Kehadiran Gereja Katolik di Hindia Belanda menghadapi tantangan besar sejak masa VOC, yang memberlakukan kebijakan represif terhadap kegiatan peribadatan agama Katolik. Perubahan signifikan terjadi pada awal abad ke-19, ketika kebijakan toleransi agama mulai diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Tahun 1807, Prefektur Apostolik Batavia didirikan untuk mengoordinasi kegiatan pastoral di wilayah Hindia Belanda.[1] Pastor Jacobus Nelissen, sebagai Prefek Apostolik pertama, memulai pelayanan di Hindia Belanda dri wilayah Batavia.[2]
Pada pertengahan abad ke-19, kebutuhan pendidikan dan kesejahteraan sosial di kalangan umat Katolik semakin terasa. Yayasan Santo Vincentius a Paulo didirikan sebagai respons terhadap kondisi anak-anak telantar di Batavia. Pada saat itu yayasan mengurus sejumlah anak yang ditempatkan di Pasar Baru (kemudian berpindah ke Biara Santa Ursula) dan di daerah Kwini, sementara beberapa anak dititipkan ke beberapa keluarga Katolik. Yayasan ini juga mendirikan panti asuhan yang menjadi cikal bakal komunitas Katolik di wilayah Kramat. Saat itu muncul pemikiran untuk memindahkan anak-anak yang berada di Kwini ke Kramat. Sebuah kapel kecil juga dibangun di kompleks tersebut pada akhir abad ke-19. Kapel ini disiapkan sebagai calon paroki sebagai pemekaran dari Paroki Katedral.[3]
Batu penanda.
Pada 2 Juli 1920, Kapel Kramat diberkati dan resmi ditetapkan sebagai sebuah paroki. Paroki Kramat bernama Heilig Hart Kerk yang berarti Gereja Hati Kudus. Pada saat itu, paroki ini dilayani oleh para imam dari Serikat Yesus (Jesuit). Para imam Jesuit membangun gedung-gedung baru untuk pendidikan dan kegiatan keagamaan. Sekolah-sekolah Katolik mulai berdiri di sekitar wilayah Kramat, yang salah satunya kini menjadi Sekolah Santo Yosef. Pada masa itu, berlangsung penambahan jumlah umat dan keluarga Katolik di wilayah Kramat dan sekitarnya.[4]
Peralihan reksa pastoral dan Perang Dunia II
Pada tahun 1929, pelayanan di Paroki Kramat diserahkan kepada Ordo Fransiskan (OFM). Hal ini diawali pada tahun 1927 saat Kardinal Willem Marinus van Rossum, C.Ss.R., Prefek Propaganda Fide, mengirimkan sebuah surat kepada Fransiskan Belanda. Surat tersebut berisi permintaan agar mereka membantu para imam Serikat Yesus di Jawa, meskipun surat itu dianggap sebagai janji mengenai suatu wilayah misi di Hindia Timur. Kemudian, pada 1 Juni 1928, Pater Kitselaar, Provinsial Serikat Yesus di Belanda, mengunjungi Provinsial Fransiskan di Weert dan menawarkan misi tersebut kepada mereka. Namun, tawaran itu tidak langsung ditanggapi hingga akhirnya dibahas dalam sidang dewan pimpinan Fransiskan pada 9 April 1929. Setelah itu, pembicaraan lebih lanjut dilakukan mengenai pengambilalihan dua paroki di Batavia, yakni Paroki Matraman dan Paroki Kramat. Pada 21 Desember 1929, sejumlah lima orang Fransiskan yang berasal dari Belanda tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa.[5]
Masa pendudukan Jepang saat Perang Dunia II membawa suatu tantangan bagi Paroki Kramat. Banyak imam dan biarawan yang ditangkap atau diinternir, sehingga pelayanan pastoral mengalami kesulitan yang membuat Gereja Kramat ditutup untuk beberapa waktu. Setelah perang berakhir, aktivitas di Paroki Kramat kembali berjalan.[5]
Renovasi
Gereja Hati Kudus Kramat mengalami renovasi pada bagian panti imam dan kawasan sekitar pintu utama gereja. Renovasi berlangsung sejak Oktober 2024 dan selesai pada Juli 2025.
