ENSIKLOPEDIA
Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima
| Gereja Santa Maria Fatima Sragen | |
|---|---|
| Gereja Santa Perawan Maria di Fatima, Paroki Sragen | |
Tampak samping dari Gereja Katolik Santa Maria Fatima Sragen. Tampak menara lonceng gereja di samping kiri gambar, dan limasan asli (utara) yang memiliki pucuk logam runcing | |
Koordinat: 7°25′47.23313″S 111°1′29.65937″E / 7.4297869806°S 111.0249053806°E / -7.4297869806; 111.0249053806Lihat peta diperbesar Koordinat: 7°25′47.23313″S 111°1′29.65937″E / 7.4297869806°S 111.0249053806°E / -7.4297869806; 111.0249053806Lihat peta diperkecil | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Sragen, Jawa Tengah |
| Negara | Indonesia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Situs web | paroki-sragen |
| Sejarah | |
| Didirikan | 1968; 58 tahun lalu (1968) |
| Dedikasi | Bunda dari Fátima |
| Tanggal dedikasi | 1969 (1969) |
| Tanggal konsekrasi | 1969, 2002 (1969, 2002) |
| Tokoh penting | Y. B. Mangunwijaya, Albertus Soegijapranata, Yustinus Darmojuwono |
| Arsitektur | |
| Status | Paroki |
| Status fungsional | aktif |
| Arsitek | Y. B. Mangunwijaya |
| Gaya | Jawa, limasan |
| Peletakan batu pertama | 1968, 2001 (1968, 2001) |
| Selesai | 1969, 2002 (1969, 2002) |
| Spesifikasi | |
| Kapasitas | 300 |
| Jumlah menara | 1 |
| Tinggi menara | 30 meter (98 ft) |
| Jumlah puncak menara | 1 |
| Tinggi puncak menara | 30 meter (98 ft) |
| Bahan bangunan | Batu bata, kayu, batu alam |
| Administrasi | |
| Paroki | Sragen |
| Dekenat | Surakarta |
| Keuskupan Agung | Semarang |
| Provinsi | Semarang |
| Klerus | |
| Uskup Agung | Robertus Rubiyatmoko |
| Imam kepala | R. D. Yusup Warsito |
| Imam rekan | R. D. Richardus Heru Subyakto |
| Pastor | 2 |
| Parokial | |
| Stasi | 2 |
| Jumlah wilayah | 14 |
| Jumlah lingkungan | 45 |
Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima, Sragen adalah gereja paroki yang berdiri di Kabupaten Sragen sejak tahun 1969, dan menjadi salah satu karya arsitektur dari Romo Y. B. Mangunwijaya. Bangunan gereja awal berupa 1 bangunan utama dengan bentuk limasan tunggal, dan 1 bangunan pastoran. Hampir 50 tahun kemudian, sebagai hadiah yubileum emas dan atas persetujuan Romo Mangun, dilakukan perluasan secara mirroring menjadikan bangunan gereja limasan ganda.
Pada September 2022, saat Misa penerimaan sakramen krisma sekaligus perayaan ulang tahun gereja ke-65, telah diresmikan 2 gedung baru, oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, yang merupakan gedung aula dan pastoran baru. Menara lonceng diresmikan tepat 2 tahun kemudian di bulan dan misa untuk perayaan yang sama.[1]
Sejarah
Benih awal
Kekatolikan di Sragen dimulai dengan berdirinya Sekolah Dasar Kanisius di desa Jetak yang menumpang di rumah Demang Sontomejo dengan guru R. Sumardji kemudian R.Soewandi, dan R.P. Soewardi. Selain sebagai guru mereka juga diberi kuasa menjadi guru agama Katolik oleh Rm. CJJ. Versteeg SJ. karena ada kejadian dimana R.P. Soewardi dicurigai mengajarkan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Hasil pelajaran agama ditandai dengan dipermandikan dua pemuda asal Sragen di Purbayan pada tgl 24 Desember 1933.
