Karanggedang adalah desa di kecamatanBruno, Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Karanggedang berjarak 8 Km berkendara ke barat dari pusat kecamatanBruno dan 43 Km dari pusat Kabupaten Purworejo. Desa Karanggedang terletak di wilayah pegunungan dengan ketinggian antara 800-1.100 meter di atas permukaan air laut. Suhu udara pada siang hari berkisar antara 22-32 derajat Celcius. Pada bulan Juli sampai Agustus suhu bisa turun menjadi 16 derajat celcius pada dini hari. Desa Karanggedang bersama Desa Desa Cepedak terkenal dengan objek wisata alam mendaki Gunung Bengkuk (1.067 m) dan jelajah hutan Gunung Bengkuk dengan mobil jeep dan motor trail.
Desa Karanggedang terbagi menjadi dua Dusun (Dusun Munggang dan Dusun Krajan) dan 11 RT dengan rincian sebagai berikut:
Dukuh Kepudang
Dukuh Pamanjaga
Dukuh Ngaglik
Dukuh Munggang
Dukuh Petir
Dukuh Gupakan
Dukuh Patrawisa
Dukuh Krajan
Dukuh Karangtengah
Dukuh Lorkali
Dukuh Jerukuwik
Geografi
Desa Karanggedang di wilayah pegunungan dengan ketinggian antara 800-1.100 meter di atas permukaan air laut dengan titik tertingginya berada di Gunung Bengkuk (1.067 Mdpl) atau Gunung Rawacacing[1] disebalah utara desa. Diwilayah ini yang merupakan batas tepian dataran tinggi Giyombong kemiringan lahan curam hingga sangat curam. Desa Karanggedang beriklim tropis dengan duan musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Desa ini menjadi hulu Sungai Sawangan dan anak Sungai Kedunggupit. Suhu udara pada siang hari berkisar antara 22-32 derajat Celcius. Pada bulan Juli sampai Agustus suhu bisa turun menjadi 16 derajat celcius pada dini hari.
Sejarah
Desa Karanggedang terdapat tujuh makam abdi dalem dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang untuk kali pertama babad alas di desa ini. Di antaranya yang dikenal luas adal Kyai Nayantaka (Noyontoko). Ia diyakini sebagai murid dan pengikut setia Diponegoro yang sesudah berakhirnya perang jawa (1825-1830) memutuskan untuk menetap di Desa Karanggedang.[butuh rujukan]
Kepala Desa
Kepala Desa yang pernah memerintah di Desa Karanggedang:
Supiyah (1991 -1998)
Sartono (1998-2013)
Budianto (2013-2019)
Kadikun (2019 - Sekarang)
Referensi
↑Pengejaan mengikuti pedoman penamaan nama geografi.