Gereja Santo Yusuf adalah sebuah gereja parokiKatolik yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Gereja ini merupakan pusat dari Paroki Santo Yusuf Cirebon, atau disebut juga sebagai Paroki Yos Sudarso, yang menjadi bagian dalam Dekanat Priangan pada Keuskupan Bandung.[1] Gereja ini dinamai menurut Yusuf, ayah Yesus Kristus. Reksa pastoral di gereja ini dilaksanakan oleh para Ordo Salib Suci (OSC), sejak kedatangan para imam OSC di Indonesia.
Gereja ini merupakan gereja tertua di wilayah pastoral Keuskupan Bandung.
Sejarah
Gereja Santo Yusuf mulai dibangun sejak tahun 1878 dan selesai dibangun pada tahun 1880. Perancang bangunannya adalah seorang arsitek Eropa bernama Gaunt Slotez.[2] Gereja ini didirikan oleh Louis Theodore Gonsalves,[3] seorang pemilik pabrik gula terkemuka di Pulau Jawa pada masa itu.[4]
Pada plakat pembangunan yang diletakkan di fasad gereja tertulis sebagai berikut.
Bahasa Latin
Bahasa Indonesia
LUDOVICUS THEODORUS GONSALVES
COMMENDATOR ORDINIS EQUESTRIS S. GREGORII MAGNI
HOC TEMPLUM DEI AEDIFICAVIT
ANNO DNI MDCCCLXXX
Ludovicus Theodorus Gonsalves
Komandan Ksatria Santo Gregorius Agung
Mendirikan Rumah Tuhan ini
pada Tahun Tuhan 1880
Pada tahun 1878, Cirebon ditetapkan sebagai stasi pertama di Jawa Barat, dan pada saat itu masih berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia. Kehadiran Pastor A. v. Moorsel, SJ sebagai pastor pertama menandai awal penggembalaan di Stasi Cirebon. Gedung gereja kemudian diresmikan pada 10 November 1880 oleh Vikaris Apostolik Batavia Adam Carel Claessens.[5]
Pada masa awal berdirinya, gedung gereja memiliki bentuk dasar persegi panjang dengan ukuran sekitar 30 meter x 8,2 meter, dan dapat menampung sekitar 300 umat. Seiring dengan perkembangan umat Katolik di Cirebon, gereja ini mengalami pengembangan signifikan pada awal tahun 1900-an. Melalui perluasan tersebut, kapasitas gereja meningkat hingga dapat menampung sekitar 800 umat, lengkap dengan fasilitas pendukung untuk kebutuhan peribadatan.[2]
Perjalanan pastoral di wilayah ini mengalami perubahan pada 13 November 1926, ketika tugas penggembalaan di Cirebon dan beberapa wilayah Jawa Barat tidak lagi ditangani oleh para Yesuit, tetapi dialihkan kepada para Pastor Ordo Salib Suci (OSC). Peralihan ini ditandai dengan kehadiran tiga imam OSC di Pulau Jawa pada 6 Februari 1927, yaitu Pastor Jacobus Hubertus Goumans, OSC, Pastor M. Nillesen, OSC, dan Pastor J. de Rooy, OSC.[5]
Gereja Santo Yusuf Cirebon merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Kota Cirebon. Hal ini didasari dengan terbitnya Surat Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001 yang menetapkan bangunan ini sebagai Benda Cagar Budaya.[8] Tidak jauh dari Gereja Santo Yusuf, terdapat juga Gereja Kristen Pasundan Cirebon sebagai gereja Protestan tertua di Jawa Barat, yang juga ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya di Kota Cirebon. Gereja Kristen Pasundan dibangun terlebih dahulu dibandingkan Gereja Santo Yusuf, yakni pada tahun 1788.[9]
Bangunan
Pada tahap awal, massa bangunan gereja merupakan satu kesatuan bentuk persegi panjang.[2] Gereja ini dibangun dengan ketinggian yang tidak terlalu menjulang, disertai sebuah menara di bagian belakang bangunan. Di dalamnya juga terdapat lonceng yang ditempatkan dalam sebuah struktur berbentuk cungkup.[8]
