Jumbo berhasil mengalahkan Frozen 2 sebagai film animasi dengan pendapatan tertinggi di Indonesia.[6]
Sinopsis
Mengisahkan seorang anak yatim piatu berusia 10 tahun bernama Don. Ia sering diremehkan karena memiliki tubuh yang besar. Don mempunyai sebuah buku dongeng warisan orang tuanya, yang penuh ilustrasi dan cerita ajaib. Buku tersebut bukan hanya kenang-kenangan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pelarian bagi Don dari dunia yang terasa tidak ramah karena kerap diremehkan oleh teman-temannya.[7]
Don berupaya membuktikan kemampuannya dengan mengikuti sebuah pertunjukan bakat, yang mana ia berencana menampilkan sandiwara panggung yang terinspirasi dari buku cerita peninggalan orang tuanya. Namun, seorang temannya mencuri buku tersebut, membuatnya putus asa. Beruntungnya, Don selalu mendapat dukungan dari Oma dan sahabat-sahabatnya, Nurman dan Mae. Di tengah keputusasaan, Don bertemu dengan Meri (bidadari cilik misterius) yang meminta bantuannya untuk menemukan orang tuanya. Ia pun berupaya untuk mendapatkan kembali buku warisannya itu. Pertemuan ini mengawali petualangan penuh keajaiban pun dimulai, mengubah pandangan Don terhadap dirinya sendiri mengajarkan arti persahabatan sejati, keberanian, dan kepercayaan diri dan mempererat tali persahabatan yang baru terbentuk.[8]
Karakter dan pengisi suara
Berikut adalah sejumlah karakter dalam film Jumbo beserta pengisi suaranya.[9]
Don (Pengisi suara: Prince Poetiray), anak laki-laki yang suka membaca buku dongeng peninggalan ayah dan ibunya. Don sering diejek dengan sebutan 'Jumbo' karena bentuk fisiknya. Ia ingin mementaskan buku dongengnya supaya agar tidak ejek lagi.[10]Ryan Adriandhy selaku sutradara dan penulis film, memilih Prince sebagai pengisi suara karena memiliki penampilan menggemaskan dan kemampuannya dalam bernyanyi.[11]
Don berusia 4 tahun disuarakan oleh Den Bagus Satrio Sasono.
Nurman (Pengisi suara: Yusuf Özkan), sahabat Don yang selalu jadi teman terbaik dan siap sedia. Dia menjadi penggembala 3 kambing milik kakeknya yang masing-masing bernama Mbek, Mbeek, dan Mbeeek.[12]
Maesaroh alias Mae (Pengisi suara: Graciella Abigail), sahabat Don yang tegas serta sering jadi penengah jika Don dan Nurman berbeda pendapat.[13]
Maria alias Meri (Pengisi suara: Quinn Salman), teman baru Don dari dunia arwah yang lemah lembut, suka membantu, dan selalu menepati janji. Dia merupakan arwah anak kecil yang terpisah dari keluarganya usai ayah dan ibunya diculik. Meri meminta bantuan Don, Nurman, serta Mae untuk menemukan orang tuanya kembali.[14]
Atta (Pengisi suara: Muhammad Adhiyat), anak laki-laki yang kerap merendahkan Don dan memanggilnya Jumbo. Dia tinggal berdua bersama kakaknya, Acil.
Ibu Don (Pengisi suara: Bunga Citra Lestari), orang tua Don yang telah meninggal dunia sejak Don kecil. Dia bersama suaminya membuat buku dongeng untuk anak mereka.[15]
Ayah Don (Pengisi suara: Ariel "Noah"), orang tua Don yang telah meninggal dunia sejak Don kecil. Dia bersama istrinya membuat buku dongeng untuk anak mereka.[16]
Oma Don (Pengisi suara: Ratna Riantiarno), nenek Don yang merawat Don selepas kepergian ayah dan ibunya.
Acil (Pengisi suara: Angga Yunanda), kakak Atta yang bekerja memperbaiki alat elektronik. Dia hanya tinggal berdua bersama adiknya dan menggunakan tongkat karena kaki kirinya sakit.[17]
Ibu Meri (Pengisi suara: Cinta Laura Kiehl), arwah orang tua Meri yang diculik oleh pemburu hantu. Ibu Meri bisa berbahasa Indonesia dan Jerman.[18]
Ayah Meri (Pengisi suara: Ariyo Wahab), arwah orang tua Meri yang diculik oleh pemburu hantu.
