Peninggalan Perkeretaapian Di Jalur Jatibarang - Karangampel
Jalur Kereta Api Jatibarang – Karangampel adalah jalur cabang dari Jatibarang menuju Karangampel sepanjang 19 km. Jalur ini merupakan jalur Trem yang dibuka pada tahun 1926 dan pada tahun 1930-an ditutup. Sebagaimana ekspansi ke Indramayu, maksud pembukaan jalur trem ke Karangampel tujuan utamanya adalah untuk mengakut hasil pertanian, terutama padi. Pada jalur kereta api Jatibarang – Karangampel saat ini sudah tidak terlihat petunjuk pernah beroperasinya kereta api.
Jejak-jejaknya sudah hilang dan hanya menjadi memori turun temurun sebagian warga setempat. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Grondkaart dan informasi lisan dari warga, beberapa titik masih dapat dikenali sebagai jejak arkeologis perkeretaapian di jalur Jatibarang – Karangampel. Saat ini bangunan Halte sudah tidak ada, di bekas bangunan perhentian sekarang difungsikan sebagai taman kota. Menurut cerita, ketika kereta api masih beroperasi (tahun 1970-an) pernah terjadi kecelakaan di mana Bis Hiba yang melaju di Jalan Raya Lohbener – Cirebon menabrak kereta api yang sedang melintas.
Stasiun Majasih, merupakan perhentian pertama setelah Jatibarang arah ke Karangampel. Kondisi saat ini, bangunan perhentian Majasih sudah tidak ada dan di atas lahan bekas bangunan stasiun berdiri bangunan rumah permanen. Struktur Jembatan Majasari, merupakan sisa jembatan kereta api di atas saluran Irigasi Majasari, di dekat Stasiun Majasih. Sisa jembatan kereta api di Majasari ini, adalah struktur fondasi abutmen jembatan sisi barat, sedang abutmen Timur sudah tidak ada
Bangunan Peninggalan Kereta Api Jatibarang - Karangampel
Karangampel, adalah salah satu kecamatan di Indramayu. Pada masa Kolonial Belanda, Karangampel memiliki nilai strategis secara ekonomi karena pada tahun 1926 Perusahaan Kereta Api milik Pemerintah Kolonial Belanda, SS, membuka rute perjalanan kereta api dari Jatibarang ke Karangampel.
Perjalanan Kereta Api dari Stasiun Jatibarang ke Karangampel memakan waktu 50 menit dan melewati 8 Perhentian, yaitu Jatibarang, Majasih, Sliyeg, Gadingan, Segeran, Juntikebon, Mundu, dan Karangampel. Stasiun Karangampel sebagai stasiun akhir/tujuan perjalanan kereta api pada ruas Jatibarang–Karangampel memiliki fasilitas penunjang perjalanan kereta api yang lebih lengkap dibanding stasiun antara pada ruas Karangampel – Jatibarang. Saat ini bangunan stasiun Karangampel sudah tidak ada, bahkan struktur fondasinya juga sudah tidak ditemukan. Lahan emplasemen stasiun sekarang menjadi bagian dari Lapangan Olah Raga.
Jalur rel beralih fungsi menjadi jalan desa, demikian pula dengan jembatan kereta api beralih fungsi menjadi jembatan jalan desa. Berdasarkan grondkaart, stasiun Karangampel memiliki empat Sepur, sebagian dari sepur tersebut mengarah ke pergudangan di emplasemen Karangampel. Karangampel merupakan salah satu wilayah yang pada masa kolonial Belanda sebagai salah satu wilayah yang ramai (lampiran 3). Catatan Residen Cirebon pada tahun 1930 menunjukkan bahwa Karangampel merupakan salah satu sentra beras di wilayah Karesidenan Cirebon. Pasar Karangampel berdiri tidak jauh dari Stasiun Karangampel, fasilitas perkotaan lainnya yang berdiri tidak jauh dari Stasiun, adalah Pegadaian dan Kantor Pos.
Jalur Kereta Api Jatibarang - Karangampel
Pada tahun 1926, SS membuka jalur KA lintas cabang dari Jatibarang menuju karangampel sejauh 18 km yang dibuka pada tanggal 1 Mei 1926. Jalur ke Karangampel kemungkinan ditujukan untuk pengangkutan hasil pertanian seperti komoditas gula dan membuka akses ke wilayah timur daerah Indramayu. Stasiun-stasiun dan perhentian pada jalur ini berturut-turut adalah Jatibarang, Majasih, Sliyeg, Gadingan, Segeran, Juntikebon, Mundu dan Karangampel.
Namun demikian, jalur KA Jatibarang-Karangampel tidaklah berumur panjang, dikarenakan kerugian yang ditimbulkan dari pengoperasian jalur ini, dan pada tahun 1932, bersamaan dengan jalur KA SS Tulungagung-Trenggalek-Tugu di Jawa Timur, jalur ini ditutup.
Mengutip dari tabel jadwal perjalanan KA Jatibarang-Indramayu dan Jatibarang-Karangampel tahun 1931 yang berasal dari Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera, tergambarkan frekuensi perjalanan KA di ruas-ruas tersebut serta juga kelas kereta penumpang yang dipergunakan, yaitu kereta kelas 2 dan 3