Sejak tahun 1930 sudah ada misa untuk orang-orang Belanda dan Tionghoa, tahun 1937 diadakan misa sekali sekali di Sekolah Dasar Kanisius Jetak, kemudian dihentikan dengan masuknya jepang pada 1942. Hingga tahun 1948 hanya ada sekitar 30 orang Katolik di sekitar Sragen, termasuk di dalamnya beberapa orang Belanda-Katolik.[1]
Gedung SD Kanisius Jetak yang sejak awal perkembangan umat Katolik di Sragen digunakan untuk tempat penyelenggaraan misa, telah ditutup tahun 1949 oleh pemerintah dan dijadikan satu menjadi Sekolah Rakyat. Maka perlu diusahakan tempat lain, sekalipun tidak permanen (selalu berpindah-pindah). Dengan semakin stabilnya situasi politik, kehidupan keagamaan pun kembali menjadi normal dan lebih bergairah, sehingga memungkinkan dilakukannya usaha-usaha baru untuk lebih memperkembangkannnya.[2]
Geliat menjadi Katolik terasa lagi dengan berdirinya SGB di Beloran yang diperkrasai guru-guru Katolik. Pada Tahun 1951, 8 siswa SGB dipermandikan di Purbayan pada tahun 1953. Tahun 1954 ada 7 orang dipermandikan, tahun 1955 ada 3 orang dipermandikan.[1]
Titik awal terbentuknya paroki
Salah satu usaha yang sangat berhasil dan besar jasanya terhadap perkembangan umat Katolik adalah didirikannya Yayasan Saverius Sragen yang berdiri tahun 1955 dengan akte Notaris No. 30. 26-9-1955, atas perjuangan gigih dari sekelompok tokoh awam Katolik. Perjuangan mereka terbukti tak hanya dari usaha membebaskan sebidang tanah milik Yayasan PGPM (Pengurus Gereja Papa Miskin) yang diduduki orang lain, tetapi juga dari tekad mereka merintis berdirinya sebuah sekolah lanjutan pertama di lokasi tersebut dengan dukungan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ yang kemudian mengasuh dan mengelolanya sendiri.
Berdirinya gedung sekolah tersebut merupakan peristiwa yang dapat dikualifikasikan sebagai salah satu tonggak sejarah Gereja Katolik di Sragen, karena mulai saat itu semua kegiatan keagamaan terpusat di gedung tersebut. Hal itu dimungkinkan karena dwi-fungsi bangunan, pada hari-hari biasa untuk sekolah dan hari Minggu sebagai Kapel untuk Misa. Dengan demikian, para imam yang berkarya di Sragen tak hanya lewat dan mampir seperti dulu, tapi sudah dapat menginap lebih lama. Pembinaan iman pun semakin intensif. Dengan pusat di SMP Saverius, para imam dapat meningkatkan frekuensi kunjungan pastoral mereka ke luar kota, sehingga di beberapa kecamatan sudah dapat diadakan misa secara rutin. Perkembangan yang menggembirakan ini terus dapat ditingkatkan sehingga mendorong timbulnya basis-basis baru di kemudian hari.
Rm. Wakkers, SJ berkarya di paroki tersebut sampai tahun 1961. Meskipun sebelum tahun 1960, beliau sering berkunjung ke Sragen dalam tugas pelayanan iman, tetapi baru pada tahun 1960 ia bertugas penuh di Sragen. Sekalipun singkat, tetapi kehadiran serta pengabdiannya meninggalkan kesan yang sangat mendalam di hati umat Katolik Sragen. Suatu kebanggaan juga bagi umat Katolik Sragen bahwa Rm. Y. Darmoyuwana, Pr yang pernah berkarya di Sragen (antara tahun 1956-1957), diangkat menjadi Kardinal pertama di Indonesia. Beliau ditempatkan di paroki Purbayan, Solo sejak Oktober 1955 dan bertugas untuk melayani sejumlah stasi di paroki tersebut, termasuk Sragen.
