Sejarah Singkat Berdirinya Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari[1]
A. Pendahuluan
Sejarah Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari, yang berada di Belitang, memiliki perjalanan yang panjang dan penuh makna. Pendirian paroki ini bukan hanya kisah tentang bangunan fisik yang didirikan, tetapi juga tentang perjalanan iman umat Katolik di daerah ini. Sejarah singkat yang disusun ini mengacu pada catatan yang dibuat oleh Romo Alex Miskat, SCJ, dalam rangka Pesta Perak Paroki, serta informasi dari berbagai tokoh yang telah menjadi saksi hidup dari perjalanan panjang ini. Meskipun singkat, tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang perkembangan Paroki dan potret komunitasnya saat ini.
B. Periode Pra-Paroki (1959-1970)
Sebelum resmi menjadi sebuah Paroki, Tegalsari dan daerah sekitarnya masih menjadi tempat kunjungan awal bagi pengenalan agama Katolik. Pada tahun 1959, melalui peran seorang tokoh penting, Bapak Suparto, agama Katolik mulai dikenal di daerah ini. Kunjungan pertama yang dilakukan oleh misionaris pada periode tersebut mencakup keluarga-keluarga seperti Bapak Taruno Mirejo, Bapak Arjo Yahman, dan Bapak Pademo. Kegiatan rohani seperti pelajaran agama dan doa mulai diperkenalkan di rumah-rumah umat.
Pada tahun 1964, kunjungan pertama dilakukan di Tanjung Kemuning, diikuti oleh pelajaran agama dan pembaptisan massal yang dilakukan oleh Rm. Egidius Belmakers, SCJ. Pada saat itu, kegiatan pembaptisan dilakukan di berbagai tempat, seperti di Rejosari, Trimoharjo, dan di Tegalsari sendiri. Tokoh-tokoh pembina agama, seperti Bapak Karto Suwarno dan Bapak Arjo Sugito, serta katekis-katekis yang berdedikasi, memainkan peran penting dalam menumbuhkan iman umat Katolik di daerah ini.
Pada 1966, umat Tegalsari berhasil membangun sebuah kapel, yang menjadi pusat kegiatan rohani mereka. Kapel ini menjadi saksi bisu atas semangat dan perjuangan umat dalam mempertahankan iman mereka di tengah tantangan zaman.
C. Periode Paroki (1971-1993)
Setelah perjuangan panjang, pada 11 Januari 1971, Tegalsari akhirnya resmi menjadi sebuah paroki dengan nama Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari. Rm. Van Lierop, SCJ, diangkat sebagai pastor paroki pertama. Perubahan status ini menandakan dimulainya sebuah fase baru dalam kehidupan iman umat di Tegalsari, yang sebelumnya hanya sebuah stasi dari Paroki Gumawang.
Pada periode ini, Rm. Van Lierop membagi wilayah pelayanan menjadi tiga bagian: Tegalsari, Tanjung Kemuning, dan Tugumulyo. Setiap wilayah memiliki tantangannya sendiri, mengingat luasnya wilayah pelayanan dan medan yang berat. Namun, dengan semangat yang tak kenal lelah, umat Paroki Para Rasul Kudus mulai berkembang pesat.
Pada 1977, daerah Pematang Panggang, yang sebelumnya dilayani oleh Paroki Tegalsari, mulai berkembang pesat dengan semakin banyaknya umat yang dibaptis. Pelayanan ke daerah ini menjadi fokus utama, terutama setelah Pastor Rm. Patrick H., SCJ, melanjutkan tugas di Pematang Panggang pada awal 1980-an.
Perjalanan panjang Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari tidak terlepas dari doa dan pengorbanan para imam, katekis, serta umat yang setia. Dari sekadar sebuah stasi kecil, kini paroki ini berkembang menjadi sebuah komunitas yang dinamis, di mana iman dan kasih Kristus terus menginspirasi setiap anggota jemaat untuk hidup dalam kebersamaan dan pelayanan.
Seiring berjalannya waktu, paroki ini akan terus berkembang, menjadi terang bagi masyarakat sekitarnya dan selalu mengingat akar-akar sejarah yang membentuknya. Semoga semangat para pendiri dan iman yang mereka tanamkan tetap hidup dalam setiap langkah Umat beriman kristiani.
Gereja Para Rasul Kudus yang bernama resmi Gereja Paroki Para Rasul Kudus, Tegalsari BK 19 adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Tegalsari BK 19, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, Indonesia. Gereja ini didedikasikan kepada Para Rasul Kudus. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Palembang.[2]
Sejak 2023 terjadi pemekaran 5 Stasi yang terletak di daerah Pematang OKI membentuk Kuasi Paroki Yohanes Paulus ke II Binakarsa. Juni 2024 jumlah keseluruhan Gereja sebanyak 17 yang tersebar di Stasi-stasi. Desember 2024 jumlah Umat 1530 Jiwa (disunting Romo Antonius Tugiyatno SCJ, Pastor Paroki Januari 2023-Mei 2025.[3]