adalah warga negara Indonesia.[5][6]
Hilang Kontak
Pesawat Caribou lepas landas dari Timika pukul 07:57 waktu setempat[7] dengan perkiraan waktu tiba pukul 08:22.[8][9] Pesawat mengangkut material konstruksi. Pukul 08:23, awak melakukan kontak radio pertama dengan bandara Ilaga dan melaporkan posisi mereka di Lembah Ilaga. Setelah melaporkan perkiraan waktu tiba di Ilaga, kontak dengan menara hilang pukul 08:27.[10][11]
Pada pukul 09:22, awak pesawat lain melaporkan ke Ilaga bahwa mereka menerima sinyal yang diduga berasal dari pemancar lokasi darurat milik pesawat yang hilang di dekat Jila.[12] TIm pencari dan penyelamat segera dibentuk oleh Basarnas. Kepolisian dan warga setempat juga turun tangan dalam operasi pencarian.[13][14][15] Namun, hujan lebat dan jarak pandang terbatas menghambat dan menunda operasi pencarian dan penyelamatan.[16][17] Tim SAR yang beranggotakan personel Angkatan Udara Indonesia, Basarnas, Angkatan Darat Indonesia, dan Kepolisian Nasional Indonesia beserta dua helikopter mendirikan tiga kamp utama.[18] Two fixed-wing aircraft were also deployed.[19]
Penemuan bangkai
Pada tanggal 1 November, bangkai terbakar ditemukan di pinggir Lembah Ilaga di ketinggian 12.800 kaki (3.900m)[20] di Distrik Jila,[21] kurang lebih 9 mil laut (17km; 10mi) dari Jila dan 6 mil laut (11km; 6,9mi) dari Ilaga. Pesawat terbakar sepenuhnya dan serpihannya tersebar di seluruh lembah. Tabrakannya sangat keras sehingga tidak ada peluang korban selamat.[22] Dua helikopter dikerahkan untuk membawa jenazah ke Timika untuk disemayamkan.[23]