Masa 1960-an
Kerjasama yang dijalin dengan para pemimpin stasi ternyata telah meletakkan dasar bagi perkembangan umat Katolik yang berdikari, seperti yang tercatat di sepanjang sejarah umat Katolik di Sragen. Satu hal yang tidak dapat dikesampingkan ialah kerjasama antara Rm. Y. Darmayuwana dengan para pengurus Yayasan Saverius dalam mengusahakan bantuan dari Vikariat Semarang (sekarang Keuskupan Agung Semarang) untuk perluasan gedung SMP Saverius. Berkat kerjasama, pengorbanan dan keteladanan kedua belah pihak, proses ekstensifikasi maupun intensifikasi iman menjadi semakin pesat, sehingga mempercepat pula proses pengangkatan stasi Sragen menjadi paroki dalam waktu yang relatif singkat. (Ini terjadi pada tahun 1965)
Pada tahun 1961, lahirlah sebuah paroki di Solo, yaitu Paroki Purbowadayan. Semenjak itulah segala urusan stasi Sragen dialihkan ke paroki tersebut. Romo pertama yang ditugaskan di Purbowadayan adalah Rm. Kiswono, Pr dengan jadwal kegiatan setengah minggu di Purbowadayan dan setengah minggu di Sragen.
Memang benar, bahwa buku-buku paroki sudah dimiliki sendiri sejak tahun 1961, karena pada bulan Juli 1961 Sragen mulai mengadakan permandian sendiri yang pertama. Namun demikian, peristiwa tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa Sragen telah menjadi paroki. Peristiwa yang dapat diambil sebagai patokan pengangkatan Sragen menjadi paroki ialah peristiwa mulai menetapnya Romo Kiswono di Sragen pada tahun 1965 sebagai Romo paroki penuh, hingga ditemukannya bukti otentik bahwa tanggal 2 September 1957 didirikan Yayasan PGPM Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen dengan Ketua Rm. Yustinus Darmoyuwana, Pr.[1][2]
Sejak Romo Kiswono ditunjuk untuk mengurus stasi Sragen tahun 1961, sedikit demi sedikit embrio dari Dewan Paroki dibentuk pada tahun 1963. Seiring dengan itu beberapa kring dan stasi mulai mencari bentuknya, di samping yang sudah ada. Dalam pembangunan fisik, material untuk pembangunan gereja sedikit-demi sedikit mulai dikumpulkan. Seiring dengan itu pula, untuk lebih merangsang serta menggalakkan kehidupan agama dalam rangka intensifikasi, dua macam gerakan awam diperkenalkan di Sragen, yaitu: ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) dan LEGIO MARIA. Sementara itu kerasulan melalui bidang profesi pun terus digalakkan, terutama melalui pendidikan (SMP Saverius dan SGB) dengan hasil yang makin menggembirakan. Hanya saja, umat belum puas, karena belum mempunyai tempat peribadatan khusus/gereja.
Untuk mewujudkan impian itu dan mengingat perkembangan umat serta gedung SMP Saverius yang sudah tidak memadai untuk menampung kegiatan ibadat, umat Katolik mulai mengerahkan segala kemampuannya. Panitia pembangunan gereja yang diketuai oleh Rm. CS. Soerjosubroto, Pr yang menggantikan Romo Kiswono pada pertengahan Juli 1968, mulai melaksanakan pembangunan gereja pada bulan Desember 1968. Arsiteknya adalah Rm. Y.B. Mangun Wijaya, Pr, seorang arsitek muda lulusan Jerman dengan dibantu Bruder Karto.
Dalam waktu ± 1 tahun pembangunan Gereja telah rampung, berkat partisipasi dan kerjasama seluruh umat. Satu bangunan yang indah, berbentuk joglo, megah, bermotif khas Jawa. Begitu khasnya sehingga gambarnya dimuat dalam buku SEJARAH GEREJA KATOLIK DI INDONESIA (Jilid IV, hal 196) sebagai salah satu contoh inkulturasi seni bangunan, sebagaimana dikehendaki oleh Konsili Vatikan II tahun 1965 (Ad Gentes, 22).
Bulan Agustus 1969 pembangunan gereja selesai dan dalam suasana penuh khidmat dan meriah diberkati oleh Romo Kardinal Yustinus Darmoyuwono, Pr dengan nama pelindung Santa Maria Fatima, sehingga pusat keagamaan bisa mandiri.
Untuk menilai tentang semua hasil yang telah dicapai, tiada kesan yang lebih mengena seperti yang dikemukakan oleh Duta Besar Vatikan, ketika mengadakan kunjungan ke Paroki Sragen pada tahun 1973. Dalam kunjungan tersebut ia mengemukakan kesannya, bahwa ‘Gereja Sragen sudah kena hembusan angin Konsili Vatikan II dan sudah berjalan di atas rel Konsili Vatikan II.’
