Dari catatan sejarah, istana tersebut diselesaikan pada 1933.
Ikhitisar
Istana Bukit Serene memiliki sebuah menara setinggi 35m dan merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Johor Bahru.[1] Para wisatawan juga terkesima dengan ukiran-ukiran unik di dinding pada bangunan bersejarah tersebut yang menampilkan pengaruh Art Deco.
Istana tersebut memiliki taman yang luas yang merupakan tempat umum untuk beberapa pertemuan dan perayaan kerajaan. Istana tersebut juga dijaga oleh Pasukan Militer Johor, tentara pribadi Sultan sendiri.[1]
Sejarah
Istana Bukit Serene adalah sebuah hadiah dari pemerintah Johor kepada Sultan Ibrahim Sultan Abu Bakar bertepatan dengan perayaan ke-40 penguasa tersebut sebagai sultan Johor.[1]
Yamashita dan para perwiranya kemudian menempatkan mereka sendiri di Istana Bukit Serene dan gedung sekretariat negara bagian, Gedung Sultan Ibrahim dalam rangka melakukan invasi Singapura.[2][3] Dari istana, ia mengamati gerak-gerik Angkatan Darat dan Laut Australia di Selat Johor. Yamashita menggunakan menara istana tersebut sebagai tempat melihat pandangan mata burung Singapura.
Meskipun dinasihati oleh personil militer tingkat atasnya bahwa istana tersebut adalah sebuah target yang mudah, Yamashita percaya bahwa Angkatan Darat Inggris tidak akan menyerang Istana Bukit Serene karena istana tersebut merupakan kebanggaan dan tempat tinggal dari Sultan Johor. Prediksi Yamashita ternyata benar karena Angkatan Darat Inggris tidak menyerang istana tersebut.
Tak lama sebelum Jepang menyerah pada 1945, Sultan Ibrahim diusir dari tempat tinggalnya di Istana Bukit Serene dan dipaksa tinggal di Istana Pasir Pelangi, istana putra mahkota.[4]
Peristiwa Sejarah
Istana Bukit Serene dilihat dari jauh.
Historical events held at the Istana Bukit Serene are: