Di lereng pegunungan yang sejuk di wilayah , hiduplah masyarakat desa yang dahulu sering mengalami kekeringan panjang. Sawah mengering, sumber air menghilang, dan warga kesulitan mendapatkan air untuk kehidupan sehari-hari.[1]
Di tengah keadaan itu, datanglah seorang pemuda pengembara bernama Jaka Gentong. Ia dikenal sederhana, bijaksana, dan selalu membawa sebuah gentong kecil peninggalan gurunya. Konon, gentong itu bukan gentong biasa, melainkan simbol harapan dan kehidupan.[2]
Melihat penderitaan warga, Jaka Gentong melakukan semedi di dekat sebuah batu besar di tengah hutan. Selama beberapa hari ia berdoa memohon agar desa diberi sumber kehidupan. Hingga pada suatu malam, tanah di tempat semedinya bergetar dan memancarkan air jernih yang keluar tanpa henti.[2]
Air itu mengalir membentuk sungai kecil yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau datang. Warga percaya bahwa sumber air tersebut adalah berkah dari doa Jaka Gentong dan kekuatan alam yang dijaga dengan ketulusan hati.[2]
Sejak saat itu, sungai tersebut dinamakan Kali Gentong, karena menjadi sumber kehidupan layaknya gentong besar yang selalu penuh air. Desa di sekitarnya pun mulai subur, hijau, dan damai.[3]
Legenda ini diwariskan turun-temurun sebagai pengingat bahwa kesabaran, kepedulian, dan doa tulus dapat membawa harapan bagi banyak orang.[4]