Berdasarkan data yang ada, jumlah pembabtisan yang paling banyak antara 1969-1970 dan tahun 1970 mencapai 550 orang. Tantangan situasi sesudah G 30 S / PKI dan anjuran pemerintah supaya semua orang memeluk salah satu agama yang diakui oleh pemerintah, banyak yang memeluk agama Katolik. Hal ini tidak lepas dari kesaksian hidup umat Katolik baik rakyat jelata maupun tokoh dalam bidang pendidikan, pemerintahan dan lembaga masyarakat lainnya. Kesaksian umat Katolik dalam masyarakat serta pengakuan, kebaikan maupun kebenaran Kristiani tampa ragu-ragu mendorong umat lainnya memeluk agama Katolik.
Menurut data statistik Sragen 1955, Kabupaten Sragen luasnya 945,22 km2 dan yang masuk ke Paroki Sragen adalah seluruh Kabupaten Sragen minus: Gemolong, Sumberlawang dan Kalijambe (termasuk dalam paroki Purbowadayan) dan ditambah dari Kabupaten Karanganyar yaitu Kecamatan Kerjo dan Jenawi sehingga luasnya ± 850 km2.
SFS di Sragen
Selain itu, tidak boleh kita lupakan kehadiran Suster-suster Fransiskus Sukabumi di Sragen pada tahun 1963 dengan karya sosialnya yang melayani kesehatan (RS. Mardi Lestari) dan juga pendidikan (SD Santo Fransiskus). Kehadiran para Suster ini seusia dengan mulai berkembangnya Paroki Sragen dan mereka sangat berperan dalam membantu perkembangan umat di Sragen. Kehadiran mereka sungguh membuat ajaran Katolik lebih manusiawi dan lebih hangat.[2]
Gereja masa kini
Paroki Sragen masa kini telah menjadi paroki yang terus berkarya bagi seluruh umat dengan program-program yang dijalankan oleh para Romo.
Saat ini, wilayah Gemolong yang sebelumnya merupakan wilayah Paroki Purbowadayan, telah menjadi Paroki Gemolong.
Wilayah Jenawi telah memiliki kompleks bangunan gereja yang menjadi Gereja Animasi, terdiri dari Gereja Santo Yulius Stasi Jenawi, bangunan aula, bangunan rumah retret, dan bangunan TK. Dimana, gereja ini diharapkan menjadi pusat penggerakan iman umat sebagai tempat retret maupun rekoleksi. Gereja ini menjadi cukup populer di kalangan umat untuk mengadakan rekoleksi maupun retret lingkungan atau paguyuban, baik selama satu ataulun beberapa hari. Salah satu yang cukup populer dan rutin diadakan adalah Retret oleh paguyuban REKAT (Remaja Katolik) dan Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar oleh FKPK (Forum Komunikasi Pelajar Katolik).[3]
Berbagai paguyuban telah didirikan oleh umat, salah satunya yang baru-baru ini dilantik adalah PANJAKA (Paguyuban Penjaga Gereja Katolik Sragen) yang bertugas menjaga keamanan gereja yang ada di Kabupaten Sragen. Sementara FKPK dan REKAT sangat aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.[4]
Daftar Imam yang Berkarya
Berikut ini daftar Imam yang pernah berkarya di Paroki ini, sejak sebelum menjadi paroki hingga setelah menjadi paroki, hingga tahun 2001.
