KRI Alugoro (405) memiliki panjang 61,3 meter (201ft) dengan kecepatan mencapai 11 knot (20km/h) ketika berada di bawah air. Kapal selam ini mampu menampung 40 awak kapal dan memiliki kemampuan jelajah hingga 50 hari, serta dirancang dengan umur hidup mencapai 30 tahun. Bobot kapal selam saat muncul di permukaan adalah 1.460 ton, dan mencapai 1.596 ton ketika menyelam di bawah permukaan air. Salah satu perbedaan antara KRI Alugoro (405) dengan KRI Nagapasa (403) dan KRI Ardadedali (404) adalah teknologi baru dan canggih yang dimilikinya yang mampu mengatasi peperangan di bawah permukaan laut.[2]
Kapal selam ini diperlengkapi dengan torpedo Black Shark generasi terbaru dari Whitehead Alenia Sistemi Subacquei yang bisa mengejar target hingga sejauh 50 kilometer. Panjang torpedo tersebut mencapai 6,3 meter (21ft) dengan diameternya mencapai 553 milimeter.[4]
Sejarah
KRI Alugoro (405) merupakan kapal selam ketiga yang dibuat oleh PT PAL Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co.Ltd (DSME), Korea Selatan, dan diluncurkan pada 11 April 2019 oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu didampingi oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Siwi Sukma Adji yang menjabat saat itu. Berbeda dengan dua kapal selam pertama, yakni KRI Nagapasa (403) dan KRI Ardadedali (404) yang dibangun di Korea Selatan, KRI Alugoro (405) dibangun di PT PAL Indonesia (Persero) melalui kerja sama alih teknologi.[5]
KRI Alugoro telah lolos tes NDD yang dilakukan di Banyuwangi,[6] Kepala Divisi Kapal Selam PT PAL Indonesia (Persero) Satriyo Bintoro yang saat ini menjabat sebagai COO PT PAL menjadi salah satu penguji.[7]
Pembangunan kapal selam ini, sepenuhnya didanai melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT PAL Indonesia (Persero) sebesar Rp 1,5 triliun dari pengajuan awal Rp 2,5 triliun.[2]