Namun, dalam pengembangannya, gereja mengalami penambahan massa terutama pada bagian belakang bangunan existing. Hasil dari perkembangan massa ini menciptakan bentuk massa bangunan menyerupai huruf L, sebagai gabungan dari dua geometri persegi panjang. Bentuk ini menggambarkan salah satu tipologi bangunan gereja yang dikenal sebagai advancing column, yang mencerminkan orientasi ruang yang bergerak menuju titik pusat liturgi. Selain itu, baik bangunan lama maupun tambahan menunjukkan kecenderungan simetri, sehingga secara arsitektural tampak bahwa prinsip Gestaltisme turut memengaruhi pembentukan bentuk dan keteraturan komposisi bangunan.[2]
Pembagian ruangan
Area doa di serambi
Panti umat
Panti imam
Gereja Santo Yusuf menerapkan organisasi ruang yang simetris. Ruang penerima umat, area duduk umat (panti umat), dan altar dihubungkan oleh selasar linear yang membawa alur sirkulasi umat menuju altar sebagai titik puncak prosesi liturgi.[2]
Main entrance dan area doa di bagian depan (serambi)
Bagian umat di kiri dan kanan yang mengapit sirkulasi utama bertipe double loaded,
Altar sebagai zona sakral yang menjadi pusat perhatian liturgis
Ruang persiapan misa (sakristi) di belakang altar (bagian bangunan baru),
Ruang paduan suara (koor) dan sebagian tempat duduk umat di sisi kanan yang dapat diakses melalui pintu masuk samping (side entrance).
Pola zonasi ini menunjukkan bahwa desain bangunan mengikuti prinsip form follows function, di mana bentuk ruang dibentuk berdasarkan fungsi peribadatan di dalamnya.[2]
Fasad dan rasio
Tampak depan
Fasad depan Gereja Santo Yusuf memiliki proporsi simetris, yang menciptakan kesan seimbang antara sisi kiri dan kanan. Secara visual, bangunan ini menghadirkan kesan besar dan menjulang, yang menegaskan karakter monumental yang lazm pada arsitektur gereja Katolik.[2] Salah satu elemen yang menonjol dari bangunan ini adalah keberadaan salib di bagian puncaknya.[5]
Dalam kajian proporsi, fasad gereja dianalisis menggunakan prinsip golden section, yang diterapkan pada relasi dimensi ketinggian, lebar, dan panjang bangunan. Penggunaan prinsip ini memperlihatkan upaya untuk mencapai keselarasan visual yang ideal dalam arsitektur gereja.[2]
Kompleks gereja
Selain bangunan utama gereja, Gereja Santo Yusuf juga memiliki sejumlah bangunan pendukung di sisi barat. Salah satu bangunan merupakan bangunan tua yang kini sebagian ruangannya difungsikan sebagai toko buku dan suvenir. Sebuah bangunan yang lebih baru digunakan sebagai tempat berbagai kegiatan penunjang, baik bagi lingkungan internal gereja maupun untuk publik. Terdapat juga pasturan, yang juga berlantai dua, yang berfungsi sebagai tempat tinggal para imam.[10]
Galeri
Eksterior
Tampak jauh eksterior gereja
Tampak samping gereja
Tampak samping gereja
Tampak depan
Patung Santo Yusuf di halaman gereja
Interior
Tampak dalam gereja
Tampak dalam gereja
Tampak dalam gereja
Tampak dalam dari balkon
Tampak dalam dari balkon
Prasasti pendirian
Ruang pengakuan dosa
Panti imam
Panti imam
Patung Bunda Maria di sekitar panti imam
Fasilitas penunjang
Taman Doa Maria Penolong Abadi
Taman Doa Maria Penolong Abadi
Porta Sancta (Pintu Suci) dalam rangka Yubileum 2025