Giri adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang terletak tepat di barat pusat kota Banyuwangi. Pada tahun 1995, Giri bagian utara dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Kalipuro.[1] Akibat pemekaran tersebut, Giri menjadi kecamatan dengan luas wilayah tersempit di Banyuwangi (sekitar 21 km²), sekaligus penduduk paling sedikit kedua setelah Licin (sekitar 32 ribu jiwa). Jalan utama yang melewati kecamatan ini adalah Jalur Lingkar Barat Kota yang mencakup ruas Jl. Brawijaya - Gajah Mada - Raden Wijaya. Beberapa ikon dari Kecamatan Giri diantaranya GOR Tawang Alun, Lapangan kecamatan, dan Wisata Goa Sodong.[2] Selain itu, juga terdapat perguruan tinggi unggulan di kecamatan ini seperti FIKKIA Universitas Airlangga dan Universitas Dr. Soekardjo (STIKES Banyuwangi).[3][4]
Geografi
Peta lokasi Kecamatan Giri
Giri adalah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan ibu kota Banyuwangi. Bagian timur Giri seperti Kelurahan Mojopanggung dan Penataban merupakan kawasan urban padat penduduk yang menjadi penyangga dari Kota Banyuwangi. Berbeda dengan bagian baratnya (seperti Desa Grogol dan Jambesari) yang masih berupa pedesaan dan dikelilingi persawahan serta perkebunan yang ditanami komoditas seperti kelapa dan kopi.
Batas wilayah Kecamatan Giri adalah sebagai berikut:[2]
Universitas Dr. Soekardjo (UNIDSOE) - sebelum tahun 2025 dikenal sebagai STIKES Banyuwangi.[4]
Kebudayaan
Puter Kayun Boyolangu
Puter kayun
Puter kayun adalah acara tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Boyolangu tiap tanggal 10 Syawal. Acara ini adalah ritual napak tilas untuk mengenang tokoh bernama Ki Buyut Jakso atas jasanya dalam membuka jalan di kawasan Banyuwangi utara. Napak tilas tersebut berupa pawai menggunakan andong atau dokar yang dihias. Andong kemudian berjalan dan menempuh perjalanan dari Boyolangu ke Pantai Watu Dodol. Warga yang menaiki dokar juga mengenakan pakaian khas Suku Osing. Dokar dipakai sebagai simbol masyarakat Boyolangu yang banyak bekerja sebagai kusir dokar. Namun setiap tahunnya, jumlah dokar yang dipakai dalam pawai makin menyusut karena berkurangnya profesi kusir dokar di Boyolangu. Akan tetapi, hal ini tidak mengganggu kekhidmatan masyarakat dalam menjalankan ritual. Bahkan masyarakat juga berbondong-bondong mengiringi pawai sehingga menambah keramaian.[7][8]