Sebelum dan sesudah kemerdekaan Ismael Lengah selalu aktif dalam perjuangan mengusir penjajah. Ia juga pernah memimpin suatu rapat rahasia di Padang yang dilangsungkan pada tanggal 18 Agustus 1945 yang kemudian berlanjut pada tanggal 25 Agustus 1945 dengan mendirikan Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI) yang diketuai langsung olehnya. Kelanjutan dari itu pada tanggal 31 Agustus, terbentuklah Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Sumatra Tengah yang diketuai oleh Muhammad Sjafei.
Pada bulan Januari 1946 ia diangkat menjadi Direktur Sekolah Pendidikan Opsir yang baru didirikan di Bukittinggi, kala itu ia berpangkat Letnan Kolonel. Pada bulan Juli 1946, Ismael Lengah diangkat menjadi Kepala Seksi Persenjataan Markas Umum Komandemen Sumatra. Pada tahun 1956 dengan pangkat Kolonel ia menjabat sebagai Panglima Komando Divisi IX Banteng yang membawahi Sumatra Tengah.
Tuntutan Dewan-Dewan itu tentang otonomi, penyerahan mandat Perdana MenteriDjuanda kepada Mohammad Hatta dan Hamengku Buwono IX, pembentukan zaken kabinet dan tuntutan agar Presiden kembali sebagai Presiden Konstitusional serta beberapa tuntutan lainnya tidak dipenuhi oleh pemerintah pusat. Setelah melalui beberapa perundingan yang tidak menghasilkan kesepakatan ditengah situasi yang menegangkan akhirnya pemerintah mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk membungkam aspirasi daerah-daerah tersebut. Terjadilah perang saudara yang cukup banyak memakan korban anak bangsa.