Umat Paroki Rantau Pulut kebanyakan adalah karyawan di perkebunankelapa sawit, bahkan pusat paroki terletak di belakang perkebunan sawit.[2][4] Ada juga umat yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani, misalnya di Stasi St. Tarsisius Wana Tirta.[1] Kunjungan pastoral ke beberapa stasi harus menggunakan perahu dengan menempuh jalur sungai, utamanya Sungai Seruyan, yang tingkat kesulitan dan risikonya cukup tinggi karena riam dan pusaran air.[5]
Karya pastoral
Tidak jauh dari pastoran terdapat biara para suster Karmelit Misionaris Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (KMTKY) di mana dibelakangnya dibangun pondok dan perpustakaan khusus anak, di samping SMA Negeri dan rumah guru. Suster KMTKY adalah komunitas biarawati pertama di Paroki Rantau Pulut sejak Agustus 2013, membantu pelayanan dalam pendampingan anak-anak dan para ibu.[2]