Jonggol sekarang dikenal sebagai salah satu kawasan wisata terbesar di Jabodetabekpunjur dengan banyak objek wisata di dalamnya. Jonggol juga memiliki julukan yaitu "Bhutan Van Java", karena salah satu daya tarik wisata di Jonggol adalah kondisi topografi bagian selatan Jonggol yang terdapat perbukitan berkontur curam seperti di negara Bhutan. Julukan ini berlaku untuk wilayah Jonggol Raya seperti Sukamakmur, Cariu, dan Tanjungsari.[4]
Namun di balik besarnya potensi wisata, secara infrastruktur Kawasan Jonggol masih sangat tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jabodetabekpunjur. Pusat Kecamatan Jonggol berada di utara Alun-alun Jonggol, Kelurahan Jonggol yang berada di ketinggian +230 meter dpl.
Jonggol sebelum tahun 1990-an merupakan kecamatan terbesar di timur Kabupaten Bogor. Jonggol dahulunya merupakan sebuah distrik atau kawedanan. Wilayah Kawedanan Jonggol saat ini telah terpecah menjadi bagian dari beberapa daerah antara lain;
Sejarah penamamaan Kawedanan Jonggol ini sempat mengalami beberapa kali perubahan mulai dari Rawa Jaha, Kemudian Rawalo, Tjibaroesa hingga Jonggol, perubahan nama ini terjadi beralasan mulai dari pemindahan pusat Kawedanan hingga kebijakan dari pemerintah Kolonial Belanda. Pusat Kawedanan sempat berpindah tempat beberapa kali mulai dari Dayeuh yang sekarang bagian dari Desa Sukanegara di Kecamatan Jonggol. Kemudian, Kauman yang sekarang merupakan wilayah Desa Cileungsi, selanjutnya Kampung Babakan yang sekarang termasuk bagian dari Desa Cibarusah Kota hingga yang terakhir Kampung Pojok Salak/Rawa Jaha yang sekarang menjadi alun-alun Jonggol.[6]
Bekas Pendopo Kawedanan Jonggol yang kini telah dirubuhkan, sejak renovasi Kantor Kecamatan Jonggol pada tahun 2015.
Jonggol pernah digadang-gadang sebagai alternatif paling realistis untuk memindahkan ibu kota, Jonggol terletak hanya 40 kilometer di sebelah tenggara Jakarta. Rencana ini sudah didengungkan sejak masa pemerintahan presiden Soeharto.[7] Alasan lain dipilihnya Jonggol adalah wilayah ini dinilai masih memiliki lahan yang sangat luas dan berada di dataran tinggi yang relatif tinggi. Karena, berdasarkan Keputusan Presiden (KEPPRES) No. 1 Tahun 1997. Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol Sebagai Kota Mandiri, total luas lahan yang tercakupi berkisar 657,25km² dan berada di ketinggian +260 m hingga +1800 m.[7]
Salah satu dampak dari wacana pemindahan ibukota ke Kawasan Jonggol adalah daya tarik investor sejak medio 1990an.
Jalur kereta api Lingkar Luar Jabodetabek
Pada awal dekade 1990-an, Departemen Perhubungan pernah merencanakan pembangunan jaringan rel lingkar luar Jabodetabek dari Parungpanjang sampai Sungai Lagoa melewati Citayam, Jonggol, Cikarang. Salah satu tujuannya adalah untuk meminimalisasi kereta api barang yang melintasi kawasan perkotaan di Jakarta. Krisis finansial Asia 1997 membuat rencana ini berhenti di tengah jalan dan hanya menyisakan koridor Citayam-Nambo yang sudah selesai.[8]
Jalur kereta api Jonggol–Cianjur
Pada awal dekade 1990-an, Departemen Perhubungan pernah merencanakan pembangunan rel cabang dari Jonggol di petak Citayam-Cikarang ke Cianjur dan terhubung langsung dengan jalur rel Manggarai-Padalarang. Salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi beban kemacetan di sekitar Jonggol. Krisis moneter Asia 1997 membuat rencana ini berhenti di tengah jalan dan belum terealisasi sampai sekarang.[9]
Jonggol dalam sejarah perkembangannya
Sebelum kemerdekaan, dimana Wilayah Jonggol masih menjadi bagian dari District Tjibaroesa/Cibarusah Buitenzorg/Bogor yang kemudian menjadi Kawedanan Jonggol tahun 1938. Peta ini dibuat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1933.
