Gedang Kulut adalah sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.[3][4]
Merupakan salah satu desa yang memiliki wilayah terluas di Kecamatan Cerme. Desa ini berada di sebelah selatan kota Gresik dan memiliki lokasi yang strategis karena letaknya yang berada di ujung kecamatan Cerme dan menjadi perbatasan dengan kecamatan Benjeng dan kecamatan Duduk Sampeyan.
Berdasarkan Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan dari Kemendagri, Desa Gedangkulud mempunyai kode 35.25.11.2008.[4]
Demografi
Adapun menurut data BPS Kab. Gresik yang dipublikasikan dalam Kecamatan Cerme dalam Angka 2025,[2] Desa Gedangkulud memiliki jumlah penduduk laki-laki: 2.611 jiwa, dan jumlah penduduk perempuan: 2.646 jiwa.
Sejarah Lisan
Alkisah... dahulu kala tersebutlah suatu pasukan islam dalam sebuah partempuran mengalami kekalahan, mereka dikejar-kejar oleh bala tentara Buddha. Dalam pengejaran panjang sampailah pasukan islam tersebut pada sebuah tempat bernama NGGEMBYANG (sekarang desa sebelah timur terminal giri). Bala tentara Buddha terus mengejar mereka hingga pasukan islam terdesak ke arah barat dan beristirahat disebuah tempat yg bernama SENGKRENG ( sekarang PASAR PON PADEG).[butuh rujukan]
Namun tentara Buddha tidak menghentikan pengejaran mereka hingga pasukan islam merangsek terus kebarat dan bersmbunyi disuatu tempat yang sekarang bernama Padeg. Dalam masa persembunyian mereka menyusun strategi agar dapat lolos dari pengepungan Buddha, maka pada suatu malam pasukan islam tersebut menyusuri sungai hingga sampailah mereka disuatu tempat yg sekarang bernama PENTASAN. Merasa situasi telah aman pasukan islam tersebut melanjutkan perjalanan kearah selatan dan beristirahat secara berurutan ditempat yg bernama SIKEPYAK dan SIWEDUS.
Cerita berlanjut hingga mereka sampai pada pemukiman kecil tak bernama. Pasukan islam kehabisan bekal dan meminta air minum pada penduduk disana. Namun penduduk kampung tersebut tidak memberikanya, mereka sangat kikir hingga membuat sang pemimpin pasukan islam igit-igitan dan menyebut mereka orang-orang sigit artinya orang-orang kikir ( mohon maaf ini cuma dongeng tempo doeloe ) Disini sang pemimpin islam berniat mendirikan masjid tetapi oleh penduduk sigit menyertakan syarat masjid sudah harus selesai sebelum ayam jantan berkokok (seperti cerita Roro Jonggrang).
Maka bekerja giatlah pasukan islam untuk menyelesaikan bangunan masjid dalam waktu satu malam. Namun upaya mereka gagal, pekerjaan belum selesai ayam jantan sudah berbunyi (kini sisa-sisa batu bata masih dapat dijumpai disigit). Karena upaya gagal pergilah mereka kearah timur, Sang pmimpin lalu bersemedi meminta pertolongan dari Yang maha kuasa, maka diperintahkanya membuat sumur yg akan dipergunakanya untuk bersuci atau berwudlu, Dengan sekali hujaman kaki ketanah maka jadilah sumur yang berlapis-lapis dan mengeluarkan air yang jernih. Tersebutlah tempat itu dgn nama sumur SUCEN(sekarang rw 4 sebelah utara) dan pasukan islam mendirikan langgar disana yg disebut langgar CANGKRING atau langgar yang disangga tiang-tiang yang tinggi (lokasi rw 4 sblah selatan timur). Langgar inilah yang diyakini sebagai langgar pertama di Gedang Kulut.
Menetaplah mereka disana bertani berkebun dan menanam satu tanaman primadona yang sangat dikagumi oleh manca kampung yaitu PISANG EMAS, maka mulailah pemukiman tersebut dikenal orang dengan sebutan kampung GEDANG PULUT yang berarti pisang emas yang sangat lezat dan istimewa. Gedang Pulut masa itu terus mengalami perkembangan hingga bergeser kebarat, munculah perkampungan baru yang disebut DUKUHAN Gedang Pulut (sekarang rw 6). Selanjutnya mereka membuat tatanan pemerintahan kala itu yang dipimpin oleh pimpinan pasukan islam. Dalam riwayat diceritakan sang pemimpin islam tidak memiliki keturunan, Dia kemudian mengangkat anak dan dianugerahi empat orang cucu yang kemudian mereka hidup berpencar satu di Gedang Kulut satu di BENJENG satu di BALONG PANGGANG satu di LAMONGAN.
