fossa /ˈfɒsə/ (jamak: fossae /ˈfɒsiː/) dalam nomenklatur planet adalah depresi panjang dan sempit (disebut juga parit) pada permukaan benda ekstraterestrial, seperti planet atau bulan. Istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti “parit” atau “trench”. Meskipun demikian, fossa bukan istilah geologi formal, melainkan istilah deskriptif yang digunakan oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dan Persatuan Astronomi Internasional (IAU) untuk fitur topografi yang geologi atau geomorfologinya belum sepenuhnya diketahui karena keterbatasan data atau pemahaman mengenai proses pembentukannya. Fossae diyakini terbentuk melalui berbagai proses geologi, seperti patahan atau penurunan kerak bumi. Banyak fossae di Mars kemungkinan besar merupakan graben.[1][2]
Fossae di Mars
Di wilayah kuadran Tharsis, terdapat parit-parit besar yang disebut fossae menurut terminologi geografis yang digunakan untuk Mars.[3] Parit terbentuk ketika kerak planet mengalami regangan hingga patah. Regangan ini dapat disebabkan oleh berat besar dari gunung berapi di sekitarnya. Penelitian menunjukkan bahwa gunung-gunung berapi di Tharsis menjadi penyebab utama terbentuknya sebagian besar fossae di Mars. Pusat stres yang menyebabkan fossae dan fitur tektonik lainnya berada di Noctis Labyrinthus, pada koordinat 4°S dan 253°E, meskipun lokasi pusat stres ini telah bergeser seiring waktu.[4][5]
Fossae dan pit crater umum ditemukan di dekat gunung berapi dalam sistem Tharsis dan Elysium.[6] Sebuah parit sering memiliki dua patahan dengan bagian tengah bergerak turun, sehingga sisi-sisinya membentuk tebing curam; parit seperti ini disebut graben.[7] Di Bumi, contoh graben adalah Danau George di New York Utara. Kadang-kadang, garis lubang terbentuk ketika material runtuh ke dalam rongga yang muncul akibat regangan kerak. Pit crater tidak memiliki tepi atau material efluks seperti pada kawah benturan. Penelitian menunjukkan bahwa di Mars, patahan dapat sedalam 5 km. Selain itu, retakan atau patahan kadang melebar (dilate), membentuk rongga berukuran relatif besar. Material yang jatuh ke rongga ini akan membentuk pit crater atau rantai pit crater. Di Mars, pit crater individu dapat bergabung membentuk rantai atau bahkan parit yang kadang memiliki tepi bergelombang.[8]
Beberapa teori lain juga diajukan mengenai pembentukan fossae dan pit crater. Terdapat bukti bahwa fitur ini terkait dengan dike magma, yang bergerak di bawah permukaan, memecah batuan dan melelehkan es, sehingga retakan muncul di permukaan. Fenomena serupa, berupa dike akibat regangan tektonik dan magma, juga ditemukan di Islandia.[9] Di Bumi, pit crater jarang ditemukan. Fenomena yang mirip adalah amblasan, yaitu lubang akibat permukaan tanah runtuh, biasanya terbentuk di area yang kaya batu kapur yang larut dan membentuk rongga.[8][10] Pemahaman mengenai lokasi serta mekanisme pembentukan pit crater dan fossae memiliki relevansi dalam perencanaan eksplorasi Mars di masa depan, fitur tersebut diperkirakan berfungsi sebagai reservoir air.[11]