Gula cakar adalah salah satu makanan tradisional dan oleh-oleh khas Majalengka, yang terbuat dari bahan gula pasir. Nama yang unik ini diberikan karena bentuknya yang terlihat seperti tercakar atau tercabik. Gula cakar sendiri terbuat dari gula pasir yang melalui proses kristalisasi, sehingga memiliki rasa khas yang berbeda dari gula biasa.[1] Tampilannya terlihat sederhana, berbentuk kubus (kotak) berukuran sekitar 5 cm dengan tekstur permukaan berpori penuh rongga seperti permukaan batu karang dan memiliki berwarna merah muda.[2][1]
Bentuknya yang memiliki pori-pori tidak beraturan membuat permukaannya kasar dan tampak seperti bekas cakaran. Karena tampilannya yang unik dan terlihat menarik, gula cakar kerap kali dikira sebagai kue kering oleh wisatawan yang berbelanja oleh-oleh. Selain bisa dimakan secara langsung, gula cakar juga bisa digunakan untuk memberi rasa manis pada minuman seperti teh dan kopi.[1] Teksturnya yang mudah larut dan rasa manisnya yang khas menjadikan gula ini pilihan sempurna untuk melengkapi minuman hangat maupun dingin.[1][2] Gula cakar hampir selalu tersedia di ruang tamu rumah keluarga, di warung-warung, menjadi oleh-oleh, dan di kalangan petani, sirup dari gula cakar menjadi tradisi minum saat istirahat siang.[2]
Pada zaman dulu masyarakat yang memproduksi gula cakar masih terbilang banyak, namun untuk saat ini hanya ada di beberapa daerah saja yang menghasilkan gula cakar dengan produksi tergantung pada permintaan konsumen dan kebutuhan.[2]
Asal Mula Gula Cakar
Secara tradisi lisan, keberadaan gula cakar ini dicetuskan sekitar tahun 1920 an oleh orang Tionghoa, tetapi tidak bisa dibuktikan secara fisik atau artefak. Cerita itu diperoleh secara turun temurun yang bergulir secara informal. Solihat Kodar (dalam Pikiran Rakyat 2017) mengatakan bahwa pada zaman itu, di Majalengka pernah dikenal sebagai salah satu kabupaten yang mempreoduksi gula putih yang breada di Pabrik Gula Kadipaten dan Pabrik Gula Jatiwangi.[2]
Namun setelah kedua pabrik gula tersebut ditutup, produksi gula cakar menjadi tidak sebanyak sebelumnya. Tetapi masih ada yang tetap memproduksi dan menjual gula cakar ke pasar tradisional seperti Pasar Kadipaten. Kemudian, pada saat tahun 1990 lalu, minuman sirup gula cakar masih sangat merakyat di Majalengka, terutama di jalur Kadipaten, Jatitujuh, perkotaan Majalengka, Cigasong, Panyingkiran, dan lainnya.[2]
Sampai tahun 1996 lalu, produksi gula cakar memang masih ada sebagian pengrajin yang belum memperhatikan keamanan pangan. Misalnya, menggunakan pewarna merah untuk tekstil dan sedikit sabun beko, untuk menimbulkan gelembung gula cakar tersebut. Namun seiring berjalannya waktu masyarakat mulai mengganti pewarna tekstil dengan pewarna makanan, dan sabun beko diganti dengan soda kue.[2]
Proses Pembuatan Gula Cakar
Bahan gula cakar untuk satu kali pengolahan dengan 10 Kg gula pasir bisa menghasilkan kurang lebih 400 kotak gula cakar yang dimasukkan kedalam tolombong. Bahan-bahan gula cakar terdiri dari gula pasir, air, soda kue, dan pewarna secukupnya. Timbangan digunakan untuk menakar gula pasir, wadah untuk menakar air, sendok makan untuk menakar soda kue dan pewarna. Alat yang digunakan untuk memasak berupa katel atau wajan, tungku, loyang bahan alumunium dan pisau. Alat untuk menampung hasil gula cakar sebelum dikemas menggunakan “tolombong” (benda berbentuk wadah dengan cekungan).[2]
Prosedur membuat gula cakar sebagai berikut:
Menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, seperti gula pasir yang sudah ditakar, pewarna makanan, soda kue, dan air.
Mencampur gula pasir dan air di dalam panci diatas tungku.
Setelah cukup tercampur, api tungku mulai dinyalakan.
Panci berisi air terus diaduk selama belum sampai mendidih.
Ketika sudah mendidih, kemudian ditambahkan pewarna makanan dan soda kue sampai muncul gelembung udara.
Gula Cakar yang sudah mengembang segera diangkat dan dituangkan ke dalam loyang.
Gula Cakar cair dibiarkan sampai mendingin dan mengeras.
Setelah mengeras, Gula Cakar dipotong mendekati ukuran kubus.[2]