Menurut cerita sang pemimpin islam tersebut menetap dan meninggal disini, jasadnya dimakamkan di kuburan pertama Gedang Kulut (sekarang JARATAN), benar atau tidak wallohu a’lam bswb.... Kampung Gedang Pulut inilah yang sekarang menjadi desa Gedang Kulut yg kita cintai bersama.
Percaya atau tidak Gedang Kulut ternyata pernah menjadi masyarakat yang saya istilahkan animism, yaitu penganut kepercayaan pada roh-roh halus yang disebut danyang-danyang desa. Seperti era 40 an, pada zaman itu orang belum mengenal islam seperti sekarang, konon sekitar tahun 40 an hingga tahun 60 an mayoritas penduduk Gedang Kulut mempunyai tradisi memuja-muja tempat-tempat yang di yakini keramat (di huni danyang-danyang desa).
Dulu itu eskitar tahun 40 an ada tiga titik tempat yang diyakini masyarakat pada masa itu sebagai tempat berdiamnya para danyang-danyang desa, yaitu:
1. logo (skrg telaga Paloma)
2. seget
3. sucen
Pada hari-hari tertentu mereka mengirimi tiga tempat tersebut dengan membakar merang padi sambil meminta doa, menurut cerita Telaga Paloma adalah tempat yang paling keramat dan paling banyak tempat pemujaanya, Telaga pengason ini memiliki tiga buah titik sakral berupa batu lumpang berukuran besar yang dinaungi oleh pohon asam besar pula.
Tradisi memuja muji tiga tempat ritual teresbut misalnya dilakukan oleh petani pengembala bahkan para pengantin baru, adat ini berlangsung lama hingga dihentikan karena pengaruh situasi politik nasional yakni runtuhnya paham komunisme di Indonesia.
Gedang Kulut masa Kolonial
Bagi masyarakat modern, Desa Gedang Kulut yang terletak di Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, mungkin tampak sebagai sebuah wilayah pedesaan yang letaknya agak masuk ke dalam (pedalaman) dari jalur utama lalu lintas metropolitan. Namun, jika lembaran arsip kolonial abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dibuka kembali, akan ditemukan sebuah fakta historis yang kuat. Wilayah yang kini terkesan tersembunyi ini, dahulu merupakan sebuah pusat administrasi birokrasi (ibu kota sub kecamatan kuno) dan urat nadi infrastruktur agraris yang memegang peranan sangat penting dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda.
Melalui triangulasi sumber primer yang otentik mulai dari dokumen tata negara (Regerings-almanak), dokumentasi kartografi militer, hingga surat kabar resmi sezaman tulisan ini akan mengurai eksistensi, kejayaan, dan transformasi geopolitik Desa Gedang Kulut secara kronologis.
Tahun 1879: Kedudukan Administratif dalam Regerings-almanak
Bukti tertua mengenai kedudukan administratif resmi Desa Gedang Kulut tercatat dalam dokumen administrasi tertinggi pemerintah Hindia Belanda, yaitu Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië tahun 1879 yang diterbitkan oleh Landsdrukkerij, Batavia. Dalam lampiran (Bijlage O) halaman 84*, pemerintah kolonial mencantumkan susunan wilayah administratif di seluruh Hindia Belanda.
Pada bagian Residentie Soerabaja, Afdeeling Lamongan, dan Regentschap Lamongan (pada masa itu), tercantum District Goenoeng-kendeng yang dipimpin oleh seorang wedana berkedudukan di Tjermoe (Cerme). Di bawah administrasi Asisten Wedana Cerme tersebut disebutkan beberapa desa utama, yaitu Gedang-koeloet, Metahoe (Metatu), dan Balong-panjang (Balongpanggang). Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa Gedang-koeloet telah menjadi satuan administrasi resmi pemerintahan Hindia Belanda paling tidak sejak tahun 1879.
Lebih lanjut, hasil penelusuran arsip kolonial melalui Delpher memperlihatkan bahwa nama Gedang-koeloet muncul secara konsisten dalam berbagai edisi Regerings-almanak dan publikasi pemerintah Hindia Belanda pada rentang 1877–1905. Konsistensi penyebutan ini menunjukkan bahwa Gedangkulut merupakan desa yang telah memiliki kedudukan administratif yang mapan selama masa kolonial. Dibandingkan desa-desa lain di wilayah yang kini menjadi Kecamatan Cerme, hanya beberapa desa seperti Cerme, Jambu, dan Gedangkulut yang telah tercatat dalam arsip resmi sebelum tahun 1900. Hal ini mengindikasikan bahwa ketiga desa tersebut termasuk permukiman yang telah berkembang lebih awal dan memiliki peran penting dalam struktur pemerintahan di kawasan tersebut.
