Gambus Selodang Siak adalah alat musik tradisional khas masyarakat Melayu dari Kabupaten Siak, Provinsi Riau, yang merupakan bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Riau Tahun 2020. Gambus Selodang Siak merupakan jenis alat musik yang sering digunakan pada penampilan tarian pertunjukan di area Istana Siak. Alat musik ini mengadopsi gambus Al-Ud dari Timur Tengah dan diyakini berpadu dengan budaya lokal, di mana kata "selodang" diambil dari bahasa Melayu Riau yang merujuk pada bentuk punggung instrumen yang menyerupai "seludang" atau pembungkus mayang kelapa. Gambus Selodang Siak sering digunakan untuk mengiringi tarian tradisional seperti Zapin Melayu Siak.[1]
Pembuatan Gambus Selodang Siak
Gambus selodang dibuat melalui proses pahatan dan tarahan yang dilakukan oleh pembuat atau perajin gambus. Gambus selodang ini dibuat menggunakan bahan baku pohon nangka dan kayu leban dan dilapisi kulit kambing. Ornamen fisik pada bagian kepala gambus selodang ini memiliki bentuk seperti kuda laut, kepala naga, dan burung serindit. Sedangkan pemutar dawai di bagian kepala gambus selodang dibentuk seperi buah nipah atau belimbing. Pada bagian ekor gambus juga terlihat unik dan berbeda. Di bagian ini dibuat semacam lekukan. Secara umum, gambus selodang ini terlihat lebih tebal dan lebar bila dibandingkan dengan jenis gambus Melayu lainnya.[1]
Bahan baku utama untuk membuat Gambus Selodang adalah kayu cempedak atau kayu nangka. Kayu ini dipilih sebab mudah dicari dan mampu menghasilkan bunyi yang elok saat dimainkan. Kayu nangka dibelah dua dengan panjang sekitar 110 cm. Bagian kepala dan lengannya masing-masing membutuhkan kayu sepanjang 30 cm. Bagian perutnya 40 cm dan 10 cm bagian ekor. Selanjutnya pola gambus mulai dirancang. Usai merancang pola, tujuh telinga gambus dilubangi sesuai dengan jumlah senar. Bagian perut dibentuk hingga bagian dinding tersisa 1 cm. Lalu bagian perut ditutup dengan kulit kambing.[2]
Cat pernis kayu dapat mendukung warna Gambus Selodang yang lebih alami. Butuh sekitar enam jam hingga catnya kering. Barulah dilakukan pemasangan senar pada telinga gambus. Proses terakhir adalah menyetem atau melaraskan musiknya. Kebutuhan nada tergantung pada pembuat, tidak ada pakem tertentu. Gambus Selodang dapat dimainkan dengan posisi berdiri, duduk bersila, maupun duduk di kursi. Tangan kanan memetik senar, sedangkan yang kiri menekan nada pada leher gambus. Selain memetik gambus, pemain juga dapat bernyanyi. Beberapa penabuh gendang kecil atau marwas juga dapat mengiringi.[2]
Bagian-bagian Gambus Selodang Siak
Gambus selodang memiliki tujuh dawai. Enam dawai ditala secara berpasangan. Sementara untuk dawai ketujuh atau dawai paling atas yang bernada paling rendah merupakan dawai tunggal. Keunikan yang paling nampak dari jenis gambus ini adalah tidak memiliki fret (ruas nada) seperti halnya pada gitar. Penetapan nadanya didasarkan rasa pitch para pemainnya. Bagian-bagian gambus selodang ini terdiri dari:
Cedak (penyangga senar)
Perut (bagian bawah yang menggembung)
Kulit (bagian atas yang datar dilapisi kulit kambing)
Lubang Bunyi (bagian atas yang datar untuk lubang resonansi)
Bentuk Gambus Selodang Siak diadopsi dari Gambus Al-Ud dari Timur Tengah, namun terdapat ciri-ciri yang membedakan antara keduanya, seperti bagian body utamanya dibentuk dengan proses pahatan yang terdiri dari kepala gambus, telinga untuk stelan tali gambus, leher gambus, perut gambus dan bagian ekor gambus. Untuk bagian perut Gambus biasanya ditutup menggunakan lembaran papan tipis yang umumnya menggunakan kayu jenis Keladang. Ada beberapa bagian gambus yang disertai dengan beberapa ayat-ayat Al-Qur'an di bagian kulitnya.[3]
Untuk memainkan Gambus Selodang ini dilakukan dengan cara dipetik dawai dengan tangan kanan sedangkan jari-jari tangan kiri bergerak menyesuaikan nada-nada yang diinginkan pada bagian lehernya. Selain memetik Gambus, para pemainnya juga bernyanyi lalu diiringi dengan beberapa orang penabuh gendang kecil yang disebut dengan Marwas. Setiap membawakan lagu yang menggunakan Gambus Selodang ini selalu berisi dengan nuansa Islami.[3][4]
12BM, Redaksi (2021-04-02). "Gambus Selodang Warisan Negeri Istana". Portal Berita LPM Bahana Mahasiswa (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-16.