Ikan karper berukuran sedang hingga besar, panjang standar (SL, standard length) mencapai 1.000 mm. Profil badannya memanjang, memipih tegak. Tinggi tubuh 3,4-3,8 kalinya sebanding dengan panjang standar; sementara panjang kepalanya 4,3 kalinya sebanding dengan panjang standar. Mulutnya tipe inferior. Bibirnya agak tebal; tanpa lobus (bidang atau cuping) tengah pada bibir bawah. Dua pasang sungut terdapat di moncong dan di sudut mulut di rahang atas; sungut moncong panjangnya kurang lebih sama dengan diameter mata, sementara sungut rahang atas sedikit lebih panjang. Operkulum (tutup insang) panjangnya 1½-1¾ tingginya.[5]
Awal sirip dorsal (punggung) diantarai oleh 8-9 sisik dari belakang kepala, kira-kira sejajar dengan sisik ke-7 atau ke-8 pada gurat sisi, sedikit lebih muka dari awal sirip ventral (perut). Sisik-sisik dengan gurat sisi 24-28 buah. Sirip dorsal dengan III jari-jari keras (duri) dan 8-9 jari-jari lunak, duri yang ke-3 besar dan keras, lebih pendek daripada panjang kepala dikurangi moncong, tepi atas sirip mencekung; sirip anal (dubur) III, 5; sirip pektoral (dada) I, 14-16; dan sirip ventral II, 8. Sirip anal bentuk terpangkas, jari-jari terpanjang sedikit lebih pendek daripada duri sirip dorsal, ujungnya tidak mencapai sirip ekor manakala direbahkan. Sirip pektoral sedikit lebih pendek daripada tinggi sirip dorsal; jauh, tidak mencapai sirip ventral. Sirip ventral jelas lebih pendek daripada sirip pektoral, dipisahkan oleh 2 baris sisik dari deretan gurat sisi. Sirip ekor bercabang dua dalam, ujungnya runcing, jauh lebih panjang daripada panjang kepala. Batang ekor dikelilingi oleh 12 sisik.[5]
Sebelah atas tubuh berwarna zaitun, sebelah bawahnya berwarna keemasan atau keperakan-zaitun; iris mata kuning. Sisik-sisik di sisi tubuh dan ekor dengan noktah keunguan di sudut pangkalnya. Sirip-sirip berwarna bening (hyaline), kekuningan atau jambon-kehijauan.[4]
Di Indonesia ikan ini juga disebut "ikan dewa". Ikan ini termasuk ikan langka yang hanya dapat ditemukan di sungai atau kolam yang dikeramatkan di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Karena kelangkaannya, orang Sunda menganggap ikan ini suci atau ikan yang dikeramatkan; hukum adat setempat melarang orang untuk membunuh atau memakan ikan ini. Ikan ini dapat ditemukan di kolam pemandian keramat di sekitar Gunung Ceremai, Jawa Barat; seperti kolam Cibulan, Cigugur, Pasawahan, Linggajati, dan Darmaloka di Kabupaten Kuningan.[9] Karena kelangkaannya pula, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengajukan proposal kepada Convention on International Trade in Endangered Species agar memasukkan ikan ini ke dalam daftar satwa dilindungi.[10]
Catatan taksonomis
Roberts (1999),[11] diikuti oleh Kottelat (2013),[12] memasukkan kancera ke dalam genusNeolissochilus, meskipun tanpa penjelasan yang memadai. Marga Neolissochilus dapat dibedakan dari Tor, di antaranya dengan melakukan pemeriksaan pada jumlah sisir saring insang (gill rakers), bentuk rahang bawah dan lengkung faringeal.[13]
↑Haryono. 2008. Populasi dan habitat ikan tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854) di perairan kawasan Pegunungan Muller Kalimantan Tengah. Biodiversitas, 9(4): 306-9.
↑""Ikan Dewa" dari Ciremai". Kompas.com (dalam bahasa Indonesian). Kompas.com. Tuesday, 28 January 2014. Diakses tanggal 6 February 2014.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Roberts, TR. 1999. "Fishes of the cyprinid genus Tor in the Nam Theun watershed (Mekong basin) of Laos, with description of a new species". Raffles Bulletin of Zoology, 47(1): 225–36.
↑Kottelat, M. 2013. "The fishes of the inland waters of Southeast Asia: a catalogue and core bibliography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries". The Raffles Bulletin of Zoology, Supplement No. 27, 22 November 2013.
↑Rainboth, WJ. 1985. "Neolissochilus, a new genus of South Asian cyprinid fishes". Beaufortia, 35(3): 25–35.