Keberadaan umat Katolik di Subang sudah tercatat sejak tahun 1941. Pada masa itu terdapat sekitar 136 umat yang didominasi oleh orang Eropa. Saat itu Misa dilangsungkan secara sederhana dari rumah ke rumah, karena belum tersedia gedung gereja. Pelayanan pastoral saat itu dibantu oleh para imam dari Gereja Santa Odilia, Cicadas di Kota Bandung.
Pertumbuhan umat kemudian mendorong pembangunan gereja pertama yang dirintis oleh beberapa tokoh umat.[2] Gedung ini selesai dan diberkati pada Hari Minggu Sexagesima, 18 Februari 1968 oleh Pierre Marin Arntz, O.S.C. yang menjabat sebagai Uskup Bandung. Dalam kalender liturgi Missale Romanum 1962, minggu Sexagesima menunjukkan sekitar 60 hari menjelang Paskah. Minggu Sexagesima memuat bacaan Injil tentang perumpamaan seorang penabur (Lukas 8:4–15). Bacaan ini menjadi inspirasi penamaan Gereja Subang, yakni Gereja Kristus Sang Penabur. Seiring bertambahnya umat, gedung gereja tersebut direnovasi pada tahun 1987.
Bangunan kedua
Tampak depan bangunan gereja saat ini.
Pertumbuhan umat yang semakin pesat mendorong pembangunan gedung gereja kedua yang lebih besar pada tahun 2006. Pada 4 Desember 2006, Administrator Diosesan Keuskupan Bandung, R.P. Markus Priyo Kushardjono, O.S.C., memimpin upacara peletakan batu pertama. Proses pembangunan memakan waktu 33 bulan. Gedung gereja tersebut kemudian diberkati pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam 23 November 2008 oleh Uskup BandungJohannes Pujasumarta. Gedung gereja diresmikan oleh Pelaksana Tugas Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Subang Maman Yudia. Desain gereja baru ini dibuat menyerupai sebuah kemah, terinspirasi dari kisah Abraham yang mendirikan kemah sebagai tempat perjumpaan dengan Allah. Adapun bangunan awal gereja beralih fungsi menjadi sebuah aula.[2]
Dalam rangka Yubileum 2025, Gereja Kristus Sang Penabur Subang ditetapkan sebagai satu dari sembilan gereja dengan Porta Sancta (Pintu Suci) dalam wilayah Keuskupan Bandung.[3]Uskup BandungAntonius Subianto Bunjamin, O.S.C. membuka Porta Sancta Subang pada 18 Februari 2025.[2] Dalam misa itu, turut diberkati pintu, sedilia (tempat duduk imam saat memimpin misa), ambo, dan berlangsung upacara dedikasi altar.[2] Misa ini secara khusus juga memperingati hari pemberkatan gedung gereja pertama, yang mengikat kembali umat pada jejak sejarah Gereja Katolik Subang sejak 1968.[2]
Bangunan
Bangunan gereja yang baru merupakan buah pembangunan sejak akhir 2006. Gedung gereja ini memiliki luas bangunan sekitar 700 meter persegi. Gereja ini dilengkapi balkon kecil yang digunakan untuk menampung umat dan juga sebagai tempat paduan suara bernyanyi.
Pintu gereja sempat mengalami renovasi pada tahun 2024. Pintu yang sebelumnya digunakan mengalami kerusakan akibat serangan hama.
Pada 31 Agustus 2025, Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. memberkati Kapel Getsemani sebagai fasilitas penunjang di Gereja Kristus Sang Penabur.
Gua Maria Tebar Kamulyan
Gua Maria Bunda Kristus Tebar Kamulyan.Tampak jauh Gua Maria.
Di kompleks gereja kini juga terdapat Gua Maria Tebar Kamulyan, sebuah tempat devosi yang dikenal luas dan sering dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.
Awal mula devosi kepada Bunda Maria di Paroki Subang bermula sekitar tahun 1985. Pada masa itu, Perkumpulan Remaja Katolik Subang (PRKS) menggagas hadirnya sebuah Gua Maria sederhana yang kemudian diresmikan oleh Uskup Bandung, Mgr. Alexander Djajasiswaja. Sejak itu, sejumlah tokoh umat Subang mulai memanfaatkan tempat tersebut sebagai ruang doa dan devosi, sehingga umat tidak perlu pergi jauh untuk berziarah.[4]
Di Paroki Subang, umat secara rutin mengadakan Doa Rosario pada Malam Jumat Kliwon tepat tengah malam, sekaligus sarasehan untuk membahas perkembangan paroki. Dari pertemuan tersebut muncul gagasan untuk membenahi tempat ziarah yang ada. Peletakan batu pertama pembangunan Gua Maria dilakukan pada 15 September 2005 oleh Pastor Agustinus Made, OSC. Selama masa pembangunan, umat terus mengadakan kegiatan Rosario, novena, dan tirakatan setiap Rabu malam serta Malam Jumat Kliwon. Tradisi ngaliwet, yakni makan nasi liwet secara bersama-sama, mengiringi kegiatan Malam Jumat Kliwon sebagai bentuk kebersamaan umat.[5]
Pada 23 Maret 2006, tempat ziarah tersebut disepakati bernama "Gua Maria Bunda Kristus Tebar Kamulyan". Nama ini dipilih berdasarkan beberapa makna simbolis. Patung yang digunakan adalah Patung Maria Bunda Kristus. Nama pelindung Paroki Subang, Kristus Sang Penabur, mengandung gagasan tentang tugas menaburkan hal-hal yang agung dan mulia. Kata "tebar" juga dimaknai sebagai singkatan dari "keTEnangan BARu", sedangkan "kamulyan" berasal dari "KArep MULus kalaYANan" yang dapat diartikan sebagai keinginan atau kehendak dapat terpenuhi tanpa aral melintang. Secara keseluruhan, nama tersebut dimaknai sebagai tindakan menebarkan atau melimpahkan keagungan.
Pada 7 April 2006, diadakan upacara pemindahan Patung Bunda Maria dengan adat Sunda. Upacara tersebut ditutup dengan Perayaan Ekaristi di depan Gua Maria yang dipimpin oleh Pastor Agustinus Made, OSC. Tidak lama setelah peresmian gedung gereja baru Paroki Subang, Mgr. Johannes Pujasumarta menyarankan agar nama Gua Maria diubah menjadi "Taman Doa" untuk menghindari kerancuan makna di masyarakat sekitar, agar tidak disalah artikan sebagai tempat wisata. Sejak itu, nama resminya menjadi "Taman Doa Bunda Kristus Tebar Kamulyan".
Galeri
Bangunan gereja pertama
Bangunan awal
Menara lonceng
Menara lonceng
Eksterior gereja
Tampak depan gereja
Tampak depan gereja
Porta Sancta (Pintu Suci) dalam rangka Yubileum 2025
Porta Sancta dalam rangka Yubileum 2025
Porta Sancta dalam keadaan terbuka
Interior gereja
Tampak dalam gereja
Tampak dalam gereja
Tampak dalam dari balkon
Kaca patri di pintu utama
Panti imam, dilihat dari lantai dasar
Panti imam, dilihat dari balkon
Altar gereja
Gua Maria Bunda Kristus Tebar Kamulyan
Tampak dekat Gua Maria
Tampak dekat Gua Maria
Panti imam di Gua Maria
Taman Doa Bunda Kristus Tebar Kamulyan
Diorama Jalan Salib pada Perhentian ke-10 yang menggambarkan saat pakaian Yesus ditanggalkan
Diorama Jalan Salib pada Perhentian ke-2, Yesus memanggul salib