Asal usul
Menurut catatan Girgam, Keamiran Daura didirikan pada 2000 SM dan bermula dari Kanaan dengan seorang pria bernama Najibu yang bermigrasi bersama sekelompok orang ke Mesir Kuno. Mereka menetap sementara di Mesir dan menjalin hubungan dekat dengan orang Koptik. Dari situ, mereka melanjutkan perjalanan ke Tripoli, di mana pemimpin mereka saat itu, Abdudar, berusaha memerintah penduduk setempat tetapi gagal, sehingga ia melanjutkan perjalanan ke Tsohon Birni, yang kini berada di wilayah utara Nigeria. Peristiwa inilah yang membuka jalan bagi berdirinya keamiran dan kota Daura.[2]
Daura adalah kota yang dikunjungi Bayajidda, tokoh dalam mitologi Hausa, setelah menyeberangi Gurun Sahara. Di sana, ia membunuh seekor ular bernama Sarki yang menghalangi penduduk mengambil air dari sumur Kusugu. Ratu setempat, Daurama Shawata, menikahinya sebagai tanda terima kasih, dan salah satu dari tujuh anak mereka dinamai Daura.[2] Sumur Kusugu, tempat Bayajidda diyakini membunuh Sarki, kini dilindungi dengan bangunan kayu dan menjadi objek wisata.[3][4]
Kesultanan ini disebut sebagai salah satu dari "tujuh negara Hausa sejati" (Hausa Bakwai), bersama Biram, Kano, Katsina, Zazzau, Gobir, dan Rano,[5] karena diperintah oleh keturunan anak-anak Bayajidda dengan Daurama dan Magira (istri pertamanya).[2] Menurut Departemen Studi Afrika-Amerika di Universitas California, Daura, bersama Katsina, merupakan pusat kebudayaan dan pendidikan Islam kuno.[6]
Sejarah modern
Pada tahun 1805, selama Perang Fulani, Daura dikuasai oleh pejuang Fulani, Malam Ishaku, yang mendirikan sebuah kesultanan. Suku Hausa kemudian membentuk negara-negara saingan di sekitarnya, dan penguasa salah satunya, Malam Musa, diangkat oleh Inggris sebagai emir baru Daura pada tahun 1904.[5] Awalnya bagian dari Negara Bagian Kaduna,[5] Daura menjadi bagian dari Negara Bagian Katsina yang baru dibentuk pada tahun 1987.[7] Faruk Umar Faruk menjadi Emir Daura yang ke-60 pada 28 Februari 2007 setelah meninggalnya Sarkin Muhammadu Bashar dan Umaru.[8]