Sejarah
Berdirinya Kapel Santa Maria erat kaitannya dengan berdirinya biara di kompleks tersebut. Sejarah dimulai pada tanggal 7 Februari 1856, ketika rombongan tujuh biarawati Ursulin asal Rotterdam, Belanda menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Batavia (sekarang Jakarta).[2] Mereka kemudian menempati bangunan bekas benteng Rijswijk yang sempat diperbaiki atas perintas Daendels pada tahun 1810. Benteng tersebut berada di Noordwijk Straat 29, yang saat ini menjadi Jalan Juanda No. 29.[2] Kedatangan para biarawati tersebut telah dinantikan oleh Vikaris Apostolik Batavia yang kala itu menjabat, Mgr. Petrus Maria Vrancken.[2]
Pada akhir tahun 1853, Mgr. Vrancken membeli sebidang tanah yang cukup luas di kawasan tersebut, dengan harga 30.000 gulden, bekas dari Elisabeth Adriana Roseboom, seorang janda dari mendiang Jeremias Schill, pemuka Freemason.[2] Tanah yang cukup luas tersebut kemudian difungsikan sebagai kompleks biara dan sekolah. Setelah sekolah dibuka pada tahun 1856 sebagai sekolah khusus putri, kegiatan persekolahan berkembang pesat. Pada tahun 1891, sekolah tersebut menjadi sekolah formal dengan nama Sekolah Kepandaian Putri (Meijes Never Heid School).[2]
Akibat pesatnya perkembangan kegiatan pendidikan di lokasi tersebut, para suster Ursulin sepakat untuk memperluas lahan guna mendukung kegiatan persekolahan dan biara. Pada awal 1874, seorang tetangga yang memiliki sebidang tanah di lokasi bersebelahan dengan biara tersebut meninggal dunia.[2] Rumah tersebut kemudian dijual dan dibeli oleh para suster Ursulin. Halaman rumah tersebutlah yang kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kapel Santa Maria hingga saat ini.[2]
Renovasi
Pada tahun 1923, kapel dibongkar dan diperluas dengan interior dibuat jauh lebih sederhana. Namun, kaca-kaca patri jendela, terutama di atas altar, tetap dipertahankan. Restorasi bangunan dikerjakan biro arsitek ternama, Hulswit Fermont, Ed Cuypers dan selesai dalam waktu 10 bulan.[2]