Sejarah
Pada abad ke-19, beberapa penjelajah berbahasa Jerman, seperti Wilhelm von Harnier, Georg Schweinfurth, dan Richard Buchta, melakukan perjalanan ke tempat yang sekarang disebut Sudan Selatan. Pada tahun 1878, Emin Pasha, seorang Silesia, diangkat menjadi gubernur provinsi Equatoria di Sudan Turki-Mesir. Ia memperkenalkan tanaman baru ke wilayah tersebut, memperluas sistem jalan, dan membawa wilayah baru di bawah pengaruh Turki. Ia kemudian harus melarikan diri dengan pemberontakan Mahdi. Pada awal abad ke-20, penjelajah Jerman Wilhelm Banholzer dan Diedrich Westermann mempelajari kelompok etnis Shilluk di Sudan Selatan.[1]
Pada tahun 1964, fotografer dan pembuat film Leni Riefenstahl melakukan perjalanan ke wilayah yang saat itu dikenal sebagai Sudan dan memotret anggota suku Nuba. Foto-fotonya kemudian muncul di majalah-majalah bergambar Jerman. Pada paruh kedua abad ke-20, masyarakat Kristen di Sudan Selatan melancarkan perang kemerdekaan yang berlangsung lama melawan Muslim Arab di utara. Orang-orang Jerman seperti Kilian Kleinschmidt aktif dalam misi-misi PBB di negara tersebut. Pada tahun 1997, Stephan Reimund Senge mendirikan Initiative Sudan, yang menyediakan bantuan di Sudan Selatan yang dilanda perang.[1]
Bahkan sebelum kemerdekaan Sudan Selatan, Jerman memulai kerja sama pembangunan bilateral resmi dengan Sudan Selatan pada tahun 2006. Pada tahun 2010, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit mendirikan kantor di Juba. Setelah referendum kemerdekaan yang diakui secara internasional, Jerman segera mengakui kemerdekaan Sudan Selatan dan mendirikan kedutaan besar Jerman di Juba. Setelah perang saudara dimulai di negara tersebut, angkatan bersenjata Jerman harus menerbangkan warga negara Jerman keluar dari negara tersebut pada tahun 2012. Jerman memberikan bantuan kemanusiaan dan Bundeswehr berpartisipasi dalam misi PBB UNMISS.[1]
Karena situasi keamanan yang buruk di negara tersebut, kedutaan besar Jerman yang baru didirikan di Juba harus dievakuasi pada tahun 2016. Namun, kedutaan tersebut tidak ditutup, tetapi tetap beroperasi secara formal.[2] Pada tanggal 22 Maret 2025, Jerman menutup kedutaannya karena negara tersebut berada di ambang perang saudara.[3]