Pak Rusli (Pengisi suara: Kiki Narendra), kepala desa tempat Don dan kawan-kawan tinggal.[19]
Panitia Datar (Pengisi suara: Aci Resti), seorang panitia Festival Kampung Seruni yang minim ekspresi dan bersuara datar.[20]
Panitia Panik (Pengisi suara: Rachel Amanda), seorang panitia Festival Kampung Seruni yang sering panik dan heboh.[21]
Mbek (Pengisi suara: Angga Dwimas Sasongko, tidak dikreditkan), seekor kambing milik Nurman yang berukuran kecil.[22]
Mbeek (Pengisi suara: Chicco Jerikho, tidak dikreditkan), seekor kambing milik Nurman yang berwarna cokelat dan berambut putih.[23]
Mbeeek (Pengisi suara: Ganindra Bimo, tidak dikreditkan), seekor kambing milik Nurman yang memiliki poni berwarna biru kehijauan.[24]
Produksi
Jumbo diproduksi oleh Visinema Studios bekerja sama dengan Springboard Entertainment dan Anami Films.
Produksi Jumbo dimulai pada April 2020.[25]Visinema Pictures mengumumkan bahwa produksi film telah dimulai pada September 2021.[26] Karya ini disutradarai oleh komedian sekaligus animator Ryan Adriandhy, dan diproduksi bersama 200 kreator selama 5 tahun.[27] Pada November 2021, Visinema Pictures merilis tampilan pertama film ini.[28] Pada September 2022, penyanyi Ariel diumumkan akan mengisi suara ayah Don.[29] Film ini diproyeksikan untuk rilis pada tahun 2023.[30] Sebuah cuplikan eksklusif Jumbo diputar di Festival Film Asia Jogja-NETPAC ke-19 pada 4 Desember 2024.[9] Keseluruhan proses produksi film Jumbo melibatkan berbagai pihak, meliputi:[31]
Pengembangan visual:
Caravan Studio, berbasis di Jakarta Barat, DKI Jakarta.[32]
Pemodelan oleh:
Atomictune Studio, berbasis di Bantul, DI Yogyakarta.[33]
ELHA Studio, berbasis di Sleman, DI Yogyakarta.[34]
Uqi Studios, berbasis di Cilacap, Jawa Tengah.[35]
Afterlab (PT Afterlab Persisten Kreasi Indonesia), berbasis di Kota Bandung, Jawa Barat.[36]
Awas Artist Galak!
Pixelmoon Studio
Animasi
Dipadira Studio, berbasis di Sleman, DI Yogyakarta.[37]
Mattebox Visualworks: Studio efek visual yang berbasis di Jakarta Selatan, DKI Jakarta.[44]
Awas Artist Galak!
Pencahayaaan dan pengomposisian
Lumosworks
Motion Egg
Rekacitra
Metadigi (PT Meta Semesta Digital), berbasis di Kota Cimahi, Jawa Barat.[45]
Efek suara dan pascaproduksi
Jagakarya Studio, berbasis di Jakarta Selatan, DKI Jakarta.[46]
Movel Audio Post, berbasis di Jakarta Selatan, DKI Jakarta.[47]
Fourmix, berbasis di Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Mocha Chai Laboratories, berbasis di Singapura.
Takarir
Mocha Chai Laboratories, berbasis di Singapura.
Penayangan dan penerimaan
Jumbo tayang perdana di bioskop Indonesia pada 31 Maret 2025. Film ini berhasil memperoleh satu juta penonton pada hari ke-tujuh penayangan sehingga menjadikannya film Indonesia terlaris pada tahun 2025 sekaligus film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa.[48] Selanjutnya, film ini sukses meraih lebih dari dua juta penonton pada hari ke-11 dan tembus empat juta penonton pada hari ke-15.[49][50]Jumbo menjadi film animasi produksi Asia Tenggara dengan pendapatan tertinggi, lebih dari $8 juta, mengalahkan film tahun 2022, Mechamato Movie produksi Malaysia.[51] Pada hari ke-19 penayangan, Jumbo berhasil melampaui jumlah penonton Frozen 2 sekaligus menjadi film animasi terlaris di Indonesia sepanjang masa.[52]
Film ini telah memicu perdebatan di kalangan orang tua dan kritikus film, terutama terkait dengan adegan yang dianggap kurang sesuai untuk anak. Salah satu aspek yang menuai kritik adalah adanya adegan komunikasi dengan hantu melalui radio, yang menurut sebagian orang tua dapat membingungkan anak dan mendorong mereka untuk memercayai hal-hal yang tidak realistis. Beberapa orang tua merasa bahwa film ini tidak sepenuhnya cocok untuk anak di bawah usia enam tahun karena elemen fantasi yang dianggap terlalu ekstrem. Mereka berpendapat bahwa anak pada usia tersebut masih dalam tahap perkembangan kognitif yang membuat mereka sulit membedakan antara realitas dan imajinasi. Mereka khawatir bahwa adegan seperti komunikasi dengan hantu dapat memengaruhi cara berpikir anak dan menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawab oleh orang tua.[57]