Marcantonio Colonna merupakan salah satu dari dua kapal kelas Thaon di Revel yang dijual kepada TNI Angkatan Laut dengan kontrak senilai 1,18 miliar Euro yang ditandatangani pada 28 Maret 2024.[3] Menurut Janes, Indonesia telah mendapatkan pendanaan sebesar 1,25 miliar dolar AS dari beberapa lembaga keuangan Eropa untuk akuisisi dua kapal tersebut, dengan fasilitas pendanaan ditandatangani pada akhir tahun 2024.[4]
KRI Brawijaya pada upacara penggantian nama, Januari 2025
Kapal tersebut diganti namanya menjadi KRI Brawijaya (320) pada tanggal 29 Januari 2025 pada sebuah acara seremoni di galangan kapal Muggiano.[5] Pada tanggal 2 Juli 2025 resmi diserahkan oleh Ficantieri kepada Kementerian Pertahanan, diwakili Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali sebagai Kepala Staf Angkatan Laut yang dilaksanakan di galangan kapal Ficantieri, Muggiano.[6] Kapal ini resmi memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut di bawah Satuan EskortaKomando Armada II dengan Kolonel Laut (P) John David Nalasakti Sondakh sebagai komandan kapal.[7]
Brawijaya memulai keberangkatan pertamanya dari La Spezia, Italia menuju Indonesia pada tanggal 29 Juli 2025.[8][9] Kapal ini melakukan kunjungan pelabuhan ke Mersin, Turki; Alexandria, Mesir; Jeddah, Arab Saudi; Fujairah, Uni Emirat Arab; dan yang terakhir adalah pada tanggal 27 Agustus, ketika kapal ini tiba di Pelabuhan Kolombo, Sri Lanka, dalam rangka kunjungan pengisian bahan bakar. Kapal tersebut dijadwalkan meninggalkan pulau itu pada tanggal 30 Agustus.[10] Dalam perjalanannya, Brawijaya melakukan latihan gabungan dengan berbagai kapal perang angkatan laut asing, seperti: ENSTahya Misr, Caio Duilio, Bani Yas, dan juga korvet Indonesia KRISultan Iskandar Muda yang sedang bertugas di UNIFIL di Lebanon.[11]Brawijaya pada akhirnya tiba di perairan Indonesia untuk pertama kalinya di Pangkalan Angkatan Laut Lampung di Bandar Lampung pada tanggal tanggal 4 September 2025.[12][13][11] Kapal tersebut berangkat ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada tanggal 8 September dan diperiksa oleh para pejabat tinggi.[14]Brawijaya tiba di Surabaya pada tanggal 10 September sesuai rencana.[15]
Persenjataan
KRI Brawijaya dikirim ke TNI Angkatan Laut tanpa senjata berat, dalam sebuah status "Fitted For But Not With" (FFBNW).[16] Kecuali dua buah meriam berkaliber 76mm dan 127mm di geladak depan, KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi tidak dilengkapi dengan sebarang rudal atau torpedo apapun.[17] Namun, Indonesia telah menunjukkan minatnya terhadap sistem rudal pertahanan udara Aster untuk kapal tersebut dan bermaksud untuk membeli sistem tersebut di kemudian hari, tetapi hal tersebut belum dapat dikonfirmasi.[16]