José Alberto Mujica Cordano (pengucapan bahasa Spanyol:[xoˈsealˈβertomuˈxikakorˈðano], dikenal juga sebagai El Pepe (20 Mei 1935–13 Mei 2025) adalah Presiden Uruguay periode 2010 sampai 2015. Ia mulai menjabat sebagai Presiden Uruguay dari tanggal 1 Maret 2010.
Mujica dijuluki sebagai "kepala negara paling miskin di dunia" karena gaya hidupnya yang sederhana serta kebiasaannya menyumbangkan sekitar 90 persen dari gaji bulanannya sebesar US$12.000 kepada badan amal yang membantu masyarakat miskin dan pengusaha kecil.[1][2] Ia adalah pengkritik vokal terhadap kapitalisme yang berfokus pada penimbunan harta benda yang tidak berkontribusi terhadap kebahagiaan manusia. Pandangan filosofisnya menuai pujian dari media dan jurnalis; Times Higher Education menyebutnya sebagai "presiden filsuf" pada tahun 2015, yang berasal dari konsep filsuf-raja yang dicetuskan oleh Plato.[3][4]
Kehidupan awal
José Alberto Mujica Cordano lahir pada 20 Mei 1935 di lingkungan Paso de la Arena, Montevideo, dari pasangan Demetrio Mujica Terra dan Lucy Cordano Giorello.[5] Demetrio merupakan keturunan keluarga BasqueSpanyol yang tiba di Uruguay pada tahun 1842.[6][7] Melalui nenek dari pihak ayah, Mujica memiliki hubungan kekerabatan jauh dengan beberapa tokoh politik terkenal Uruguay, termasuk Gabriel Terra, yang menjabat sebagai presiden ke-26 negara itu antara tahun 1931 hingga 1938.[8] Orang tua Demetrio memiliki beberapa lahan pertanian yang digunakan sebagai tempat pelatihan tentara untuk menghadapi pemberontakan yang dipimpin oleh tokoh revolusioner Aparicio Saravia.[9] Demetrio yang berprofesi sebagai petani mengalami kebangkrutan tak lama sebelum wafat pada tahun 1940, ketika José berusia lima tahun. Lucy lahir di Carmelo dari pasangan imigran miskin asal Italia dari Liguria, yang berasal dari wilayah Favale di Malvaro di bekas provinsi Genoa. Saat kelahirannya, orang tuanya membeli lahan seluas 2 hektar di Colonia Estrella, sebuah kota kecil di Departemen Colonia, untuk membudidayakan kebun anggur.[10][11] Ayahnya merupakan anggota aktif Partai Nasional dan penganut Herrerisme, serta beberapa kali terpilih sebagai anggota dewan Colonia dan menjalin hubungan dekat dengan Luis Alberto de Herrera.[9]
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Mujica mendaftar di Institut Alfredo Vásquez Acevedo untuk studi sarjana, namun tidak menyelesaikannya. Pada usia 13 hingga 17 tahun, Mujica menjadi pesepeda untuk beberapa klub dalam berbagai kategori.[9]
Paman dari pihak ibu Mujica, Ángel Cordano, juga merupakan anggota Partai Nasional dan memiliki pengaruh besar dalam pembentukan pandangan politik Mujica. Pada tahun 1956, melalui ibunya yang juga aktif di sektor yang sama, Mujica bertemu dengan politikus Enrique Erro. Sejak saat itu, Mujica mulai aktif mendukung Partai Nasional, dan akhirnya menjadi sekretaris jenderalnya. Partai Nasional memenangkan sebagian besar kursi senat dalam pemilihan umum tahun 1958, di mana Erro diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan menjabat dari tahun 1959 hingga 1960, dengan Mujica mendampinginya meskipun ia tidak menjabat secara resmi di kementerian tersebut. Pada tahun 1962, Erro dan Mujica keluar dari Partai Nasional untuk mendirikan Unión Popular, partai sayap kiri yang dibentuk bersama Partai Sosialis. Dalam pemilihan tahun 1962, mereka mencalonkan Emilio Frugoni sebagai kandidat presiden, tetapi mengalami kekalahan telak, hanya memperoleh 2,3% dari total suara.[9]
Karier
Dalam pemilihan umum tahun 1994, Mujica terpilih sebagai deputi, dan dalam pemilihan tahun 1999 ia terpilih sebagai senator. Berkat karisma Mujica, MPP (Movimiento de Participación Popular) terus mengalami peningkatan popularitas dan perolehan suara, dan pada tahun 2004, menjadi faksi terbesar dalam koalisi Frente Amplio. Dalam pemilihan tahun itu, Mujica terpilih kembali sebagai senator, dan MPP memperoleh lebih dari 300.000 suara, mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan politik utama dalam koalisi serta sebagai pendukung utama kemenangan kandidat presiden Tabaré Vázquez. Pada 1 Maret 2005, Vázquez menunjuk Mujica sebagai Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan (karena latar belakang profesional Mujica memang berasal dari sektor pertanian). Saat menjabat sebagai menteri, Mujica mengundurkan diri dari posisinya sebagai senator. Ia menjabat sebagai menteri hingga terjadi pergantian kabinet pada tahun 2008, ketika ia mengundurkan diri dan digantikan oleh Ernesto Agazzi. Setelah itu, Mujica kembali menduduki kursinya di Senat.