Masa Sebelum Menjadi Paroki
- (berpusat di Purbayan): Romo Daruwendo, SJ, 1945-1950
- Romo Martowardaya, SJ, 1950-1957
- Romo A. P. Purwodiharjo, Pr, 1957-1961
- Romo H. Wakkres, SJ, 1949-1961
- Romo Y. Darmayuwono, Pr, 1956- 1957
- Romo A. Tjokrowardaya, Pr, 1946-1948
- Romo F. Kiswono, Pr, 1961-1964
Masa setelah Sragen menjadi Paroki
- Romo F. Kiswono, Pr, 1965-1967
- Romo C. Suryasubroto, Pr, 1967-1969
- Romo I. M. Haryadi, Pr, 1969- 1970
- Romo A. Utoyo, Pr, 1970 - 1976
- Romo S. Suhartana, Pr, 1977- 1981
- Romo J. Bardiyanto S, Pr, 1982- 1984
- Romo M. Y. Riawinarta, Pr, 1984- 1987
- Romo A. Wignjamartaja, Pr, 1984- 1986
- Romo P. Subyakta, Pr, 1987 - 1990
- Romo A. Joko Sistiyanto, Pr, 1988- 1989
- Romo A. Djarot K. P., Pr, 1989- 1990
- Romo Ignatius Nandy Winarta, Pr, 1990-1994
- Romo H. Subiyanto, Pr, (3 bulan)
- Romo C. Sutrasno Purwanto Pr, 1991- 1993
- Romo J. Suyatno Hadiatmaja Pr, (3 bulan)
- Romo Petrus Sajiyana, Pr, 1993- 1996
- Romo Antonius Budi Wihandono, Pr, 1996 1997
- Romo Pius Riana Prapdi, Pr, 1997- 1999
- Romo Andreas Tri Sujarwadi, Pr, 1999- 2001
Arsitektur

Gereja diaspora
Konsep rancangan gereja khas Romo Mangun lebih dikenal dengan sebutan Gereja Diaspora.[5] Kata diaspora berasal dari bahasa Yunani (διασπορά) yang artinya “terpencar-pencar”. Menurut Romo Mangun, diaspora artinya benih-benih yang serba tersebar, terpencar, tidak kompak dalam satu tempat, tidak terisolasi dan terkonsentrasi dalam suatu wilayah yang tertutup. Suatu istilah yang penggunaannya dihubungkan dengan keberadaan gereja di Indonesia dengan menunjuk pada suatu gambaran kehidupan umat Katolik yang tersebar. Konsep diaspora ini pada dasarnya adalah sebuah upaya inkulturasi, yang memang merupakan bagian dari amanat Konsili Vatikan II.
Rancangan bangunan ini tidak lepas dari keinginan dan gagasan Romo Mangun tentang gereja yang kontekstual dengan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa dimana bangunan ini berdiri. Pemilihan bentuk joglo sangat mencerminkan kehidupan dan nilai-nilai masyarakat Jawa. Pemahaman tentang bangunan gereja yang umumnya pada saat itu masih campur baur di Indonesia kemudian dimantapkan oleh Romo Mangun dengan pendekatannya kenusantaraannya. Kesederhanaan merupakan aspek lain yang muncul pada bangunan pendopo ini. Suatu bangunan gereja tentunya perlu akrab dengan pluralitas, kebudayaan, hingga kemiskinan yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan karena gereja seseungguhnya tidak sekadar sebagai rumah Tuhan, tetapi juga merupakan rumah bagi manusia. Sikap keberpihakan terhadap kaum miskin sewajarnya menjadi suatu keharusan.
Perluasan bangunan dilakukan pada tahun 2001 dengan mempertahankan bangunan gereja lamanya. Gereja baru merupakan adopsi terhadap bangunan gereja lama menjadi sebuah bangunan joglo kembar. Renovasi ini dianggap paling menghormati bangunan gereja lama. Selain itu pula perluasan ini sebelumnya telah disepakati oleh Romo Mangun, sehingga tidak menghilangkan nilai-nilai yang ada di bangunan gereja lama.
Detail bangunan

Gereja karya arsitek Y. B. Mangunwijaya ini bergaya joglo limasan kembar. Ketika baru berdiri 1968, gereja ini masih menjadi stasi dari Paroki Purbayan. Kala itu, bangunannya masih berbentuk joglo tunggal menghadap ke utara. Namun seiring berkembangnya umat, maka bangunan diperluas ke selatan dan menghadap ke barat, dengan ornamen asli yang di tiru sehingga kembar identik. Bangunan ini merupakan bagian dari Heritage Keuskupan Agung Semarang, sehingga tidak dapat diubah seenaknya.
