Salah satu tantangan pastoral di paroki ini adalah banyaknya jumlah stasi (30 stasi) dimana kebanyakan stasi hanya dapat dicapai melalui jalur sungai, sebagian lagi dengan jalan darat yang tidak ber-aspal; stasi yang terjauh adalah 70km dari pusat paroki. Sehingga para pastor umumnya menggunakan mobil, sepeda motor dan perahu motor dalam pelayanannya. Namun jika ada bencana banjir besar, yang menyebabkan sungai meluap, kegiatan pastoral bagi umat dapat terhenti. Ada 1 orang tenaga sekretariat sekaligus sebagai guru agama di sekolah yang tugasnya rangkap di paroki membuat para pastor juga mempunyai tugas untuk membantu kesekretariatan, sebagai koster, dan tugas lainnya. Tantangan lainnya di Paroki Lambing Muara Lawa ini adalah ancaman perluasan perkebunankelapa sawit dan tambang batubara yang menimbulkan konflik di masyarakat dan sedikit demi sedikit mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup.[4][3]