Ihromi yang pernah memegang berbagai jabatan di lingkungan gereja dan dunia pendidikan ini juga terkenal aktif dalam kegiatan dialog antar iman. Ihromi sendiri dilahirkan dalam sebuah keluarga Sunda yang beragama campuran: ayahnya beragama Islam, sementara ibunya beragama Kristen. Ihromi bersama enam saudaranya yang lain dari 13 bersaudara[butuh rujukan] memilih agama Kristen, sementara saudara-saudara kandungnya yang lain memilih agama Islam.
Meskipun berbeda agama, hubungan kekeluargaan mereka tetap erat. Pengalaman dalam kehidupan pribadinya ini dibawanya ke dalam masyarakat, yang membuat Ihromi peduli dan aktif dalam kegiatan dialog antar iman di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Masa kecil
Ihromi menempuh pendidikan dasarnya di sekolah Kristen, Christelijke Hollandsch Inlandsche School di Garut dan lulus pada 1942. Ketika masih di bangku sekolah dasar, teman-temannya menjulukinya "profesor", karena ia berkacamata dan gemar membaca.
Setelah selesai dengan sekolah dasar, ia ingin menjadi insinyurmesin, karena itulah ia masuk ke sekolah teknik di Bandung dan lulus pada 1945. Di sekolah ini ia sempat bertemu dengan Ali Sadikin yang mengambil jurusan bangunan, dan kelak menjadi gubernur DKI Jakarta. Setamatnya dari sekolah teknik, cita-citanya berubah; kini ia ingin menjadi dokter, sehingga ia pun melanjutkan ke SMA Perjuangan di Garut dan Sumedang, dan lulus pada 1948.
Belajar teologi dan sastra
Selesai dari pendidikannya di bangku SMA, Ihromi bertemu dengan dr. Sanusi, ipar Bung Hatta, yang menganjurkannya masuk ke Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Ia pun mendaftarkan diri di sekolah itu dan lulus pada 1955. Tanpa diketahuinya, pada saat yang bersamaan, kakaknya, Habandi, juga mendaftarkan diri di sekolah yang sama, dan kelak sama-sama menjadi pendeta.
Selain Ihromi, pada tahun itu juga diberangkatkan sejumlah mahasiswa Indonesia lainnya untuk belajar di Amerika Serikat. Di antaranya adalah seorang temannya yang dijumpainya di GMKI, yaitu Omas, yang baru saja menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum UI dan dikirim untuk mendalami antropologi budaya di Universitas Cornell di Ithaca, New York.
Pada November tahun itu juga mereka berdua menikah di Rittman, Ohio. Dari pernikahan ini dilahirkan dua orang anak perempuan, yaitu Kurniati, seorang dokter dan Ade Satyawati yang menjadi insinyur.
Pada 1963 Ihromi meraih gelar Master of Arts dari Universitas Harvard. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang meraih keahlian dalam bahasa Ibrani di luar negeri.
Ihromi ditahbiskan sebagai pendeta Gereja Kristen Pasundan pada 18 April1955. Ia juga menjadi dosen untuk mata kuliah Perjanjian Lama dan bahasa Ibrani di almamaternya, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai rektor di sekolah itu untuk dua periode. Gelar profesor diperolehnya pada 1974 dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, karena ia menjadi Guru Besar Luar Biasa di Jurusan Sastra Semit di fakultas itu.
Sebagai pendeta GKP Ihromi aktif memberikan kontribusi pemikiran melalui komisi teologi, badan kesejahteraan dan dalam pengembangan hubungan gereja dan lembaga ekumenis di luar negeri.
Di tingkat internasional, Ihromi beberapa kali pernah mewakili pihak Kristen di Indonesia dalam pertemuan dialog antar iman.
Akhir hayat
Ihromi meninggal dunia pada hari Minggu, 25 September 2005, setelah beberapa lama menderita menderita komplikasi akibat stroke. Anaknya yang kedua, Ade Satiawati telah mendahuluinya setahun sebelumnya.