Kebangkitan damai Tiongkok atau pembangunan damai Tiongkok adalah kebijakan resmi Tiongkok pada masa kepemimpinan Hu Jintao.[1] Istilah ini digunakan untuk membantah "teori ancaman Tiongkok". Dalam sejarahnya, Tiongkok dianggap sebagai kekaisaran yang tidak terlalu agresif.[2] Saat itu Tiongkok sedang bangkit sebagai kekuatan politik, ekonomi dan militer yang baru, sehingga Tiongkok ingin memastikan bahwa kebangkitannya tidak akan mengancam perdamaian dan keamanan negara lain. Tiongkok menerapkan kebijakan ini dengan menyelaraskan masyarakat Tiongkok, sementara di luar negeri mereka akan mendukung hubungan internasional yang damai. Kebijakan ini ingin menggambarkan Tiongkok sebagai pemimpin dunia yang bertanggung jawab dan menekankan soft power, dan berjanji bahwa Tiongkok akan berkomitmen mengurus urusan dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya terlebih dahulu sebelum turut campur dalam urusan dunia. Istilah ini juga menyiratkan bahwa Tiongkok ingin menghindari konfrontasi yang tidak diperlukan.
Istilah ini kontroversial karena kata "kebangkitan" dapat mendorong persepsi bahwa Tiongkok mengancam tatanan internasional yang sudah ada, sehingga semenjak tahun 2004 istilah "pembangunan damai Tiongkok" telah digunakan oleh para pemimpin Tiongkok.
Catatan kaki
↑Guo, Sujian (2007). China Journal. The University of Chicago Press. hlm.228–230. JSTOR20066356.
↑Shaohua Hu, “Revisiting Chinese Pacifism,” Asian Affairs, Vol. 32, No. 4 (Winter, 2006), hlm. 256-278.
Essay: "The Middle Kingdom: The Reinstatement of a Revisionist Great Power" by Aron Patrick
Robert L. Suettinger "The Rise and Descent of "Peaceful Rise" Hoover Institution China Leadership Monitor #12 Diarsipkan 2008-10-07 di Wayback Machine.
, Tony Corn, "Peaceful Rise through Unrestricted Warfare: Grand Strategy with Chinese Characteristics," Small Wars Journal, June 2010.
Artikel bertopik politik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.