Frasa eksosentrik
Frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak memiliki konstruksi sama dengan unsur atau kompenen pembentuknya. Artinya salah satu komponen dari frasa eksosentrik tidak dapat saling mengisi ketika dipisahkan. Frasa eksosentris mempunyai dua komponen. Komponen yang pertama berupa perangkai yang berwujud preposisi partikel dan komponen kedua berupa sumbu.[4] Frasa yang berperangkai preposisi disebut frasa preposisional atau frasa eksosentris direktif dan frasa yang berperangkai sumbu disebut Frasa eksosentris non-direktif.[5]
Frasa direktif
Pada dasarnya, frasa preposisional menunjukkan makna berikut.
- 'tempat', seperti di pasar, ke rumah dan pada dinding.
- 'asal arah', seperti dari kampung dan dari sekolah
- 'asal bahan, seperti (cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras
- 'tujuan arah', seperti ke Lampung, ke Kampus
- 'menunjukkan peralihan', seperti kepada saya, (percaya) terhadap Tuhan
- 'perihal', seperti tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya
- 'tujuan', seperti untukmu, buatku
- 'sebab', seperti karena, lantaran, sebab, gara-gara (kamu)
- 'penjadian, seperti oleh karena, untuk itu
- 'kesertaan', seperti denganmu', dengannya
- 'cara, seperti dengan baik, dengan senang
- 'alat' seperti dengan cangkul dan dengan traktor
- 'keberlangsungan', seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sarnpai nanti
- 'penyamaan', seperti selaras dengan, sesuai dengan, sejalan dengan
- 'perbandingan', seperti seperti dia, sebagai bandingan.[5]
Frasa non-direktif
Frasa eksosentris non-direktif yang pertama adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya memiliki perilaku yang sama dengan bagian-bagiannya, seperti si kancil, si terdakwa, sang kancit dan sang kekasih. Kedua, frasa yang seluruhnya berperilaku sama dengan salah satu unsurnya. Artinya, terdakwa dan kekasih memiliki perilaku sama dengan si terdakwa atau sang kekasih. Ketiga, frasa yang tidak memiliki perilaku yang sama dengan bagian-bagiannya, seperti yang mulya, yang besar dan yang hebat.[5]
Frasa endosentrik
Frasa endosentrik adalah frasa yang memiliki distribusi sama atau setara, sehingga ketika salah satu unsur dihilangkan, frasa tersebut akan tetap dapat digunakan.[6] Letak atau posisi komponen inti dapat terletak di depan, misalnya pada frasa suami setia, rumah bagus, pelari cepat, dan siswa rajin; dapat pula terletak di belakang, misalnya pada frasa lebih jauh, sangat rajin, sebuah kenangan, sedang mengajar, dan suka sekali.
Selain itu, frasa ini juga memiliki salah satu bagian yang disebut komponen atasan dan komponen bawahan. Kedua komponen ini disebutkan karena frasa endosentris memiliki distribusi sama dan salah satunya sebagai pendukung atau pembatas. Frasa koordinatif adalah frasa yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama atau sederajat. Karena bentuk yang sederajat, maka frasa ini dapat dihubungkan dengan konjungsi koordinatif tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun dan konjungsi lainnya.[4]
Frasa atributif
Frasa yang terdiri dari inti dan penjelas (modifikator).[7] Sehingga frasa ini mengandung hanya satu inti yang dapat didahului atau diikuti oleh modifikator. Inti dan modifikator dapat terdiri dari salah satu kelas kata, seperti nomina, verba, adjektiva, atau adverbia. Jadi, hanya ada satu unsur pusat atau unsur inti sedangkan unsur lainnya adalah atribut yang tidak setara karena tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan dan atau.[8] Misalnya mahasiswa rajin, perpustakaan umum, anak baik, dara cantik, rumah besar.
Frasa koordinatif
Frasa koordiinatif terdiri dari unsur pembentuk yang memiliki kata dengan kedudukan sama.[7] Sehingga unsur-unsurnya bisa dihubungkan dengan konjungsi koordinatif, misalnya kata dan, atau, tetapi (konjungsi tunggal) atau konjungsi terbagi seperti baik...baik, makin...makin, baik...maupun. Misalnya suami istri, pendidikan dan pelatihan, ayah ibu, makin cepat makin baik, dan baik sekarang maupun nanti.[8]
Frasa apositif
Frasa yang memiliki keterangan yang ditambahkan atau diperjelas.[7] Frasa ini identik dengan nomina (kata benda). Unsur-unsur pembangun frasa apositif itu memiliki kedudukan yang sama sehingga bisa saling menggantikan.[8] Misalnya, Siti Suharsih, anak Bupati Serang, kemarin sore melahirkan anaknya yang kelima di Rumah Sakit Umum Serang.