Tampak depan gereja pada tahun 2023
Tampak depan gereja pada Januari 2025 saat mengalami renovasi
Tampak depan gereja pada September 2025
Peribadatan
Panti imam.
Misa harian diselenggarakan pada sore hari. Selain liturgi dalam bahasa Indonesia, Gereja ini juga menyelenggarakan Perayaan Ekaristi harian dalam bahasa Inggris pada Rabu sore.
Gereja Hati Kudus dikenal sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan Novena Besar Santo Antonius Padua. Hal ini diawali saat di Gereja Kramat diselenggarakan salve dengan renungan dan doa untuk menghormati Santo Antonius Padua pada setiap hari Selasa. Pada awalnya, tidak terlalu banyak umat yang menghadiri kegiatan ini. Setelah Perang Dunia II pada tahun 1950, Pastor Martinus Antonius Weselinus Brouwer mempergiat devosi kepada Santo Antonius dengan berkhotbah pada sembilan Selasa berturut-turut.[5]
Selain itu Gereja Hati Kudus juga menyelenggarakan Novena Besar Santo Fransiskus Assisi. Novena ini diselenggarakan sembilan hari menjelang Peringatan Santo Fransiskus Assisi yang berlangsung setiap tanggal 4 Oktober.
Bangunan
Menara lonceng gereja yang baru setelah renovasi
Gereja ini memiliki balkon yang dapat digunakan untuk menampung umat. Pada balkon, sayap kanan, dan sayap kiri gereja terdapat sejumlah kaca patri. Gereja ini juga memiliki sejumlah patung, termasuk Patung Bunda Maria dan Patung Santa Klara yang berada di sekitar panti imam di dalam bangunan utama gereja. Dua patung lainnya, yakni Patung Santo Fransiskus Assisi dan Patung Santo Antonius dari Padua terletak di samping kiri dan kanan altar.
Patung Bunda Maria
Patung Santo Antonius Padua
Patung Santo Fransiskus Assisi
Fasilitas
Gereja Hati Kudus memiliki sebuah ruang adorasi. Adapun pada 4 Januari 2025, Gereja Hati Kudus Kramat membuka ruang adorasi yang baru. Pintu menuju ruang adorasi ini juga ditetapkan menjadi lokasi Porta Sancta (Pintu Suci) pada awal pelaksanaan Yubileum 2025, sebelum berpindah ke pintu utama gereja yang selesai direnovasi pada Juli 2025. Di dekat pintu utama juga terdapat sebuah Patung Hati Yesus yang Mahakudus yang diberkati pada tanggal 11 Juni 1999 oleh Pastor Kepala Paroki Kramat, R.P. Marcel Onggol, O.F.M.
Ruang adorasi (2024)
Ruang adorasi (2024)
Ruang adorasi (2025)
Patung Hati Yesus yang Mahakudus
Goa Bunda Maria Ratu Pencinta Damai
Perhimpunan Vincentius Jakarta
Gedung Utama Perhimpunan Vincentius Putra
Di dalam kompleks Gereja Hati Kudus berdiri Persekolahan Sint Joseph yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMK, dan dikelola oleh Perhimpunan Vincentius Jakarta. Juga dalam kawasan yang sama, terdapat pula Panti Asuhan Vincentius Putra, yang juga berada di bawah naungan Perhimpunan Vincentius Jakarta.
Gedung SD Sint Joseph
Gedung SMP Sint Joseph
Ballroom Vincentius Putra
Tampak depan Panti Asuhan Vincentius Putra
Kapel
Selain gedung gereja paroki utama, terdapat tiga kapel dalam wilayah Paroki Kramat, yaitu: Kapel Santo Vincentius a Paulo, Kapel Santo Carolus Borromeus di Rumah Sakit Saint Carolus, dan Kapel Santo Petrus Kanisius di Kolese Kanisius.
Eksterior dan fasad Kapel Santo Carolus Borromeus di Rumah Sakit Saint Carolus
Interior jelang Misa di Kapel Santo Carolus Borromeus
Di dalam kompleks gereja dan Panti Asuhan Vincentius Putra, terdapat sebuah bangunan kapel yang didedikasikan kepada Santo Vincentius a Paulo. Kapel ini melayani anak-anak panti asuhan serta umat umum untuk perayaan-perayaan tertentu.