Bandar Udara Internasional Indira Gandhi, Delhi, India
Orang dalam pesawat
37
Penumpang
27
Awak
10
Tewas
37
Selamat
0
Pada 12 November 1996, Saudia Penerbangan 763 dengan Boeing 747 yang berangkat dari Delhi, India, menuju Jeddah dengan singgah di Dhahran, Arab Saudi, dan Kazakhstan Airlines Penerbangan 1907 dengan Ilyushin Il-76 yang terbang dari Chimkent, Kazakhstan, menuju Delhi, bertabrakan di udara di atas kota Charkhi Dadri, sekitar 100km di sebelah barat Delhi. Kecelakaan ini menewaskan seluruh 349 orang di kedua pesawat, dan menjadikannya tabrakan udara paling mematikan di dunia,[1][2][3] kecelakaan penerbangan tanpa korban selamat paling mematikan, serta kecelakaan penerbangan paling mematikan yang pernah terjadi di India.[4] Laporan akhir investigasi mengungkap bahwa kegagalan awak pesawat Kazakhstan dalam mempertahankan ketinggian yang seharusnya menjadi penyebab utama tabrakan.
Faktor-faktor yang turut berperan dalam kecelakaan ini mencakup keterbatasan kemampuan bahasa Inggris di kokpit pesawat Kazakhstan, sehingga menyebabkan penafsiran instruksi dari pengatur lalu lintas udara tidak memadai. Selain itu, faktor lainnya adalah kegagalan dalam pengelolaan sumber daya awak (crew resource management atau CRM) oleh awak tersebut. Para penyelidik juga mencatat bahwa bandara di Delhi saat itu tidak dilengkapi radar pengawasan sekunder. Bandar udara pada saat itu hanya memiliki radar primer yang hanya menampilkan jarak dan arah, tanpa informasi ketinggian. Laporan tersebut juga merekomendasikan peningkatan teknis, termasuk sistem peringatan tabrakan di udara (ACAS) dan radar pengawasan sekunder (SSR), untuk membantu mencegah kesalahan awak pada masa depan agar tidak luput dari pemantauan secara waktu nyata.
Pesawat yang terlibat
Saudia Penerbangan 763
Pesawat yang digunakan adalah Boeing 747-168B dengan registrasi HZ-AIH, yang berangkat dari Delhi sebagai bagian dari layanan penumpang internasional terjadwal rute Delhi–Dhahran–Jeddah, membawa 312 orang di dalamnya. Awak pesawat terdiri atas Kapten Khalid al-Shubaily (45 tahun), Kopilot Nazir Khan (37 tahun), dan Insinyur Penerbangan Ahmed Edrees (33 tahun). Al-Shubaily merupakan pilot berpengalaman dengan 9.837 jam terbang.
Terdapat perbedaan informasi mengenai kewarganegaraan penumpang. Menurut satu laporan, terdapat 215 warga India, 40 warga Nepal, dan tiga warga Amerika.[4] Sementara laporan lain menyebutkan adanya 17 penumpang dari berbagai kewarganegaraan lain, termasuk Nepal, Pakistan, Amerika Serikat, Bangladesh, Inggris, dan Arab Saudi.[5] Dua belas anggota awak, termasuk lima petugas antiterorisme, merupakan warga Arab Saudi.
Selain itu, sumber berbeda menyebutkan bahwa papan nama di pemakaman Charkhi Dadri mencatat 231 korban asal India, 18 warga Arab Saudi, 9 warga Nepal, 3 warga Pakistan, 2 warga Amerika Serikat, serta masing-masing satu orang dari Inggris dan Bangladesh.[6] Di antara korban asal India tersebut, sebanyak 80 orang berasal dari Uttar Pradesh, 48 dari Bihar, 46 dari Rajasthan, 15 dari Delhi, sementara sisanya berasal dari Kerala, Jammu dan Kashmir, Punjab, Maharashtra, Haryana, Assam, serta Madhya Pradesh.[6]
Kazakhstan Airlines Penerbangan 1907
Pesawat yang digunakan adalah Ilyushin Il-76TD dengan registrasi UN-76435, yang dioperasikan sebagai penerbangan carter dari Bandara Chimkent menuju Delhi. Awak pesawat terdiri atas Kapten Alexander Robertovich Cherepanov (44 tahun), Kopilot Ermek Kozhahmetovich Dzhangirov (37 tahun), Insinyur Penerbangan Alexander Alexanderovich Chuprov (50 tahun), Navigator Zhahanbek Duisenovich Aripbaev (51 tahun), dan Operator Radio Egor Alekseevich Repp (41 tahun). Cherepanov adalah pilot berpengalaman dengan 9.229 jam terbang.
