Sepanjang paruh kedua abad ke-19, gereja dan kawasan sekitarnya memainkan peranan penting bagi para misionaris Kristen yang tiba di Bangkok, khususnya setelah tahun 1860. Katedral ini merupakan bagian dari suatu kompleks bangunan yang meliputi Assumption Convent School, Misi Katolik Bangkok, Percetakan Assumption, dan pastoran yang dihuni para misionaris selama mereka berkarya di kota tersebut.
Pada tahun 1864, ketika kota Bangkok telah berkembang hingga kawasan tersebut dan jumlah umat Kristen meningkat, dirasa perlu menetapkan wilayah tersebut sebagai komunitas Katolik. Maka pada tahun 1864, Uskup Dupont secara resmi menetapkan Assumption sebagai paroki, dengan Pastor François Joseph Schmidt sebagai pastor paroki pertama.
Sekitar tahun 1909 atau 1910, gereja ini mengalami rekonstruksi besar dan dibangun kembali dalam gaya Romanesque antara tahun 1910 hingga 1918. Bangunannya berbentuk persegi panjang dengan struktur yang relatif tinggi dan bagian luar dari bata merah yang mencolok di antara bangunan-bangunan putih di sekitarnya. Menara-menara persegi yang tinggi mengapit pintu masuk utama. Bagian dalamnya memiliki langit-langit tinggi yang dihiasi berbagai ornamen dekoratif. Biaya pembangunan sebagian besar ditanggung oleh seorang pengusaha Katolik setempat, Low Kiok Chiang (juga dikenal sebagai Jacobe), yang merupakan pemilik perusahaan keluarga TionghoaTiochiu, Kiam Hoa Heng & Company.
Pada tahun 1942, selama Perang Dunia II, bangunan-bangunan di sekitar gereja hancur akibat pengeboman oleh pihak Sekutu, yang mengakibatkan kerusakan serius pada gereja ini.[1] Restorasi besar terhadap katedral dilakukan tidak lama kemudian, dan pembaruan lanjutan kembali dilaksanakan pada dekade 1980-an dan 1990-an. Secara khusus, antara tahun 1983–1989, Pastor Chumpa Kurat menilai bahwa interior katedral perlu diperbarui. Ia kemudian memimpin renovasi dan dekorasi ulang, termasuk penataan kembali altar utama serta area panti imam. Kini, bagian dalam katedral dilengkapi dengan jendela-jendela kaca patri yang memperkuat nilai artistiknya.
Pada 15 Agustus 2019, berlangsung peringatan 100 tahun Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Dalam kesempatan tersebut digubah dua lagu khusus, yaitu "Assumption, Our Mother Cathedral" dan "One Century of Grace, Assumption Church", yang dinyanyikan oleh paduan suara Katedral.
Katedral ini telah dikunjungi oleh dua Paus. Pada bulan Mei 1984, katedral menyambut Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Thailand.[1] Kemudian, pada 22 November 2019, Paus Fransiskus mengunjungi katedral tersebut dalam perjalanan apostoliknya ke Thailand dan memimpin Misa Kudus bersama kaum muda Katolik dari seluruh penjuru Thailand.[2] Sejumlah lagu turut diciptakan untuk menyambut kunjungan Paus ini, yang dinyanyikan oleh sekitar 1.000 orang anggota paduan suara.[4]
Ruang bawah tanah
Interior Katedral Bangkok
Salah satu bagian penting dari katedral ini terletak di ruang bawah tanah (kript/crypt) di bawah ruang panti imam (sanctuary), yang menyimpan jenazah para uskup dan misionaris, termasuk Pastor Nicholas Boonkerd Kitbamrung, yang diproklamasikan sebagai martir oleh Paus Yohanes Paulus II pada 5 Maret 2000 di Vatikan. Relikuinya kemudian dipindahkan ke tempat ziarah yang dibangun di kompleks Gereja Santo Petrus di Sam Phran, Provinsi Nakhon Pathom. Di dalam katedral sendiri masih terdapat altar khusus yang dipersembahkan baginya di sisi kiri bangunan Katedral.
Kunjungan
Sejumlah tokoh yang pernah mengunjungi katedral ini antara lain, pada 4 Mei 1946, Raja Ananda Mahidol bersama adiknya, yang saat itu masih bergelar Pangeran, Bhumibol Adulyadej. Paus Yohanes Paulus II mengunjungi katedral ini pada 10 Mei 1984. Pada 22 Juli 1995, Putri Soamsawali dan Putri Bajirakitiyabha berkunjung dalam suatu upacara keagamaan untuk arwah ibunda mendiang raja. Pada tahun 2002, Putra Mahkota Vajiralongkorn dan permaisurinya Srirasmi mengunjungi komunitas Katolik di Katedral ini.
Fasad timur katedral, diambil dari area Assumption College yang bersebelahan.
Tiga sekolah terletak di dalam kompleks katedral, yakni Assumption College, Assumption Convent School, dan Assumption Suksa School. Dahulu juga terdapat sebuah seminari dan percetakan di kawasan ini. Banyak kantor organisasi Katolik sebelumnya berlokasi di sekitar katedral tersebut.
Peribadatan
Selain sebagai tempat ibadat terjadwal, Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga berfungsi sebagai katedra bagi Uskup Agung Bangkok, yang sejak tahun 2025 dipimpin oleh Fransiskus Xaverius Vira Arpondratana. Karena kedudukannya ini, katedral menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai perayaan liturgi penting, seperti tahbisan diakon, imam, dan uskup, serta dipandang sebagai pusat kehidupan umat Katolik di Thailand.
Gereja ini dibuka untuk kunjungan setiap hari di luar jadwal peribadatan. Misa hari Minggu dirayakan pada pukul 08.30, 10.00 (misa dalam bahasa Inggris), dan 17.00. Setiap hari Sabtu pukul 16.30 diadakan Novena yang dilanjutkan dengan Misa vigili. Pada hari kerja, termasuk Sabtu pagi, Misa dirayakan pukul 06.00 di kapel yang terletak di sisi selatan katedral, di area Assumptionsuksa School.
↑"Assumption Cathedral, Bangkok". Thailand Travel Services. Diarsipkan dari versi asli pada 2013-03-01. Diakses tanggal 11 Oktober 2008.
↑"ตัวแทนชาวคริสต์ ร่วมซ้อมร้องเพลงรับ "โป๊ปฟรังซิส""[Perwakilan umat Kristen mengikuti latihan menyanyikan lagu untuk menyambut Paus Fransiskus]. pptvhd36.com. 4 November 2019. Diakses tanggal 21 Februari 2026.