Dahulunya, Kauman memiliki sebuah lapangan yang difungsikan pada zaman kolonial sebagai Alun-Alun lama kota Semarang. Pada akhir tahun 1960-an alun-alun ini berubah menjadi Pasar Yaik. Namun, pada 2022, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengembalikan kawasan tersebut ke fungsi awalnya sebagai ruang publik terbuka dengan nama Aloon-aloon Masjid Agung Semarang.[5]
Pengembalian Aloon-aloon Masjid Agung Semarang merupakan bagian dari pemugaran bangunan cagar budaya Pasar Johar yang terbakar pada tahun 2015.[6]
Sejarah
Kauman atau kampung Kauman secara legendaris merupakan kaum yang dihuni oleh masyarakat Jawa yang lebih cenderung religius beragama Islam. Disebutkan dalam beberapa buku, kauman berasal dari kata qaaimuddin yang memiliki arti orang-orang yang menegakkan agama Islam. Dikarenakan lidah orang Jawa sulit mengucapkan kata tersebut, maka pengucapannya berubah menjadi "kaum". Di suatu tempat, para kaum berdiam di sana yang kemudian memunculkan istilah Pakauman atau lebih dikenal Kauman untuk menyebut tempat itu. Kauman sering disematkan pada kota-kota lama yang bernafaskan Islam dalam berbagai literasi sejarah Jawa. Kauman tidak hanya ada di Semarang, ternyata di Yogyakarta, Surakarta, dan Demak juga terdapat nama yang serupa. Karena Kauman merupakan ciri khas kebudayaan Jawa yang lebih dekat dengan agama Islam pada era dulunya.
Masjid Wali, bundaran alun-alun, pusat pemerintahan dan pasar tradisional merupakan ciri khas utama Kauman. Kauman sangat berperan penting dalam perkembangan Kota Semarang seperti saat ini karena merupakan pusat peradaban Islam. Penduduk yang padat menjadi poin tersendiri bagi kebudayaan Jawa yang direpresentasikan dalam Kampung Kauman.
Pemerintahan
Daftar lurah
Daftar ini belum tentu lengkap. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
Lurah pertahana saat ini adalah Bapak Imam Sutopo, S.IP. Berikut adalah Daftar Lurah Kauman dari masa ke masa: