Kórsafn adalah proyek komposisi generatif yang dikembangkan oleh Björk untuk lobi hotel Sister City di New York. Karya ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan melalui kolaborasi dengan sistem yang dikembangkan oleh Microsoft untuk menghasilkan lanskap suara yang berubah secara berkelanjutan berdasarkan data lingkungan. Proyek tersebut menjadi salah satu eksplorasi Björk terhadap pendekatan eksperimental dalam menggabungkan musik, ruang, dan algoritma, sebagaimana didokumentasikan melalui publikasi visual dan arsip daring.[1]
Latar belakang dan Konsep
Konsep Kórsafn berangkat dari kecenderungan Björk dalam menggabungkan elemen vokal dan teknologi dalam eksperimennya. Proyek ini memanfaatkan rekaman paduan suara yang telah diarsipkan selama bertahun-tahun, kemudian diproses melalui sistem generatif yang menyesuaikan struktur bunyi dengan data visual real-time dari langit kota New York, termasuk pesawat, burung, dan pola awan.[2] Berbagai sumber mencatat bahwa pengembangan proyek ini berkaitan dengan serangkaian aktivitas Björk di New York, termasuk pertunjukan dan kolaborasi seni.[3] Melalui sistem kecerdasan buatan, komposisi ini bergerak secara otonom dan menghasilkan lanskap suara yang tidak repetitif.[4]
Publikasi teknologi menjelaskan bahwa pendekatan algoritmik dalam proyek ini menciptakan suasana bunyi yang tidak dapat diprediksi.[5] Pitchfork juga menyoroti konteks munculnya proyek audio interaktif lainnya di New York.[6] Proyek ini dipandang sebagai retrospektif vokal yang menggabungkan arsip suara Björk dengan proses algoritmik.[7] Penjelasan lebih lanjut juga diarsipkan melalui situs resmi Sister City.[8]
Penerimaan
Media musik dan teknologi menyoroti sifat eksperimental proyek ini. The Quietus menyebut bahwa proyek tersebut menunjukkan minat Björk dalam memanfaatkan teknologi sebagai alat kreatif.[9] Brooklyn Vegan mengamati bahwa komposisi generatif tersebut mengolah materi vokal menjadi struktur yang terus berubah.[10]
Fast Company menyoroti kolaborasi antara Björk dan Microsoft sebagai contoh penerapan pembelajaran mesin dalam seni suara, sementara *It's Nice That* menekankan kesan ganjil yang ditimbulkan oleh tekstur bunyinya.[11] Dokumentasi visual karya tersebut turut dipublikasikan melalui berbagai laman yang menyoroti proses kreatifnya.[12]