Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani
Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani
Gusti Noeroel ꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦤꦸꦫꦸꦭ꧀
Gusti Raden Ayu
Goesti Noeroel, ca1938
Kelahiran
(GRA.) Goesti Raden Adjeng Siti Noeroel Koesoemowardhani
(GRAy) Goesti Raden Ayu Siti Noeroel Koesoemowardhani (1921-09-17)17 September 1921 Surakarta, Hindia Belanda
(GKR.) Gusti Kanjeng Ratu Timur / ( GRA.) Gusti Raden Adjeng Mursudarijah / (GRAy.) Gusti Raden Ayu Mursudarijah
(GRAy.) Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani (17 September 1921 – 10 November 2015) adalah putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII (tujuh),[1] dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Ayah Gusti Noeroel adalah seorang AdipatiMangkunegaran yang beristrikan putri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ibu Gusti Noeroel adalah puteri ke-12 Sultan Hamengku Buwono VII dari permaisuri ketiga, G.K.R. Kencono. Nama asli ibunya adalah G.R.Ay. Mursudarijah.[2] K.G.P.A.A. Mangkunegara VII sendiri adalah pemegang tampuk pemerintahan Mangkunegaran dari tahun 1916-1944.
Kehidupan awal
Gusti Nurul lahir di Istana Mangkunegaran pada 17 September 1921. Ia merupakan putri tunggal dari pasangan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur. Didikan ibunya yang modern dan berpikiran terbuka membentuk kepribadian Gusti Nurul, tanpa meninggalkan identitasnya sebagai putri Mangkunegaran yang mahir menari dan mampu bergaul di tingkat internasional. Sejak masa remaja hingga dewasa, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Gusti Nurul dikenal tidak hanya karena bakat menarinya, tetapi juga kemampuannya dalam bidang sastra serta prinsip hidup yang membuat banyak orang menghormatinya.
Gusti Noeroel terkenal memiliki paras yang cantik. Karena kecantikannya, pada saat itu Gusti Noeroel menjadi primadona di Kota Solo dan didambakan para tokoh negara. Karena parasnya yang ayu, cerdas, serta punya keteguhan dalam memegang sikap sehingga Ratu Belanda menjulukinya 'De Bloem van Mangkunegaran' (kembang dari Mangkunegaran).[3] Mulai dari mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang biasa mengirimkan kado melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran ketika rapat kabinet digelar di Yogyakarta. Gusti Noeroel juga didambakan oleh Kolonel GPH Djatikusumo, salah seorang prajurit militer. Yang menarik adalah mantan Presiden Soekarno yang juga tertarik dengan Gusti Noeroel tetapi konon kalah bersaing dengan Sutan Sjahrir.[4] Tokoh negara lainnya yang mencoba meminang Gusti Noeroel adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki 9 orang selir. Namun semua tokoh tersebut tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Gusti Noeroel. Putri bangsawan ini memutuskan untuk menerima pinangan seorang militer berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso.
Kecantikan Gusti Noeroel yang termasyhur ini juga dibarengi dengan kepiawaiannya menari. Suatu kali, di usianya yang masih 15 tahun, Gusti Noeroel diminta datang secara khusus untuk menari di hadapan RatuWilhelmina di Belanda. Tarian tersebut dipersembahkan sebagai kado pernikahan Putri Juliana. Menariknya, saat itu rombongan dari Mangkunegaran tidak membawa gamelan untuk mengiringi tarian Gusti Nurul. Tarian itu diiringi alunan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan melalui Solosche Radio Vereeniging, yang siarannya bisa ditangkap dengan jernih di Belanda.[5]
Gusti Noeroel juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang membidani berdirinya Solosche Radio Vereeniging, stasiun radio pertama di Indonesia.
Prototipe gadis modern di zaman kesultanan
Gusti Nurul tumbuh di lingkungan istana yang kental dengan nilai-nilai tradisional, namun ia memiliki pandangan tegas terhadap poligami. Sepanjang hidupnya, ia menolak sejumlah lamaran, termasuk dari Bung Karno, Sutan Syahrir, GPH Djatikusumo (putra Sri Susuhunan Paku Buwono X), hingga Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Penolakan terhadap Sultan Hamengkubuwono IX, yang saat itu telah beristri, didasari prinsipnya bahwa seorang perempuan terhormat tidak akan menikahi pria yang sudah beristri, meskipun dijanjikan posisi sebagai permaisuri. Baginya, perempuan berpendidikan tinggi tidak seharusnya melukai hati perempuan lain.
Pemikiran dan produktivitas Gusti Nurul tidak terlepas dari pendidikan yang diberikan oleh Kanjeng Gusti Mangkunegara VII. Semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, diberikan kesempatan yang setara untuk mengenyam pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal dilaksanakan dengan mendatangkan guru privat dari keluarga Belanda, sedangkan untuk masyarakat umum, Mangkunegara VII mendirikan sekolah desa dan sekolah khusus untuk perempuan.
Bahasa Belanda menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang dipelajari oleh Gusti Nurul. Melalui pembelajaran ini, ia banyak membaca buku-buku Belanda dan mengenal pemikiran modern gadis-gadis Belanda yang diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hidup, merancang masa depan, dan hidup mandiri. Pemikiran dan sikap Gusti Nurul juga sangat dipengaruhi oleh ketokohan Raja Mangkunegara VII, yang dikenal ahli dalam negosiasi, memiliki keterampilan menulis, serta pandangan dan analisis yang tajam.