Ruang ibadat semi-outdoor dapat menampung sekitar 300 jemaat, berlantaikan tegel bermotif, dan berplafonkan kayu persegi panjang, dengan ketinggian yang tidak terlalu tiggi. Namun, bila ada perayaan besar, maka seluruh komplek gereja beserta bangunan pendukung dan tenda bisa menampung 1.500 jemaat.[6][7]
Hampir seluruh sisi dari bangunan ini adalah terbuka. Ruangan tertutup hanya terdapat pada ruang pengakuan dosa dan ruang sakristi. Dinding yang mengelilingi bangunan ini hanya memiliki tinggi sebesar 82 cm dengan material dinding batu-bata. Elemen-elemen interior bangunan tersusun atas furnitur, kolom-kolom, serta artikulasi utamanya berada pada sisi altar. Tiap kolom yang menopang atap bangunan ini memiliki ornamen atau wastu khas Romo Mangun. Masing-masing ornamen pada kolom memiliki gambar dan cerita yang berbeda.

Orientasi pada interior bangunan sangat ditentukan oleh perabot yang hingga kini masih mempertahankan susunan yang sama seperti gereja asli rancangan Romo Mangun. Posisi altar gereja baru sama dengan bangunan gereja yang lama. Karena perluasannya bersifat mirroring, kini altar dan orientasi gereja menjadi memusat ke tepi tengah bangunan,[5] yang mana awalnya menuju ke sudut.
Bagian kolom panti umat memiliki motif tanaman dan stilasi api berwarna hitam-merah pada kepala tiang dan suatu kisah yang berbeda pada badan masing-masing kolom. Tiang-tiang samping berdiri berpasang-pasangan di depan enam pintu gereja. Dua tiang yang ada di dekat pintu utama merupakan tiang beton dengan lapisan kayu ukir. Tiga tiang pada sudut gereja memiliki motif yang unik, menggambarkan berbagai bidang kehidupan manusia, sementara pada sudut lainya terdapat ruang pengakuan

Empat tiang tengah memiliki kesamaan motif dengan tiang-tiang samping. Dua tiang di samping altar memiliki bentuk, motif, dan ukuran yang berbeda dari tiang-tiang lainya, dimana tiang ini menjulang besar dan berbentuk oval. Motif pada tiang altar diaplikasikan pada menara lonceng yang dibangun puluhan tahun setelahnya.
Kanopi gereja berbentuk limasan yang lebih kecil, dengan 4 tiang yang sama seperti tiang samping gereja, serta terdapat kaca bergambarkan burung merpati di sisi timur atap. Lampu utama gereja terdapat 2 buah lampu gantung dengan ornamen tanaman. Tabernakel pada altar berbahan kayu, dikelilingi motif gunungan wayang, dengan penutup dari kaca patri berwarna biru-merah-hijau. Salib altar terbuat dari kayu, dan tembok tempat melekatnya salib dilapisi oleh batu alam. sementara meja altar berbahan marmer.
Sisi luar dari tembok sakristi juga memiliki corak detail karya Romo Mangun. Pintu-pintu gereja berupa pagar geser terbuka berbahan besi dengan motif kisah-kisah terkenal dari Alkitab, dengan jumlah 7 pintu. Terdapat 14 gambar berisikan kisah jalan salib Yesus yang bergaya jawa, digantung di plafon yang vertikal, yaitu di sisi selatan, utara, dan barat. Terdapat 8 gambar di sisi barat, dan masing-masing 3 gambar di sisi selatan dan utara.
Fasad gereja ini terbuka sehingga angin dapat masuk dari hampir segala arah mata angin. Di puncak pendopo lama, terdapat sebuah menara besi yang menjadi salah satu ciri khas gereja ini.
Semua detil yang dibuat oleh Rm. Mangun diterapkan pula pada bangunan yang dibangun berikutnya, salah satunya yaitu menara lonceng gereja yang memiliki kesamaan motif dengan kolom oval panti imam.
Dinamika jemaat
Jumlah jemaat paroki Sragen menurut data Desember 2024 yaitu 4.425 jiwa, terbagi dalam 2 stasi, 14 wilayah dan 45 lingkungan.
