Helm tempurIlustrasi helm tempur yang biasa digunakan bangsa Kelt, Iliria, dan Italia Kuno.Seorang tentara dari India memakai helm tempur modern.
Helm tempur atau helm perang atau helm militer adalah sejenis zirah personal yang dirancang secara spesifik untuk melindungi bagian kepala dalam penyerangan atau pertempuran.
Helm yang dirancang untuk keperluan perang termasuk dalam jenis penutup kepala paling awal yang dikembangkan dan dikenakan oleh manusia, dengan contoh-contohnya ditemukan di berbagai masyarakat di seluruh dunia, yang paling awal berasal dari Zaman Perunggu. Sebagian besar helm tempur awal dirancang untuk melindungi dari serangan jarak dekat, benda-benda yang dilemparkan, dan proyektil berkecepatan rendah. Pada Abad Pertengahan, helm yang melindungi seluruh kepala menjadi bagian umum dari set baju zirah pelat. Perkembangan senjata api, meriam, dan senjata peledak membuat baju zirah yang dimaksudkan untuk melindungi dari serangan musuh menjadi usang, namun helm ringan tetap digunakan untuk tujuan identifikasi dan perlindungan dasar hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika perkembangan dalam perang modern menyaksikan kebangkitan kembali helm tempur yang dirancang untuk melindungi dari pecahan peluru, puing-puing, dan beberapa amunisi senjata api kaliber kecil. Sejak akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, helm telah berevolusi untuk melindungi dari gelombang kejut ledakan dan menyediakan titik pemasangan untuk perangkat dan aksesori seperti kacamata penglihatan malam dan peralatan komunikasi.[1]
Pada awalnya, helm tempur dibuat dari kulit dan kuningan, dan kemudian dari perunggu dan besi pada Zaman Perunggu dan Zaman Besi. Helm perang mulai ditempa dari baja di banyak masyarakat sekitar 950 M. Ketika itu, helm tempur digunakan hanya sebagai perlengkapan militer, melindungi kepala dari sabetan dan tusukan pedang, tembakan panah serta serangan senapan lontak.
Penggunaan helm untuk militer mulai berkurang setelah tahun 1670-an, dan senjata api senapan mengakhiri penggunaannya oleh prajurit pejalan kaki setelah tahun 1700-an.[4] Pada abad ke-18, unit kavaleri mengenakan kuiras badan dari baja, dan sering kali menggunakan tengkorak logam di balik topi mereka, yang disebut "rahasia". Helm kulit berduri Prussia, hampir tidak menyediakan perlindungan dari meningkatnya pengunaan artileri pada Perang Dunia I, dan pada tahun 1916 digantikan oleh helm baja Jerman, atau Stahlhelm, dan setelah itu dipakai hanya demi tradisi.[5][6][7]
Perang Napoleon menandai penggunaan helm kavaleri berhias yang diperkenalkan kembali untuk kuirasier dan dragoon dalam beberapa pasukan. Helm ini terus digunakan oleh pasukan Prancis pada Perang Dunia I sampai tahun 1915, sampai digantikan oleh helm Adrian baru Prancis.[8] Helm Adrian Prancis adalah helm baja modern pertama[9][10] dan dengan segera diikuti oleh penggunaan helm baja serupa oleh bangsa-bangsa lainnya.
Perang Dunia I dan meningkatnya penggunaan artileri telah memperbaharui kebutuhan untuk helm baja, yang dengan cepat diperkenalkan oleh banyak negara yang berperang untuk digunakan oleh para prajurit pejalan kakinya. Pada abad ke-20, helm macam ini menawarkan perlindungan untuk kepala dari pecahan peluru.[11]
Militer pada masa sekarang sering kali menggunakan helm berkualitas tinggi yang dibuat dari bahan balistik semacam Kevlar dan Aramid, yang menawarkan perlindungan yang lebih baik. Beberapa helm juga memiliki kualitas perlindungan non-balistik, meskipun banyak yang lainnya tidak begitu.[12] Luka non-balistik dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya gelombang kejut konkusif dari ledakan, serangan fisik, kecealakaan kendraan bermotor, atau terjatuh.[13]
Galeri
Helm tertutup abad pertengahan Austria, contoh dari helm yang terlindungi