Gertrudes Johannes "Han" Resink (11 Oktober 1911–4 September 1997) adalah penyair, eseis dan sarjanaIndonesia. Resink berasal dari keluarga berketurunan Indo. Orang tuanya mengoleksi berbagai benda seni Indonesia di rumahnya, dan ibunya sering dimintai sahabat-sahabatnya yang kaya untuk memperlihatkannya. Pendapatan dari situ digunakan untuk membiayai sekolah-sekolah wanita.
Menjelang Perang Dunia II, Resink aktif di Stuw-groep, suatu organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Hindia Belanda dan pembentukan negara konstitusional yang demokratis dengan tetap menjaga hubungan dengan Belanda. Resink menerbitkan karya-karyanya di De Fakkel, Oriëntatie, Indonesië, dan Ons Erfdeel.
Dalam sastra Belanda, Resink menduduki posisi yang unik. Ia merupakan satu-satunya orang di dunia sastra Eropa yang memasukkan napas kehidupan Indonesia. Sehingga, seperti yang dikemukakan oleh Rob Nieuwenhuys, sajak-sajak Resink mengandung kekuatan magis, tidak impresif, tetapi penuh akan kepercayaan lama dalam budaya di mana ia tinggal. Sekumpulan syair bahasa Belanda pertama kali muncul dengan judul Op de breuklijn, kemudian diperpanjang dalam karyanya Kreeft en Steenbok (1963). Pada tahun 1981Trans-cultureel terbit. Kebanyakan karyanya mengambil bentuk yang biasa digunakan di Eropa seperti quatrain dan soneta, tetapi sering kali dihiasi permainan kata yang mengejutkan. Puisi-puisinya mengingatkan orang pada karya-karya Paul Marie Verlaine dan Charles Pierre Baudelaire.
Studi sejarah hukumnya diterbitkan dalam buku Indonesia's History between the Myths (1968). Dalam karyanya itu, ia menolak mitos empat abad kekuasaan Pax Neerlandica di Kepulauan Hindia (Nusantara).
Kris Steyaert, Aangewaaid uit een vreemd land: de westerse poëzie van G.J. Resink, Tijdschrift voor Nederlandse taal- en letterkunde 119, no. 4 (2003), hal. 279-299
Dick Hartoko, Enkele Javaanse achtergronden in de poëzie van Han Resink, di Ons Erfdeel 18, no. 2 (Maret-April1975), hal. 184-189
Rob Nieuwenhuys, 1960, Over de dichter G.J. Resink, di De Gids; jil. 123, ed. 2 (Februari1960), hal. 127-132
Rob Nieuwenhuys, Oost-Indische Spiegel: Wat Nederlandse schrijvers en dichters over Indonesië hebben geschreven, vanaf de eerste dagen der compagnie tot heden, Amsterdam, 1978 (cetakan ke-3), (1972)
Vis, George, Niet-westers?; Iets over de poëzie van G.J. Resink, Michiel van Kempen, Piet Verkruijsse en Adrienne Zuiderweg (red.), Wandelaar onder de palmen. Opstellen over koloniale en postkoloniale literatuur en cultuur, Leiden2004, KITLV