Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja'far, adalah imam besar, terdidik dalam ilmu hadits, ilmu fiqih dan ilmu agama lain oleh ayahnya Imam Muhammad bin Ali. Imam Isa bin Muhammad mempunyai kulit berwarna putih kemerah-merahan yang merupakan sebaik-baiknya warna, sebagaimana perkataan Imam Ali bahwa warna kulit Rasulullah adalah putih kemerah-merahan.[2]
Gelar
Beliau juga dinamakan al-Rumi dan al-Naqib,[3] karena beliau mempunyai rupa putih kemerah-merahan seperti pria yang berasal dari negeri Rum, sedangkan sebutan al-Naqib disebabkan kedudukannya sebagai pemimpin para kaum syarif yang selalu menjaga dan menjamin keamanan kaumnya, nama beliau juga merupakan nama salah satu nabi yaitu nabi Isa alaihi salam. Adapun gelar yang lain yaitu al-Azraq, karena beliau mempunyai mata yang berwarna biru.[4]
Imam al-Rumi dikaruniai tiga puluh orang anak laki-laki dan lima orang anak perempuan, diantaranya adalah Imam Ahmad al-Muhajir yang merupakan nenek moyang kaum Alawiyin di Hadramaut. Adapun anak laki-laki Imam Isa al-Rumi adalah:[9]
Abdullah, tidak mempunyai keturunan.
Abdurahman, tidak mempunyai keturunan.
Abdullah al-Akbar, tidak mempunyai keturunan.
Abdullah al-Ahwal, tidak mempunyai keturunan.
Abdullah al-Asghor, tidak mempunyai keturunan.
Daud, tidak mempunyai keturunan.
Yahya, tidak mempunyai keturunan.
Ali, tidak mempunyai keturunan.
Abbas, tidak mempunyai keturunan.
Yusuf, tidak mempunyai keturunan.
Hamzah, tidak mempunyai keturunan.
Sulaiman, tidak mempunyai keturunan.
Ismail,
Zaid,
Qasim,
Hamzah,
Harun,
Yahya, sebagian keturunannya tinggal di Madinah ketika Keamiran Muhanna menguasai kota itu sebagai Amir Syarif Husaini. Terutama keluarga Husain bin Yahya bin Yahya bin 'Isa ar-Rumi.
Ali,
Musa,
Ibrahim,
Ja’far,
Ali al- Asghor,
Ishaq,
Husin,
Abdullah,
Muhammad al-Azraq, salah satu keturunannya adalah Syaikh Jamil Halim.[10]
↑Muhammad bin Abubakar al-Syilli. al-Masyra’ al-Rawi, hal. 78
↑Salah satu nama Nabi saw adalah al-Naqib. Hal itu dikarenakan, ketika pemimpin Bani Najjar, Abu Umamah As’ad bin Zararah meninggal dunia, mereka meminta Rasulullah saw sebagai pengganti dan tidak mau menerima orang lain. Nabi saw berkata, ‘Saya adalah pemimpin kamu‘. (Muhammad bin Abubakar al-Syilli, al-Masyra’ al-Rawi, hal 78)
↑Zad al-Ma'ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah; Quraisy adalah julukan bagi salah satu di antara Fihr atau an-Nadhr (Raudhatul Anwar karya Shafiyyurahman al-Mubarakfuri).