Dalam usia 30 tahun, pada 18 Juli 1926, Mekkelholt menerima tahbisan sebagai imam Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Ia kemudian ditunjuk sebagai Prefek Apostolik Benkoelen pada 19 Januari 1934.
Seiring dengan peningkatan status prefektur aposotolik dan perubahan nama dari Benkoelen menjadi Palembang pada 13 Juni 1939, Mekkelholt terpilih menjadi Vikaris Apostolik Palembang pada 11 Juli 1939, dengan bergelar Uskup Tituler Athyra. Penahbisannya sebagai uskup berlangsung pada 29 Oktober 1939, di mana ia ditahbiskan oleh Paus Pius XII. Paus didampingi oleh Uskup Agung Celso Benigno Luigi Costantini yang merupakan Sekretaris Kongregasi Propaganda Fide bergelar Uskup Agung Tituler Theodosiopolis di Arcadia dan juga oleh Uskup Agung Henri Streicher, M. Afr. yang merupakan Vikaris Apostolik Emeritus Uganda bergelar Uskup Agung Tituler Brysis.
Seiring peningkatan status Vikariat Apostolik Palembang menjadi Keuskupan Palembang berdasarkan Konstitusi Apostolik Qoud Christus Adorandus tentang berdirinya Hierarki Gereja Katolik di Indonesia secara mandiri oleh Paus Yohanes XXIII, Mgr. Mekkelholt terpilih menjadi Uskup Palembang pertama pada 3 Januari 1961. Pada 5 April 1963 dalam usia 67 tahun, ia mengundurkan diri dari posisi sebagai Uskup Palembang dan tahta titulernya berpindah menjadi Dausara. Kepemimpinan Keuskupan Palembang dilanjutkan oleh Uskup Koajutor Palembang, Mgr. Joseph Hubertus Soudant, S.C.J. yang telah mengisi jabatan tersebut sejak tahun 1961.
Pada 26 Desember 1969, Mgr. Mekkelholt meninggal dunia dalam usia 73 tahun.