Tahun 1883 (Januari): Status Elite Birokrasi Onderdistrict dalam Pers Kolonial
Dinamika posisi penting Gedang Kulut terus berkembang pesat memasuki dekade 1880-an. Rekam jejak koran sezaman memperlihatkan adanya fase di mana wilayah ini memegang status tinggi sebagai ibu kota subdistrik mandiri. Di bawah kolom pengumuman resmi surat kabar "Benoemingen, enz. CIVIEL DEPARTEMENT" (Pengangkatan Jabatan, dll. Departemen Sipil) edisi 30 Januari 1883, dimuat maklumat mutasi pejabat bumiputera sebagai berikut:
"...tot wedana van Rawa-poeloe I, regentschap Sido-ardjo, residentie Soerabaja, de assistent-wedana der eerste klasse van Gedong-koeloet, district Goenoeng-kending, regentschap Grissee, Raden Soerio Adi Ningrat."
Catatan ini menjadi bukti valid bahwa pada awal tahun 1883, Gedang Kulut (dieja Gedong-koeloet) telah mengasuh lembaga birokrasi setingkat Onderdistrict (Subdistrik/Kecamatan) di bawah Kabupaten Gresik (Regentschap Grissee). Wilayah ini dipimpin oleh seorang Asisten Wedana Kelas Satu. Dalam hierarki kepegawaian kolonial, pangkat "Kelas Satu" hanya disematkan pada wilayah yang sangat strategis, berpenduduk padat, atau memiliki potensi ekonomi tinggi. Fakta bahwa Raden Soerio Adi Ningrat dipromosikan langsung dari wilayah ini menjadi Wedana di Sidoarjo menegaskan posisi tawar Gedang Kulut yang strategis dalam tata praja kolonial pada masa itu.
Tahun 1883–1885: Keberadaan Gedang Koeloet dalam Peta Militer Belanda
Selain dokumen tertulis negara dan surat kabar, bukti kartografis sezaman juga memperkuat fakta keberadaan permukiman ini pada paruh pertama dekade 1880-an. Salah satu bukti otentik mengenai eksistensi geografis Gedang Koeloet dapat ditemukan dalam peta kolonial Belanda berjudul Kaart van Oost-Java: Derde Militaire Afdeeling, D.B. 5.1, Sheet 5. Peta ini disusun oleh J.W. Stemfoort dan J.J. ten Siethoff, direproduksi atas perintah Departement van Koloniën di Den Haag, serta diterbitkan dalam rangkaian Atlas der Nederlandsche Bezittingen in Oost-Indië pada periode 1883–1885.
Pada lembar peta yang mencakup wilayah Cerme dan sekitarnya, nama Gedang Koeloet telah dicantumkan secara jelas menggunakan ejaan Belanda lama. Selain Gedang Koeloet, peta tersebut juga menampilkan Djamboe (Jambu) dan Cermee (Cerme) sebagai permukiman utama di kawasan tersebut. Pencantuman nama-nama tersebut menunjukkan bahwa ketiga permukiman telah dikenal luas dan dianggap penting secara strategis untuk dimasukkan dalam pemetaan resmi militer Pemerintah Hindia Belanda. Peta ini menjadi salah satu sumber primer visual yang memperlihatkan keberadaan awal tapak geografi Gedang Kulut dalam dokumentasi kartografi kolonial Belanda yang sah.
Tahun 1903: Perhatian Terhadap Infrastruktur Pengairan Vital
Status birokrasi dan kedudukan administratif Gedang Kulut yang mapan sejak akhir abad ke-19 ternyata berbanding lurus dengan besarnya potensi agraris wilayah tersebut. Hal ini terbukti dari adanya intervensi dan investasi pemerintah kolonial terhadap infrastruktur pengairan di sana pada awal abad ke-20.
Berdasarkan pemberitaan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1903, Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin resmi untuk memperbaiki saluran pelimpah Waduk Gedang Kulut di Afdeling Gresik, Karesidenan Surabaya. Berita tersebut menunjukkan bahwa Waduk Gedang Kulut telah menjadi bagian penting dari sistem irigasi pemerintah kolonial pada awal abad ke-20 dan mendapatkan perhatian besar dalam pemeliharaan infrastruktur pengairan. Hal ini sekaligus mengonfirmasi alasan taktis mengapa wilayah ini dipetakan secara militer dan dicatat konsisten dalam dokumen negara: keberadaan waduk dan lahan agraris di sini sangat vital untuk menunjang logistik pangan kolonial.
Analisis Historis: Mengapa Sekarang Letaknya "Agak ke Dalam"?
Pertanyaan terbesar yang muncul bagi pengamat modern adalah: Mengapa wilayah yang sejak tahun 1879 tercatat konsisten sebagai pusat administrasi, memiliki infrastruktur waduk penting, serta masuk dalam peta komando militer ini sekarang berstatus sebagai desa dan letaknya agak masuk ke pedalaman?