Jonggol sejak didirikan sampai sekarang mengalami beberapa kali perubahan status, untuk lebih jelas perkembangannya sebagai berikut:
Jonggol sebagai Ibukota Kawedanan Tjibaroesa Sampai dengan Januari 1938 kemudian, dari tahun 1938 sampai dengan 1 Maret 1963 sebagai Ibukota Kawedanan Jonggol.
Jonggol sebagai Kota Mandiri dari tahun 1997 sampai dengan tanggal 11 Juni 1999. Berdasarkan Keputusan Presiden (KEPPRES) No. 1 Tahun 1997 Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol Sebagai Kota Mandiri. Tujuan dari Keppres tersebut mempersiapkan Jonggol sebagai Ibu kota Indonesia.
Jonggol sebagai kandidat Ibukota Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Jonggol yang masih menunggu pencabutan moratorium pemekaran daerah.
Geografi
Jonggol memiliki letak geografis yang sangat strategis, namun kurang dimanfaatkan oleh pemerintah
Secara geografi Jonggol terletak di bagian timur Kabupaten Bogor, Jonggol sendiri berada di dataran sedang dengan ketinggian (elevasi) 150 hingga 782 meter dpl dengan ketinggian rata-rata 295 meter dpl. Sementara, pusat Kota Jonggol berada di zona rendah dengan ketinggian 230-240 meter dpl, titik tertinggi (>700 m dpl) kecamatan ini berada di Desa Cibodas, tepatnya Gunung Karang yang memiliki ketinggian 782 m dpl, sementara titik terendah berada di desa Sukamanah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bekasi. Kontur wilayah Jonggol adalah perbukitan dengan kecuraman sedang. Selain itu, terdapat dataran berkontur datar yang sebagian besar telah menjadi Perumahan Citra Indah City dengan ketinggian 170 hingga 240 m dpl.
Wilayah selatan Jonggol terdapat sebuah dataran tinggi yang kerap disebut Dataran Tinggi Jonggol atau Kawasan Puncak Dua Jonggol (Sejak 2006 masuk Wilayah Kecamatan Sukamakmur, dan sebagian lagi masuk wilayah Kecamatan Tanjungsari). Wilayah tersebut digadang-gadang sebagai alternatif Kawasan Puncak Bogor karena sama-sama berada di dataran tinggi, ketinggian Dataran Tinggi Jonggol atau Puncak Dua sekitar 500 hingga 1800 mdpl dengan luas area sekitar 23.000 hektare. Potensi wisata daerah tersebut meliputi air terjun, bukit/gunung, situ, hutan pinus, perkebunan kopi, arum jeram, hingga spiritual. Kawasan pariwisata Puncak Dua Jonggol tersebut sering disebut juga "Bhutan Van Java".
Akses
Dari Jakarta untuk mengakses Jonggol bisa melalui Alternatif Cibubur-Cileungsi (Transyogi) keluar dari Pintu Tol Cibubur (sejauh 26km), Pintu Tol Jatikarya (sejauh 22km), atau Pintu Tol Nagrak (sejauh 20km). Jalan Transyogi Jonggol juga menjadi alternatif bagi warga ke Bandung sekitar 90km dan Cianjur 50km dari Jonggol melalui Cikalong Kulon bila Jalan Tol Jakarta–Cikampek dan Jalan raya wisata Puncak.
Iklim
Kecamatan Jonggol memiliki iklim hutan hujan tropis (Af) dengan curah hujan lebat hingga sangat lebat sepanjang tahun.