Penerbangan ini disewa oleh sebuah perusahaan dari Kirgizstan, dengan sebagian besar penumpang merupakan warga Kirgizstan keturunan Rusia yang berencana berbelanja di India.[7][8] Tiga belas pedagang Kirgiz turut berada dalam penerbangan tersebut.
Kecelakaan
Saudia Penerbangan 763 lepas landas dari Delhi pada pukul 18.32 waktu setempat. Pada saat yang sama, Kazakhstan Airlines Penerbangan 1907 sedang melakukan penurunan ketinggian untuk mendarat di Delhi. Kedua penerbangan tersebut dikendalikan oleh petugas pendekatan (approach controller) V.K. Dutta.[9]
Tak lama setelah lepas landas, pesawat Saudia diizinkan naik ke ketinggian awal 10.000 kaki (3.000m). Pada pukul 18.34, pesawat Kazakhstan diperintahkan turun ke ketinggian 15.000 kaki (4.600m) saat berada sekitar 74 mil laut (137km) dari penanda navigasi bandara tujuan. Dua menit kemudian, pesawat Saudia, yang berada pada jalur udara yang sama tetapi berlawanan arah, diizinkan naik ke ketinggian 14.000 kaki (4.300m).[9]
Pada pukul 18.38, awak Saudia melaporkan telah mencapai 14.000 kaki (4.300m) dan meminta izin naik lebih tinggi. Petugas menolak dan meminta mereka untuk mempertahankan ketinggian tersebut terlebih dahulu. Sementara itu, pada pukul 18.39, pesawat Kazakhstan melaporkan telah berada di 15.000 kaki (4.600m), yang pada keadaan sebenarnya berada lebih tinggi, sekitar 16.348 kaki (4.983m), dan masih dalam tahap penurunan ketinggian.
Kurang dari satu menit kemudian, pada pukul 18.40, awak pesawat kargo Angkatan Udara Amerika Serikat melaporkan melihat ledakan besar di udara.[9] Upaya komunikasi selanjutnya dengan kedua pesawat tidak mendapat respons. Kedua pesawat telah bertabrakan: sayap kiri pesawat Kazakhstan menyayat sayap kiri Boeing 747, sementara stabilizer horizontal kiri Boeing 747 memotong bagian ekor pesawat Kazakhstan.[10]
Boeing 747 milik Saudia segera kehilangan kendali, berputar menurun dengan cepat sambil terbakar sebelum hancur di udara dan jatuh ke tanah dengan kecepatan mendekati kecepatan supersonik. Pesawat Ilyushin yang kehilangan sebagian besar sayap kiri dan ekornya jatuh berputar mendatar sebelum menghantam ladang di dekat lokasi jatuhnya pesawat Saudia. Seluruh 312 orang di pesawat Saudia dan 37 orang di pesawat Kazakhstan tewas.
Perekam suara kokpit pesawat Saudi menunjukkan bahwa para pilot mengucapkan istighfar dan melafalkan syahadat sebelum pesawat menghantam tanah.
Tabrakan terjadi sekitar 60 mil (100km) di barat Delhi. Puing-puing pesawat Saudi ditemukan di dekat desa Dhani, distrik Bhiwani, Haryana, sementara puing-puing pesawat Kazakhstan jatuh di dekat desa Birohar, distrik Rohtak, Haryana.[10]
Penyelidikan dan laporan akhir
Kecelakaan ini diselidiki oleh Komisi Lahoti yang dipimpin oleh hakim Pengadilan Tinggi Delhi, Ramesh Chandra Lahoti. Data perekam penerbangan dianalisis di Moskow dan Farnborough. Kesimpulan akhir menyatakan bahwa penyebab utama adalah kegagalan pilot pesawat Kazakhstan dalam mengikuti instruksi pengatur lalu lintas udara, baik akibat gangguan komunikasi maupun faktor lain.