Peribadatan
Gereja Santa Perawan Maria di Fatima menyelenggarakan misa harian dan misa mingguan. Misa harian diselenggarakan pada pagi hari (05.30 WIB), dengan menggunakan Bahasa Jawa pada hari Rabu dan dalam Bahasa Indonesia pada hari lainnya. Misa mingguan dalam Bahasa Indonesia diselenggarakan tiga kali, yakni satu kali pada Sabtu sore (18.00) dan dua kali pada hari Minggu (05.30 dan 07.30). Namun, pada minggu ketiga dalam setiap bulannya, misa mingguan diselenggarakan dalam Bahasa Jawa. Misa Jumat Pertama diselenggarakan pada sore hari (18.00) yang dilanjutkan dengan Adorasi Sakramen Mahakudus. Misa tersebut menggunakan Bahasa Indonesia.
Galeri
- Relief yang menggambarkan Agnus Dei (Anak Domba Allah, penggambaran Yesus Kristus) pada tembok barat Gedung Lucia (pastoran baru gereja) yang menggunakan gaya seperti gaya khas Rm. Mangun, yaitu geometri yang agak abstrak.
- Lambang Paroki Sragen pada gerbang belakang gereja, berupa siluet Bunda Maria yang bila dilihat dari samping.
- Detail tembok belakang sakristi yang merupakan salah satu detail wastu Rm. Mangun.
- Detail plafon kanopi bangunan utama gereja di depan pintu utama, dengan plafon kayu dan kaca patri bergambarkan burung merpati.
- Detail plafon pada teras bangunan pastoran lama yang mirip dengan plafon gedung utama gereja, serta lampu bergaya jawa klasik yang menghiasi teras tersebut.
- Fasad bangunan pastoran lama gereja (yang kini berfungsi sebagai aula pertemuan dan sekretariat, sementara fungsi pastoran digantikan oleh pastoran baru pada Gedung Lucia), yang bergaya jawa klasik.
- Tampak depan altar gereja pada masa prapaskah. Terlihat detail bagian samping kolom panti imam, detail batu alam-gunungan wayang pada tembok altar, altar dari marmer yang bergambarkan 5 roti dan 2 ikan, serta kaca patri bergambarkan burung merpati.
- Satu set gamelan di dalam bangunan utama gereja di joglo sebelah selatan, yang digunakan pada misa tertentu khususnya perayaan khusus.
- Contoh penerapan detail wastu khas Romo Mangun dari kolom panti umat bangunan utama gereja, yang diterapkan pada Gedung Yasintha yang dibangun puluhan tahun setelah bangunan utama gereja.
- Salah satu gambar jalan salib pemberhentian ke-3 dengan keterangan Bahasa Jawa, di dalam bangunan utama gereja bagian paling selatan.
- Lampu utama gereja dan kaca patri bergambarkan Hati Kudus Yesus di joglo baru di sebelah selatan pada bangunan utama gereja.
- Ukiran kolom pintu utama bangunan gereja.
- Detail menara lonceng yang diterapkan berdasarkan detail pada kolom panti imam bangunan utama gereja. Didalamnya juga terdapat sacrarium, dan disampingnya terdapat pantung St. Yosef dan Kanak-Kanak Yesus.
- Detail pada kolom panti imam sebelah utara pada bangunan utama gereja, yang diaplikasikan ke bangunan menara lonceng puluhan tahun setelahnya.
- Salah satu tiang panti umat gereja yang terletak di pojok barat laut bangunan utama gereja.
- Sampul Depan Majalah Lentera edisi spesial, September 2001, ketika ulang tahun paroki ke-44.
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 "Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen".
- 1 2 3 "Sejarah Gereja Katolik di Sragen".
- ↑ "Rekoleksi Remaja : "Sregep, Sareng dan Srawung"". Lentera Paroki Sragen. 2023-07-21. Diakses tanggal 2025-03-30. ;
- ↑ "Pelajar Gereja Katolik Di Sragen Bagikan Takjil Gratis sebagai Wujud Toleransi Beragama". TVRI News. 2025-03-26. Diakses tanggal 2025-03-30. ;
- 1 2 "Soundscape Studies as a Critic to Y.B. Mangunwijaya's Open Church Concept".
- ↑ "Sejarah Gereja Santa Perawan Maria Di Fatima Sragen".
- ↑ "Ibadah Natal, Paroki Santa Perawan Maria Di Fatima Sragen Bisa Tampung 1500 Jemaat".
Pranala luar
| |||||||||||
| |||||||||||

