Magetan adalah kecamatan di Kabupaten Magetan yang menjadi ibu kota kabupaten. Sebagai pusat pemerintahan, Magetan memiliki alun-alun, masjid agung, serta berbagai kantor pemerintahan. Selain itu, Magetan juga berperan sebagai pusat ekonomi kabupaten dengan adanya pusat perbelanjaan seperti Pasar Baru dan Pasar Sayur. Magetan dilengkapi infrastruktur lainnya seperti rumah sakit, sekolah unggulan, serta fasilitas olahraga seperti Stadion Yosonegoro dan GOR Ki Mageti.
Kecamatan Magetan terletak di jalur penghubung Madiun dan Maospati di timur dengan kawasan wisata Sarangan di lereng Gunung Lawu. Kecamatan Magetan dikenal sebagai sentra kerajinan kulit di Jalan Sawo dan memiliki ikon kuliner seperti Jenang Candi.[1][2] Lokasi terkenal lainnya di kecamatan ini adalah Sekolah Calon Tamtama Rindam V/Brawijaya.[3]
Nama Magetan berasal dari Ki Ageng Mageti yang secara sukarela menyerahkan sebidang tanah di tepian Sungai Gandong kepada tokoh dari Kesultanan Mataram bernama Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo. Basah Gondokusumo kemudian menjadi bupati pertama dari Magetan dengan gelar Yosonegoro. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675 yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Magetan.[4]
Geografi
Peta lokasi Kecamatan Magetan
Magetan adalah kecamatan yang terletak di tengah Kabupaten Magetan dan berada di kaki Gunung Lawu. Geografi Kecamatan Magetan berupa dataran rendah dan dilintasi Sungai Gandong yang mengalir dari barat ke timur. Sebagai ibu kota kabupaten, Magetan mengalami urbanisasi yang pesat. Namun, di kecamatan ini masih banyak ditemukan areal persawahan.
Batas wilayah Kecamatan Magetan adalah sebagai berikut:[5]
Pada tahun 1646, Sultan Amangkurat I menjalin perjanjian dengan VOC. Kesepakatan ini memberi keuntungan besar bagi VOC karena mereka terbebas dari ancaman serangan Mataram, bahkan pengaruhnya dapat masuk dengan leluasa ke dalam wilayah kerajaan. Akibatnya, kekuatan Mataram semakin melemah. Kondisi tersebut memicu munculnya ketidakpuasan di lingkungan keraton serta timbul berbagai pergolakan di wilayah kekuasaan Mataram.[4][6]
Dalam situasi yang tidak stabil tersebut, kerabat keraton bernama Basah Bibit / Basah Gondokusumo serta patih Mataram, Pangeran Nrang Kusumo, dituduh bersekutu dengan ulama yang menentang kebijakan Sultan Amangkurat I. Akibat tuduhan itu, Basah Gondokusumo diasingkan ke Semarang, tepatnya di kediaman kakeknya, Basah Suryaningrat. Pasca pengasingan, keduanya memutuskan menyingkir ke wilayah timur Gunung Lawu. Mereka memilih daerah tersebut karena mendengar adanya kegiatan pembukaan hutan (babad alas) yang dipimpin oleh Ki Buyut Suro (Ki Ageng Getas) atas perintah Ki Ageng Mageti.[4][6]
Ki Buyut Suro mempertemukan mereka berdua dengan Ki Ageng Mageti. Mengetahui bahwa keduanya kerabat keraton Mataram, Ki Ageng Mageti meminta mereka untuk tinggal dan diberi sebidang tanah di tepian Sungai Gandong (sekarang Desa Tambran). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675 yang sekarang dijadikan hari jadi Kabupaten Magetan. Basah Gondokusumo kemudian menjadi bupati pertama Magetan dengan gelar Yosonegoro.[4][6]
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Magetan terdiri dari 9 kelurahan dan 5 desa yang dibagi menjadi beberapa rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT), yakni sebagai berikut:[7]
SMA Negeri 1 Magetan - SMA terbaik di Magetan berdasarkan nilai UTBK yang dirilis LTMPT dan peringkat 592 se-Indonesia pada tahun 2022.[8]
Kuliner
Jenang Candi
Jenang Candi
Jenang candi merupakan kuliner yang berasal dari Kelurahan Candirejo, Kabupaten Magetan. Kudapan ini dikenal sebagai oleh-oleh populer bagi wisatawan yang berkunjung ke Magetan. Jenang Candi memiliki rasa manis, berwarna cokelat, dan bertekstur kenyal. Bahan utamanya terdiri atas santan kelapa, gula, dan tepung ketan. Pada awalnya jenang candi hanya dibuat untuk keperluan hajatan masyarakat setempat. Pembuat pertama jenang ini dikenal dengan nama Mbah Somo Suti. Sekitar tahun 1973, jumlah produsen jenang candi mulai meningkat, dan produk tersebut mulai dipasarkan secara lebih luas di Pasar Londo (Belanda) yang sekarang sudah tidak ada lagi.[9] Jenang candi sekarang menjadi salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Magetan. Bahkan kuliner ini sering dirayakan, salah satunya dalam Festival Jenang Candi yang diadakan di Desa Candirejo. Ikon dari festival tersebut adalah tumpeng yang terbuat dari jenang candi untuk kemudian dibagikan kepada warga yang menonton.[2]