Secara geografis, desa ini berbatasan dengan Desa Colo di sebelah utara, Desa Lau di sebelah selatan, Desa Piji dan Desa Ternadi di sebelah barat, serta Desa Kuwukan dan Desa Cranggang di sebelah timur.
Sejarah
Sebagai bagian dari kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di sekitar Gunung Muria, masyarakat Desa Kajar juga memiliki berbagai cerita rakyat dan mitos yang menjelaskan asal-usul nama desa tersebut.
Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama "Kajar". Salah satu versi menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari kata berbahasa Arab, yakni hajar yang berarti batu (watu dalam bahasa Jawa). Menurut tradisi lisan setempat, pada masa lalu kawasan yang kini menjadi Desa Kajar merupakan wilayah hutan belantara di lereng Gunung Muria yang dipenuhi oleh batu-batu besar. Dikisahkan bahwa Sunan Gunung Muria (Raden Umar Said), salah satu tokoh Wali Songo, pernah melintas di wilayah tersebut dan menamainya Hajar, karena banyaknya batu di daerah itu. Seiring berjalannya waktu, pelafalan Hajar berubah menjadi Kajar.
Versi lain menceritakan bahwa penamaan Desa Kajar berhubungan dengan perjalanan Sunan Gunung Muria ketika mencari lokasi untuk mendirikan masjid. Dalam perjalanan tersebut, Sunan Muria membuat sepasang watu lumpang dan alu sebagai peralatan memasak di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Tlumpang, yang berasal dari kata watu lumpang. Setelah itu, ia bersama rombongan melanjutkan perjalanan dan berhenti di suatu tempat untuk menanak nasi menggunakan kuwali (kendil kecil). Beberapa anggota rombongan yang tidak sabar menunggu kemudian berkata bahwa mereka tidak akan kebagian nasi karena tempat masaknya terlalu kecil. Mendengar hal itu, Sunan Muria bersabda, "Wong kajar, [...] pangananmu suk ki tunggak" (orang kajar, makananmu nanti hanya tunggak atau sisa bagian bawah).
Rombongan yang disebut wong kajar inilah yang kemudian tinggal di sekitar tempat tersebut, dan daerah itu selanjutnya dikenal sebagai Kajar. Setelah selesai memasak, Sunan Muria meninggalkan tempat itu karena kerbau yang ditungganginya berjalan menuju daerah yang lebih tinggi. Ia kemudian memutuskan untuk mendirikan masjid di tempat yang lebih tinggi tersebut, yang kini dikenal sebagai lokasi Masjid Sunan Muria.
Masyarakat setempat percaya bahwa sisa masakan yang ditinggalkan oleh Sunan Muria berubah menjadi batu yang kini dikenal sebagai watu ketan, yang terletak di sebelah utara Bumi Perkemahan Kajar, di bawah Taqim Art Studio. Baik watu ketan maupun watu lumpang masih dapat dijumpai hingga sekarang dan menjadi bagian dari warisan budaya lokal masyarakat Kajar.
Wisata
Desa Kajar merupakan salah satu desa yang memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai desa wisata. Keadaan geografis yang berada di lereng Gunung Muria, didukung oleh udara sejuk khas pegunungan serta kehidupan sosial masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai tradisional, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Beragam objek wisata dapat ditemukan di Desa Kajar, baik berupa wisata alam maupun wisata kuliner dan rekreasi. Beberapa di antaranya adalah:
Rumah Makan Keboen Ibu, tempat kuliner bernuansa alam yang menawarkan hidangan tradisional dengan suasana pedesaan.
Hutan Pinus Bumi Perkemahan Kajar, kawasan wisata alam yang sering digunakan untuk kegiatan berkemah dan rekreasi keluarga.
Puri Kajar, destinasi wisata yang menampilkan suasana alami dengan konsep taman dan tempat bersantai.
Taman Sardi, area rekreasi terbuka yang menjadi tempat favorit warga dan pengunjung untuk bersantai.
The Hills Vaganza, tempat wisata dengan pemandangan perbukitan yang indah serta fasilitas untuk berswafoto dan bersantai.
Kuliner
Sektor kuliner merupakan salah satu potensi ekonomi yang berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kajar. Beragam produk makanan khas dihasilkan oleh warga setempat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung maupun sebagai oleh-oleh khas desa ini.
Beberapa kuliner yang dikenal berasal dari Desa Kajar antara lain:
Bubuk Kopi Cap Cangkir Mas, produk kopi bubuk lokal yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat desa.
Gethuk Kajar, makanan tradisional berbahan dasar singkong yang menjadi kuliner khas Desa Kajar.
Penthol Kojek Kajar, jajanan berbentuk bulat serupa bakso dengan cita rasa khas pedesaan.
Sempolan Khas Kajar, camilan goreng berbahan dasar tepung dan daging yang populer di kalangan masyarakat.
Kolak Telo Godang, hidangan manis dari ubi jalar yang biasanya disajikan pada waktu tertentu, terutama saat bulan Ramadan.