Selama Perang Dunia II, LST-616 ditugaskan ke teater Asia-Pasifik dan berpartisipasi dalam penyerangan dan pendudukan Okinawa Gunto dari 26 Maret hingga 29 April 1945. Dia kemudian ditugaskan untuk pendudukan dan dinas Tiongkok di Timur Jauh dari 23 September 1945 hingga penonaktifannya pada 19 Januari 1946 di mana ia ditugaskan ke Komandan Angkatan Laut Timur Jauh (COMNAVFE) Otoritas Kontrol untuk Jepang (SCAJAP), berganti nama menjadi Q019.
Berdasarkan ketentuan Program Bantuan Militer, ia ditransfer ke Indonesia pada tahun 1961, dan bertugas sebagai Teluk Bayur (502).
Layanan di Angkatan Laut Indonesia
Pada 17 Juni 1961, dia ditugaskan di Angkatan Laut Indonesia.[2]
Untuk pertama kalinya, komandan kapal berada di bawah Mayor Marinir (P) Handayana Sukendar. Kapal tersebut masuk untuk memperkuat unsur Komando Lintas Laut Militer pada tahun 1975, dan berada di bawah bimbingan harian Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Surabaya.[butuh rujukan]
Kapal tersebut dibuang di SINKEX TNI Angkatan Laut pada 20 April 2012.
Bangkai kapal bekas KRI Teluk Bayur yang tenggelam di perairan Merak, Banten, berhasil didaur ulang oleh personel Dinas Sarana Pangkalan (Disfaslan) Lantamal V Surabaya menjadi benda yang dapat digunakan kembali. Yakni menjadi pembangkit darat, dengan memanfaatkan generator dari bangkai kapal yang tenggelam setelah diincar rudal Yakhont, yang diuji coba setelah membelinya dari Rusia, beberapa tahun lalu.[3]