Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Abdul Aziz bin Ibrahim bin Isa bin Muzahim al-Qurthubi[1] (bahasa Arab:أبو بكر محمد بن عمر بن عبدالعزيز بن إبراهيم بن عيسى بن مزاحم القرطبيcode: ar is deprecated ) atau lebih dikenal dengan Ibnu al-Quthiyyah (lahir di Cordoba,[2] wafat di Cordoba pada 23 Rabiul awal 367 H/8 November977) adalah seorang sejarawan, sastrawan dan ilmuwan dibidang bahasa Arab dan nahwu). Ia merupakan keturunan Sarah dari suku Goth yang menikah dengan kakeknya Isa bin Muzahim, hamba sahaya yang dimerdekakan oleh Umar bin Abdul-Aziz. Sarah merupakan cucu dari Raja Visigoth yang menjadi utusan bagi Hisyam bin Abdul-Malik yang berlindung dari pamannya dan menikah dengan Ibnu Muzahim kemudian pindah ke Al-Andalus.[3] Maka anak-anaknya dinamakan sebagai Bani al-Quthiyyah atau Dinasti Goth. Ayahnya adalah seorang QadiSevilla pada masa kekhalifahan Abdurrahman III. Ibnu al-Quthiyyah mempelajari fikih, hadis dan sastra di Sevilla dan Cordoba.[4] tetapi ia lebih menguasai ilmu bahasa Arab, ilmu riwayat hadis dan sejarah.
Ibnu al-Hidza` dan Ibnu Abdi al-Barr memujinya[5] dan menyebutnya sebagai orang yang paling pandai dalam bidang bahasa Arab, nawadir al-Lughah dan syair pada zamannya.[2] Ketika Khalifah Al-Hakam II bertanya kepada Abu 'Ali al-Qali, seorang utusan dari timur, mengenai orang yang paling pandai dibidang bahasa Arab di Al-Andalus, maka ia menjawabnya ia adalah Ibnu al-Quthiyyah.[6]
Ibnu al-Faridhi, Abu al-Walid Abdullah bin Muhammad bin Yusuf (1966), Tarikh al-'Ulama` al-Andalus, ad-Dar al-Mashriyyah li at-Ta`lif wa at-Tarjamah
Ibnu Khallikan, Abu al-'Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Abi Bakar (1972), Wafayatu al-A'yan wa Anba`u Abna`i az-Zaman, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut
al-Hamawi, Yaqut (1993), Mu'jam al-Adibba`, Irsyadd al-Arib ila Ma'rifati al-Adib, Dar al-Gharb al-Islami