Berikut ini beberapa fam-fam (matarumah) yang secara turun-temurun mendiami negeri Hote.[2]
Kapailu
Kasongat
Lessy
Paitaha
Patty
Rumeon
Rumonin
Simantuat
Tuharea
Wael
Wajo
Wance
Hubungan sosial
Negeri Hote terikat hubungan wal ya (sejenis hubungan pela) dengan negeri Banggoi di sebelah barat. Hubungan ini diperkirakan telah terjadi sejak zaman penjajahan Portugis di Kepulauan Maluku.[3] Hubungan antara negeri Hote dan Banggoi ini masih terjalin dengan baik sampai saat ini, jika salah satu dari kedua negeri ini mengadakan acara, maka raja salah satu negeri ini akan diundang untuk menghadiri acara tersebut. Contoh yang terbaru adalah pada saat prosesi pengecoran tiang alif Masjid Al-Huda di negeri Banggoi yang turut mengundang raja Hote untuk hadir dalam acara tersebut.[4]
Pemerintah negeri Hote juga terlibat sengketa batas wilayah dengan negeri administratif Silohan yang dimekarkan dari negeri induk Hote. Areal sengketa ini terletak di tanah petuanan negeri Hote, dimana dapat ditemukan kayu balsa dalam jumlah yang cukup besar di sana.[2]
↑Yanlua, Mohdar; Hariyanti, Tuti (2020). Sandia, Zet A. (ed.). Uba Tibul(PDF). Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar. hlm.24. ISBN978-623-236-265-9. Diakses tanggal 07-06-2024.