Berdasarkan analisis rentang sejarah pasca-1903 hingga pertengahan abad ke-20, terdapat pergeseran lanskap tata ruang yang masif akibat modernisasi:
Pergeseran Jalur Transportasi Modern: Memasuki awal abad ke-20, pembangunan infrastruktur modern seperti jalur kereta api (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij / NIS) dan jalan raya aspal utama penghubung lintas Surabaya–Gresik–Lamongan dibangun membelah pusat Tjermoe (Cerme).
Dampak Aksesibilitas: Karena Cerme dilewati langsung oleh nadi transportasi modern, pusat pertumbuhan ekonomi, pasar, dan pemukiman baru secara masif memadat di Cerme.
Peleburan Wilayah: Akibat kebijakan efisiensi birokrasi kolonial, status kemandirian administrasi Onderdistrict Gedang Kulut akhirnya dicabut dan wilayahnya dilebur sepenuhnya di bawah Kecamatan Cerme. Gedang Kulut perlahan tertinggal di jalur sekunder perdesaan, sehingga secara geografis saat ini tampak seperti desa yang letaknya "agak ke dalam" jika diukur dari poros jalan raya utama abad ke-21.
Pemerintahan Desa
Gedang Kulut mulai mengenal jabatan kepala desa atau yang tempo dulu lazim disebut petinggi
Adapun sejarah mengingat & mencatat nama-nama petinggi / lurah dari terbentuknya hingga sekarang adalah sbb:
1. Seno
2. Markaban
3. Kaslan
4. Satuman
5. Sarkawi
6. M. Ali Mas’ud
7. Ahmad
Fasilitas Umum
Waduk
Waduk Gedang Kulut merupakan salah satu infrastruktur pengairan yang telah ada sejak masa Pemerintahan Hindia Belanda. Keberadaannya dibuktikan melalui pemberitaan dalam Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1903, yang menyebutkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin untuk memperbaiki saluran pelimpah (oeverlaat) yang rusak pada Wadoek Gedang Koeloet di Afdeling Gresik, Karesidenan Surabaya. Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pekerjaan perbaikan dilaksanakan menggunakan sistem daghuur (tenaga kerja harian) dengan biaya yang telah diperkirakan oleh pemerintah kolonial. Informasi ini menunjukkan bahwa Waduk Gedang Koeloet telah berfungsi sebelum tahun 1903, karena pada tahun tersebut pemerintah hanya melakukan perbaikan terhadap bangunan yang telah ada.
Keberadaan waduk tersebut juga dapat dipahami dalam konteks kebijakan pengelolaan sumber daya air pada masa kolonial. Memasuki awal abad ke-20, Pemerintah Hindia Belanda mulai memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pengairan, terutama setelah diterapkannya Politik Etis (Ethische Politiek) yang diumumkan pada tahun 1901. Salah satu pilar utama kebijakan tersebut adalah irigasi, di samping edukasi dan emigrasi, yang bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
Meskipun demikian, belum ditemukan bukti sejarah yang secara langsung menyatakan bahwa Waduk Gedang Kulut dibangun sebagai proyek Politik Etis. Justru, berita tahun 1903 memperlihatkan bahwa waduk tersebut telah ada dan sedang menjalani perbaikan pada masa awal penerapan kebijakan tersebut. Oleh karena itu, hubungan Waduk Gedang Kulut dengan Politik Etis lebih tepat dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah kolonial dalam pemeliharaan dan pengembangan jaringan irigasi, bukan sebagai bukti bahwa waduk tersebut dibangun pada masa atau sebagai hasil langsung dari Politik Etis.
Hingga saat ini, tahun pembangunan awal Waduk Gedang Kulut belum dapat dipastikan. Untuk mengetahui kapan waduk tersebut pertama kali dibangun, masih diperlukan penelusuran lebih lanjut terhadap arsip-arsip Pemerintah Hindia Belanda, seperti laporan Burgerlijke Openbare Werken (BOW), arsip Dienst der Waterstaat, Koloniaal Verslag, Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië, maupun dokumen teknis pengairan lainnya yang berpotensi memuat data mengenai perencanaan, pembangunan, atau pengelolaan Waduk Gedang Koeloet.
Hingga kini, Waduk Gedang Kulut tetap dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai penampung air dan sumber irigasi bagi lahan pertanian di sekitarnya. Selain menunjang kegiatan pertanian, waduk ini juga dimanfaatkan untuk budidaya perikanan air tawar sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan nilai historis dan fungsinya yang masih bertahan hingga sekarang, Waduk Gedang Kulut merupakan salah satu warisan infrastruktur pengairan yang layak diteliti lebih mendalam serta dilestarikan sebagai bagian dari sejarah perkembangan sistem irigasi di Kabupaten Gresik.