Awalnya pun gereja ini dibangun untuk memfasilitasi peribadatan orang Belanda. Di mana lokasi gereja ini dekat dengan pusat kegiatan orang Belanda di Kebun Teh Wonosari. Seiring berjalannya waktu akhirnya jemaat bertambah dan meluas hingga ke rakyat pribumi. [2]
Gaya Arsitektur
Gereja ini didirikan pada tahun 1918 yang diarsitekturi oleh C. Smits. Bangunan awal gereja îni adalah bergaya gothic yang merupakan arsitektur eropa yang sangat terkenal. Arsitektur gothic berkembang pertama kali di negara Prancis. Kemudian menyebar ke seluruh Eropa pada abad pertengahan. Arsitektur gothic mulai berkembang di Indonesia sejak kedatangan bangsa eropa yang menjajah Indonesia. Hasil dari arsitektur gothic dapat dilihat dari gaya arsitektur gereja-gereja peninggalan dari kolonialisme Belanda.
Gereja St. Perawan maria tak bernoda mengalami pemugaran sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1973 dan pada tahun 1993. Pada pemugaran ini gaya arsitektur berganti dari gaya arsitektur gothic berubah menjadi arsitektur joglo yang diarsiteki oleh Bruder Andreas seorang biarawan yang tinggal di kompleks gereja tersebut. Bentuk joglo memiliki filosofi yang sangat bagus, sehingga dijadikan sebagai arsitektur gereja tersebut. Interior dari gereja tersebut banyak menggunakan gaya dari Bali. Gereja ini sangat unik, jika dilihat dari luar terlihat arsitektur joglo yang sangat mencolok, akan tetapi jika masuk kedalam akan dijumpai gaya arsitektur dari bali yang sangat menonjol. [3]