Ia sempat bekerja sebagai masinis kereta Yogya-Kroya pada tahun 1942 ketika ia tidak melanjutkan kuliahnya di THS Bandung.
Setelah menyelesaikan studinya luar negeri, ia ditawari pekerjaan oleh Departemen Perhubungan. Ketika Marsekal Iskandar menjadi Menteri Perhubungan, Karno pernah diminta menjadi ahli teknik penerbangan di Boston membahas pengaruh jet stream pesawat terbang.[1] Sejak 1968, Karno Barkah mewakili Indonesia dalam International Civil Aviation Organisation (ICAO) di Kanada, dan sempat tinggal di sana.
Kehidupan
Ketika memiliki waktu senggang di rumah, Karno memilih untuk bermain biola dan suling. Ia memainkan komposisi lagu dari Bach dan Vivaldi. Istrinya, Saraswati lebih banyak menulis di surat kabar mengenai masalah sehari-hari, seksologi, dan lain-lain. Mereka bertemu pertama kalinya di Irian Barat pada tahun 1963. Pasangan tersebut dikaruniai oleh tiga anak.