Komisi juga menemukan bahwa pesawat Kazakhstan turun dari ketinggian yang ditetapkan, yaitu 15.000 kaki (4.600m), ke ketinggian yang lebih rendah secara bertahap. Salah satu penyebab penting adalah keterbatasan kemampuan bahasa Inggris para pilot, sehingga mereka sepenuhnya bergantung pada operator radio untuk komunikasi.[11] Ada kemungkinan instruksi terakhir disalahartikan, sehingga awak mengira ketinggian 14.000 kaki (4.300m), yang sebenarnya ditujukan untuk pesawat Saudia, adalah ketinggian mereka sendiri.
Selain itu, perbedaan sistem satuan (meter dan kilometer vs kaki dan mil laut) juga berpotensi menimbulkan kebingungan.[12] Investigasi juga mencatat bahwa operator radio tidak memiliki instrumen sendiri dan harus melihat ke panel pilot, yang membatasi kesadaran situasionalnya.
Selain itu, tim investigasi mencatat bahwa Bandar Udara Internasional Indira Gandhi saat itu belum dilengkapi radar pengawasan sekunder, yakni sistem yang mampu memberikan informasi tambahan seperti identitas dan ketinggian pesawat melalui pembacaan sinyal transponder. Sebagai gantinya, bandara hanya mengandalkan radar primer yang sekadar menampilkan jarak dan arah, tanpa informasi mengenai ketinggian.
Di samping itu, jalur penerbangan untuk pesawat yang berangkat dan yang datang masih menggunakan satu koridor yang sama dalam ruang udara sipil di sekitar New Delhi. Padahal, di sebagian besar wilayah lain, koridor tersebut dipisahkan: satu khusus untuk keberangkatan dan satu lagi untuk kedatangan. Namun pada tahun 1996, ruang udara Delhi hanya memiliki satu koridor sipil yang digunakan bersama, karena sebagian besar ruang udara berada di bawah kendali Angkatan Udara India. Lebih jauh lagi, kedua pesawat yang terlibat tidak dilengkapi sistem pencegah tabrakan di udara, yang seharusnya dapat memberikan peringatan kepada awak di kedua penerbangan tersebut.
Sebagai dampak dari kecelakaan ini, laporan investigasi merekomendasikan sejumlah perubahan pada prosedur lalu lintas udara dan infrastruktur di ruang udara New Delhi, antara lain:
Pemisahan jalur pesawat yang datang dan berangkat melalui pembentukan koridor udara yang terpisah
Pemasangan radar pengawasan sekunder untuk menyediakan data ketinggian pesawat
Pemberlakuan kewajiban penggunaan peralatan pencegah tabrakan pada pesawat komersial yang beroperasi di wilayah udara India
Pengurangan ruang udara di atas New Delhi yang sebelumnya berada di bawah kendali eksklusif Angkatan Udara India
Dampak dan tindak lanjut
Sebagai dampak dari kecelakaan ini, India mewajibkan seluruh pesawat yang beroperasi di wilayah udaranya untuk dilengkapi sistem pencegah tabrakan di udara (TCAS).[13] Kebijakan ini kemudian menjadi preseden penting secara global.
Hingga 2021, terdapat upaya untuk membangun memorial guna mengenang para korban di distrik Charkhi Dadri, yang direncanakan memuat nama-nama korban serta melibatkan berbagai lembaga terkait.
Dramatisasi media
Peristiwa ini diangkat dalam dokumenter berjudul "Head On!" yang ditayangkan di National Geographic Channel, serta menjadi topik episode "Sight Unseen" dalam seri dokumenter internasional Mayday.[14]
↑"Ahmedabad plane crash: 7 deadliest aviation disasters in the world". Wion (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 21 April 2026. A Saudi Arabian Airlines Boeing 747 and a Kazakhstan Airlines Ilyushin Il-76 collided mid-air due to a communication lapse and incorrect altitude assignment. The crash remains the world's deadliest mid-air collision.