Gereja ini terletak di sebelah sekolah Katolik ternama Sekolah Santo Mikael di persimpangan Jalan Raja Isteri dan Jalan Lorong 1 Barat. Gereja ini memiliki desain atap lengkung dan cekungan yang tidak biasa. Gereja berwarna putih melambangkan konsepsi Maria yang tak bernoda dan undangannya menuju kekudusan bagi semua orang. Altar gereja dihiasi dengan salib, dan halaman depannya yang luas serta lanskap yang rimbun menambah suasana alami.[3]
Sejarah
Romo Leo Barry menjadi Rektor baru Misi Kuala Belait dan Seria pada tahun 1952. Gereja Bunda Maria di Seria didirikan dengan batu penjuru yang diletakkan pada bulan Juni 1955 oleh Mgr. Vos, Vikaris Apostolik Kuching. Gereja tersebut sedang dibangun pada bulan November 1955. Pada tahun 1956, Suster-suster St. Yosef mendirikan biara di Seria. Gereja Bunda Maria adalah nama gereja Katolik Roma baru yang dibangun di Seria sebagai bagian dari rencana Misi Seria/Kuala Belait untuk membangun Sekolah Bahasa Inggris Seria (Sekolah St. Mikael), sekolah biara, gereja, dan pastoran.[5] Mgr. Vos memberkati dan membuka Gereja Bunda Maria, Seria pada tanggal 28 Juli 1956.[3] Pada hari berikutnya, gereja tersebut diresmikan dengan khidmat. Arsiteknya adalah Fenner dari Departemen Teknik British Malayan Petroleum, dan J. Rogers, penasihat pengecatan, mengecat salib gereja dengan tangan. Tahun berikutnya, kota tersebut mengambil alih sebagai stasiun utama.[5]
Bruder Peter Tann menjadi orang pertama di Brunei yang ditahbiskan sebagai romo pada bulan Januari 1970, setelah Uskup Anthony Galvin melakukan pentahbisan di gereja ini. Bruder Cornelius Sim ditahbiskan sebagai romo oleh Uskup Anthony Lee, pada tanggal 26 November 1989, di gereja ini.[5] Pada tanggal 22 Maret 2021, Romo Robert Leong, pastor paroki gereja tersebut, diangkat sebagai Vikaris Jenderal Vikariat Apostolik Brunei.[6]