Pada 14 Desember 2008, sebuah konvensi khusus partai menyatakan Mujica sebagai kandidat resmi dari Frente Amplio untuk pemilihan pendahuluan tahun 2009, namun empat bakal calon lainnya tetap diizinkan untuk ikut serta, termasuk Astori. Pada 28 Juni 2009, Mujica memenangkan pemilihan pendahuluan dan menjadi kandidat presiden dari Frente Amplio untuk pemilihan presiden tahun 2009. Selama masa kampanye, Mujica menjaga jarak dari gaya pemerintahan presiden seperti Hugo Chávez dari Venezuela atau Evo Morales dari Bolivia, dan menyatakan bahwa pemerintah pusat-kiri seperti Luiz Inácio Lula da Silva dari Brasil atau Michelle Bachelet, seorang sosialis dari Chili, merupakan contoh regional yang akan menjadi acuan bagi pemerintahannya. Dikenal dengan gaya berpakaian yang santai, Mujica mengenakan setelan jas (tanpa dasi) dalam beberapa kesempatan kampanye presiden, terutama saat mengunjungi para kepala negara di kawasan.[12]
Pada Oktober 2009, Mujica meraih suara terbanyak dengan lebih dari 48 persen, dibandingkan dengan 30 persen yang diperoleh mantan presiden Lacalle, namun jumlah tersebut masih kurang dari mayoritas yang disyaratkan oleh konstitusi. Di saat yang sama, Frente Amplio berhasil memperbarui mayoritas parlementernya untuk masa legislatif berikutnya (2010–2015). Putaran kedua kemudian diadakan pada 29 November dengan Mujica keluar sebagai pemenang dengan lebih dari 52% suara, mengungguli Lacalle yang memperoleh 43%.[13] Dalam pidato pertamanya sebagai presiden terpilih di hadapan para pendukungnya, Mujica mengakui keberadaan lawan-lawan politiknya dan menyerukan persatuan, dengan menyatakan bahwa tidak ada “pemenang atau pecundang”. Ia menambahkan bahwa “merupakan kesalahan jika mengira kekuasaan berasal dari atas, padahal sesungguhnya berasal dari dalam hati rakyat (...) butuh seumur hidup bagi saya untuk memahami kenyataan ini”.[14]
Kematian
Pada April 2024, Mujica mengumumkan bahwa ia didiagnosis menderita kanker esofagus yang ditemukan selama pemeriksaan fisik,[15] dan menambahkan bahwa kondisinya diperburuk oleh penyakit autoimun yang sudah dideritanya.[16] Meski sakit, Mujica tetap berkampanye untuk calon presiden dari Frente Amplio, Yamandú Orsi, dalam pemilihan umum 2024 yang berhasil dimenangkan.[17] Mujica kemudian menyebut kemenangan Orsi sebagai "hadiah perpisahan".[18]
Pada Januari 2025, Mujica mengatakan kepada Búsqueda bahwa kankernya telah menyebar ke hati dan bahwa ia sedang sekarat, serta memutuskan untuk menghentikan pengobatan.[19] Pada 12 Mei, Topolansky menyatakan bahwa Mujica berada dalam kondisi "sakit terminal" dan telah menjalani perawatan hospice.[20] Mujica meninggal di rumah pertaniannya di Rincón del Cerro, di pinggiran Montevideo, pada 13 Mei 2025 dalam usia 89 tahun.[21][22]