Meskipun Praja Mangkunegara menjalin kerja sama yang baik dengan pihak Kolonial Belanda, nilai-nilai falsafah budaya Jawa tetap dipertahankan. Hal ini tecermin dalam pembelajaran seni tari yang diberikan kepada Gusti Nurul. Puncaknya, pada 7 Januari 1937, Gusti Nurul diberi kehormatan untuk menampilkan tari Sari Tunggal dalam acara pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard di Belanda. Penampilannya tidak hanya menampilkan seni tari, tetapi juga membuktikan bahwa masyarakat Timur mampu mencapai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, meskipun berada di bawah dominasi bangsa asing. Ketenangan dan kesederhanaan yang terpancar dari gerakan tari Sari Tunggal bahkan menimbulkan rasa iri dari pihak Belanda, yang mengakui kehidupan mereka yang cenderung materialistis.[6]
Meskipun banyak mempelajari budaya dan pemikiran modern dari Belanda, Gusti Nurul tetap menjunjung tinggi tata krama dan membangun jati dirinya sebagai perempuan Jawa. Salah satu nilai yang ia pegang teguh adalah sifat astagina, yang mencakup ajaran untuk mencintai budaya sendiri, gigih memperjuangkan keinginan, memanfaatkan sumber daya dengan bijak untuk hidup berkecukupan, cermat dalam pekerjaan, rajin bertanya untuk menambah ilmu pengetahuan, memahami ilmu hitung, hidup hemat, dan memiliki cita-cita yang tinggi.[7]
Perpaduan antara sikap modernitas dan berkemajuan, yang diiringi dengan konsistensinya sebagai perempuan dengan budaya falsafah Jawa membawa Gusti Nurul sebagai sebuah prototipe perempuan modern. Apalagi beliau berada pada masa dimana perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap hidup laki-laki tanpa bargaining position. Keberpihakan Raja Mangkunegara VII terhadap hak- hak perempuan dimanfaatkan dengan baik oleh Gusti Nurul sehingga melahirkan tokoh perempuan yang berkemajuan pada masa kesultanan.[8]
Pernikahan
Gusti Nurul melabuhkan cintanya di usia yang ke-30. Usia yang tak lagi muda sebagai putri Solo. Bukan kepada bangsawan pun kepada tokoh politik nasional. Gusti Nurul menikah dengan RM Surjosularso, seorang tentara berpangkat kolonel, yang tak lain masih terhitung sebagai sepupunya sendiri. Kolonel RM Surjo Sularso saat itu bukanlah sosok menonjol dalam TNI. Lulusan KMA Breda 1939 ini merupakan perwira yang banyak bekerja di belakang meja di detasemen Kavaleri. Setelah menikah, ia bersedia menetap di Bandung, meninggalkan hingar-bingar dan kemewahan kehidupan di dalam istana, sampai akhirnya meninggal di rumah sakit Santo Carolus, Bandung, pada Selasa, 10 November 2015, pukul 08.20 WIB.[9]
Peran dan kontribusi
Gusti Nurul memiliki kemampuan menonjol di segala bidang. Selain kemampuan menari, Gusti Nurul dikenal suka berkegiatan sosial, sastra, seni, dan olahraga. Kemahirannya dalam bidang olahraga ditunjukkan dalam bermain tenis dan mengendarai kuda.
Pada Masa Revolusi Fisik (1945-1949), Gusti Nurul aktif berdiplomasi dan menyuarakan persatuan sebagai seorang perempuan di tengah badai pergantian sistem kepemimpinan dari bentuk penjajahan ke bentuk republik.
Gusti Nurul pun terlibat dalam proses pembangunan membangun stasiun radio: Solosche Radio Vereeniging, yang menjadi cikal bakal pembentukan Radio Republik Indonesia (RRI).[10]
Menari di Belanda
Pada tahun 1937, Mangkunegara VII bersama permaisurinya, Kanjeng Ratu Timur, Gusti Nurul, dan rombongan menghadiri undangan Ratu Wilhelmina dalam perayaan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard. Dalam acara tersebut, Mangkunegara VII mempersembahkan sebuah hadiah berupa tarian tunggal Serimpi yang dibawakan oleh Gusti Nurul, diiringi alunan musik klenengan dari Mangkunegaran yang disiarkan melalui SRV. Proyek siaran ini melibatkan sejumlah insinyur untuk memastikan kelancarannya.
Namun, di tengah tarian, terjadi gangguan sinyal radio yang membuat suara musik tidak terdengar. Untuk mengatasi situasi tersebut, salah satu anggota rombongan Mangkunegaran memberikan aba-aba dengan suara keprak, sehingga Gusti Nurul dapat menyelesaikan tariannya dengan tepat. Penampilan ini disaksikan tidak hanya oleh Ratu Wilhelmina, tetapi juga oleh para anggota kabinet di Amsterdam.
Tarian Gusti Nurul berhasil memukau para tamu undangan, yang mengagumi keindahan budaya adi luhung dari wilayah swapraja yang berada di bawah kekuasaan kolonial namun tetap mampu menunjukkan kebudayaan luar biasa. Kekaguman ini menjadi salah satu bukti keberhasilan Mangkunegara VII dalam mengembangkan seni dan budaya, termasuk dengan melibatkan perempuan Mangkunegaran sebagai bagian penting dari upaya tersebut.[11]
Kematian
Pada tanggal 10 November 2015 pukul 08.00 WIB, Gusti Noeroel mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Borromeus, Bandung setelah sebelumnya dirawat selama 2 minggu.[12] Di usia 94 tahun, Gusti Noeroel tutup usia dikarenakan sakit diabetes yang dideritanya. Gusti Noeroel meninggalkan 7 orang anak dan 14 orang cucu dari pernikahannya dengan Serjo Soejrso. Ketujuh orang anaknya adalah Sularso Basarah, Parimita Wiyarti, Aji Pamoso, Heruma Wiyarti, Rasika Wiyarti, Wimaya wiyarti, dan Bambang Atas Aji. Nama terakhir merupakan anak angkat Gusti Nurul.[13]